Menyerah Nih?
Posted by Darwis Suryantoro on December 14, 2011
Bagaimana kesetiaan mampu merajut asa, sementara perihnya menandak-nandak hati, dan geloranya menusuk-nusuk jiwa? Tidak ada kekuatan lagi untuk mempercayai, tidak ada kesempatan lagi untuk berbenah, tidak ada cinta, hilang sekejap kerlipan mata. Dilupakan, tenggelam dalam palung terdalam, menembus batas terdalamnya nadi, terkumpulnya trombosit, tertampungnya merah dalam jantung yang selalu mengejar-ngejar, berjibaku dalam lingkaran kesetiaan yang tercampakkan, kesetiaan yang tak mampu memecah karang di lautan, kesetiaan yang dipatahkan, dihancurkan bersama ketulusan hati.
Saat kondisi tersulit menghadap. “Menyerah nih?” Lantas aku menjawab, “engga, aku engga menyerah kok.” Bagaimana aku harus berjuang, sementara ragaku memburu bayang-bayang, dan pikiranku mengembara tiada arah. Lantas apa maksud pertanyaan itu? Aku masih bertanya-tanya, entah sampai kapan, sampai ajal menjelang.
Masih adakah cinta yang disebutkan Cinta, bila kasih sayang kehilangan makna? Ternyata mengagungkan cinta, harus ditebus dengan duka-lara… Tetapi akan tetap kuhayati, hikmah sakit hati ini. (Ebiet G. Ade – [tidak untuk dinyanyikan]).




