Darwis untuk Indonesia

"Raihlah ilmu, dan untuk meraih ilmu belajarlah untuk tenang dan sabar." (Ummar bin Khattab, R.A)

Archive for the ‘Memory & Experience’ Category

Cita-citaku, Ingin menjadi Sopir

Posted by Darwis Suryantoro on February 22, 2013


Lho? Assalaamu’alaikum dulu yaa….

Ngelihat judulnya saja, agag aneh yah? Masa’ Mas Darwis yang sekolah sampai ke perguruan tinggi pengen jadi sopir? Beneran nih? Eaaa, bener ^_^. Tapiii, baca dulu yah, biar ngeh maksudnya sopir yang bgemana ;p.

Dulu, sewaktu aku masih kecil, kecil banged nih, seberapa yah? Humm, masa-masa balita deh pokoknya. Aku, sering ngikut ke kelas pas bapak mengajar. Beliau mengajar di salah satu sekolah dasar di Jember, Jawa Timur. Waktu itu, bapak masih muda, gayanya kayak Rambo, badannya berotot banged, gag kayak aku yang chubby (perutnya).

Nah, biasanya bapak datang pagi-pagi, dah siap di dalam kelas sebelum pelajaran pagi dimulai. Btw, bapak ituuu, dulunya pengen jadi Insinyur Mesin, tapiii gag kesampaian, kasian yah… Kaciaan dech Luuu… (Ooops, muuph ea Pak ^_^). Celakanya, aku ngikutin beliau sampe ke kelas. Lha, ngapain? Jadi kernet :( .

Kernet itu kan, berdiri di samping pintu bis gitu, ya kan? Nah, aku melakukan hal yang sama, tapiiii beda, coz bukan berdiri di pintu bis, tapi berdirinya di pintu kelas. Huwaaa, kebayang bagaimana nakalnya aku waktu itu.

Malang, Malang… Malang… Langsung… Ayo cepaaat!

Biasanya sih trayeknya kalo gag ke Malang ya ke Banyuwangi, coz rumah kakek-nenekku ada di sana. Naahh, aku ngomong kaya’ kernet gitu sampe murid-muridnya bapak masuk kelas semua. Kalo dah pada masuk, yah aku bilang “Yhooooo”, artinya “berangkat”. Nah, kalo udah bilang begitu, biasanya aku diem (udah gag nakal lagiii). Tapi ituuh, hampir berjalan tiap hari. Karena ulahku ini, murid-murid bapak yang diajar beliau waktu itu, masih ingat aku, walaupun aku gag ingat mereka (asyik yah punya fans ^_^).

Waktuuu terus berjalan, nahh semakin dewasa (ciyehh dewasa katanya….), aku semakin sedikit agag kreatif (Lho, apa itu sedikit agag kreatif? Bahasa lain dari frase ituuh adalah “lumayan”. Gag nyambung yaa? ;p). Tempat tidurku waktu itu, bukan sepering bett, tapiii penampangnya dari divan. Divan ituuu bahasa enggres dari dipan. Amben… ambeen… Masa’ gag ngerti? Nah, di antara kasur & dipan kan ada celah tuh. Aku masukin yang namanya sisir a.k.a suri di antara keduanya. Lho buat apa? Buat porseneleng ^_^. Lha, trus setirnya pake apa? Biasanya siii, aku pake buku, atau baki tempat yang buat bawa minuman itu lohh…

Ton…. Toooon… Ton.. Ton…

Itu suaraku menirukan suara klakson bis ;p. Ambisi bangeddd…. Ortu itu sampe khawatir, jangan sampai anaknya bener-bener jadi sopir. Haduwh, cp d. Ini nulisnya juga capek :( . Ntar, aku ambil air putih dulu…..

Kelakuan macam begini aku lakukan hingga beranjak ke sekolah dasar. hal-hal yang paling indah adalah ketika aku duduk di sepanjang kelas 4 sampai kelas 6 SD. Ketika dalam pelajaran kesenian dan guru memerintahkan untuk menggambar bebas, maka apa yang aku lakukan adalah menggambar….. BIS, ahahaha….. Di antara beberapa perusahaan otobus yang aku gambar adalah PO Akas, Mila Sejahtera, Lorena-Karina, Tjipto, Harapan Jaya, dan Kramat Djati. Heheh, entah di mana gambar-gambar bus itu sekarang.

Bus Gunung Harta, Denpasar-Malang

Bus Gunung Harta, Denpasar-Malang

Humm, inilah…. Futu pas di Bali tahun 2011, pake Bus Gunung Harta ^_^.

Tapi, apa yang semua aku ceritakan di sana bukan berarti cita-citaku pengen menjadi sopir bis sungguhan, tapi aku ingin menjadi sopir bagi:

  • Diriku sendiri
  • Keluarga kelak
  • Perusahaan/ oragnisasi

Sopir yang berarti pemimpin, menjadi seorang pemimpin yang bermanfaat, berguna, adil, bersahaja, berkharisma, dan bijaksana. Eciyeee… ;p Cemungudth eaa…. ^_^.

Posted in Memory & Experience | Tagged: , | Leave a Comment »

Pesan Ayah: Ringankanlah Kesalahan Orang Lain

Posted by Darwis Suryantoro on January 1, 2013


wiseman

Papa with Me

Satu yang tak pernah kulupa dari banyak kalimat ayah yang menginspirasi adalah: “Ringankanlah kesalahan orang lain.”  Yup, adalah bagaimana cara kita bersikap ketika orang lain sedang menyakiti kita, atau berbuat kesalahan kepada kita, atau bahkan menghambat saat kita tengah berusaha berbuat kebaikan untuk sesama.

Ayah tak sekedar mengucapkan kata-kata tersebut untuk anak-anaknya, namun beliau sendiri benar-benar mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Ia selalu menjadi solusi dalam menyelesaikan masalah bersama. Sontak saja, pengalamannya yang lebih dari 30 tahun mendidik para pelajar, membuatku menjadi mengerti, betapa pentingnya arti kesabaran dan bijaksana.

Ayah, ini benar-benar menjadi pelajaran berharga bagiku. Bahwa memberi maaf adalah sebuah kemuliaan. Bahwa menghargai adalah sebuah toleran. Bahwa berbuat baik adalah sebuah keindahan. Dan pribadimu yang tanpa pamrih, mengajarkanku bahwa keihklasan akan berbuah keberhasilan.

Betapapun setiap sakit yang kurasakan dari orang-orang sekitar, pribadiku belum mampu mengalahkan ketangguhan, kesabaran, dan keikhlasan jiwamu. Tentu ini bukan karena aku tak mengerti apa yang kau maksud, Ayah. Namun ini adalah sebuah pengakuanku bahwa engkau telah lebih banyak terlibat dalam menghadapi kerasnya hidup, bahwa engkau lebih banyak menghadapi cacian, hujatan, dan kerasnya orang-orang yang ingin menjatuhkan tahta kebaikan lakumu.

Ayah, bahkan engkau masih sempat tersenyum ketika fitnah datang kepadamu. Bahkan engkau masih SEMPAT tersenyum ketika fitnah datang kepadamu. Bahkan engkau masih sempat TERSENYUM ketika fitnah datang kepadamu, Bahkan engkau masih sempat tersenyum KETIKA FITNAH DATANG KEPADAMU.

Rasululloh dengan teladannya juga mengajarkan bagaimana sikap kita terhadap orang yang berbuat tidak berkenan kepada kita. Sebagaimana pengalaman Anas bin Malik ketika bersama Rasululloh, ia berkata:

Aku pernah berjalan bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang ketika itu beliau mengenakan selendang yang tebal dan kasar buatan Najran. Kemudian seorang Arab Badui datang lalu menarik beliau dengan tarikan yang sangat keras hingga aku melihat permukaan pundak Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berbekas akibat kerasnya tarikan selendang itu. Lalu orang itu berkata, “Berikanlah aku harta Allah yang ada padamu.” Kemudian beliau memandang kepada orang Arab Badui itu seraya tertawa, lalu beliau memberikan sesuatu kepadanya. (HR. Al-Bukhari No. 5809 dan Muslim No. 1057).

Posted in Memory & Experience, Reflection | Leave a Comment »

Taqobalalloohu Minna Wa Minkum

Posted by Darwis Suryantoro on August 21, 2012


Suasana Idul Fitri tahun ini adalah untuk pertama kalinya bagiku tidak bersama dengan keluarga. Namun aku bersyukur, Alloh masih memberiku kesempatan untuk beribadah, sebagai bekal hidupku di kehidupan setelah di dunia kelak. Taqobalalloohu minna wa minkum: Semoga Alloh menerima (amalan) dari kami dan dari kalian.

Tahun ini aku menikmati indahnya hari kemenangan di sebuah kota di wilayah Tengah Timur Indonesia (bukan Timur Tengah, red), tepatnya di Makassar, kota yang mempunyai penetrasi ekonomi yang cukup tinggi di Indonesia (untuk data pertumbuhan ekonomi, silakan googling). Bahkan, Makassar sudah disebut sebagai Kota Metropolitan.

Seperti biasa, selama aku mengunjungi 3 kota metropolitan di Indonesia (yaitu: Surabaya, Jakarta, dan Makassar), ternyata mempunyai kemiripan yang sama persis, adalah ketiganya sama-sama kota bercuaca panas. Yup, puanas beuud. Situasi seperti ini tentu saja mempengaruhi kondisi fisik dan psikis penduduknya. Kecenderungan bagi penduduk yang tinggal di wilayah bercuaca panas adalah sensitivitas terhadap emosi dan kepribadian masyarakatnya. Jika dibandingkan dengan Surabaya, masyarakat di Jakarta dan Makassar lebih banyak membunyikan klakson di malam hari. Entah ini karena faktor budaya atau emosi.

Namun overall, Makassar adalah kota yang bagus, parameternya adalah pertumbuhan ekonomi yang begitu pesat dan orang-orangnya banyak yang berkarakter (jadi ingat model pendidikan berkarakter sewaktu aku mengajar di salah satu sekolah kejuruan di Malang dulu).

Tinggal di Makassar membuatku jadi lebih sabar, setidaknya (Insya Alloh) menambah kredit pahala selama Bulan Ramadhan 1433 Hijriah ini. Betapa tidak, aku harus bersabar tidak bisa berkumpul dengan keluarga selama Hari Lebaran, bersabar dengan cuaca yang lebih panas dari tempat tinggalku sebelumnya, bersabar dengan banyak godaan makanan khas (yang enak-enak, wkwkwk) selama proses dietku, hmm apalagi yaa? Bersabar dalam merajut asa dan menjalin mimpi. Hmm, satu lagi, bersabar menunggu sesuatu yang belum tercapai ^_^. (Alhamdulillah eaa, sesuatu… wkwkwk).

Tanggal 1 Syawal, aku melaksanakan Sholat Ied di Lapangan daerah Karebosi. Ternyata masyarakat di sini kompak banget, karena kegiatan sholat dilakukan terpusat. Hmm, karena (mungkin )dihadiri oleh puluhan ribu masyarakat, jalan protokol kota ditutup. Alhamdulillah, tertib sekali. Sekembalinya dari sholat, aku menunggu saudara yang akan menjemputku di hotel. Yup, saudaraku yang dari Banyuwangi itu ternyata menikahi perempuan keturunan Bugis, diajaklah aku ke rumah mertuanya di daerah Todo Puli Lima. Apa yang aku dapat? Makanan lagi (ahahaha, tahu ajah perut lagi keroncongan). Hmm, ada makanan mirip lontong, tapi rasanya beda, lebih gurih daripada lontong yang ada di Jawa. Namanya aku lupa, pokoknya ada suku kata “ras ras” gitu. Tapi bener deh, enak banget ini, kalo range nilai 5-10, aku kasih 8,5 (maknyoss).

Ngomong-ngomong tentang makanan, ada yang namanya Konro nih. Ada Konro Bakar dan ada yang pake kuah. Konro kalau di Jawa sama dengan daging iga. Aku nyoba Konro Bakar Karebosi, rasanya cikiciew, ueenak beuud. Coba dech liat foto aku di bawah!

Nyam-nyam with Konro Karebosi Makassar

Ada lagi tuh makanan yang namanya rada aneh, yaitu Palu Basah. Pertama mendengarnya, aku langsung ngeri, coz dalam pikiranku kok ada palu yang dimasak ya? Ternyata eh ternyata, di Makassar, “palu” itu artinya masakan lhoo, OMG. Dari presentasi, masakan itu mirip rawon, tapi dari segi rasa, engga sama seperti rawon. Hmm, tapi enak juga sih (apa sih yang engga enak di lidah Darwis? Semuanya enak, hahaha dasar, lho? Jangan salahkan lidah gue yaa).

Dari ketiga macam masakan soto yang pernah aku makan seumur hidupku sampai saat ini (Soto Madura, Soto Banjar, Coto Makassar), yang paling nendang di perut yaitu Soto Banjar. Coto Makassar kuanya lebih mirip rawon, kalau range nilai berdasarkan kemampuan rasa di lidahku adalah 8 (skala 1-10).

Apa lagi yaa? Oh iya, kalau minuman, ada yang namanya Pisang Ijo, ini juga lumayan buat mata yang rada bermasalah, secara pisang kan mengandung vitamin A. (Anak TK juga udah tahu Mas kalau pisang mengandung vitamin A. Cpd).

Satu lagi nih masakan Makassar punya, Kepala Ikan Kakap, muangstab Gan! Ini masakan Pertamax gue disamping Konro Bakar. Masya Alloh dech, perut ane sampai dibikin nge-fly, kebanyakan sambelnya hahaha.

Kata orang-orang sini, Nasi Goreng Merah juga khas Makassar. Muerah beud, Bro! Mungkin ini kali ya, orang-orang sini mempunyai daya juang yang tinggi. Pantesan pas gue makan, gue merasa jadi berani, semangat, and berenergi, Bro! (Iyaa, soalnya Elo kan belum makan sehariaaan, main embat ajah tuh perut). Hahaha, iyah, iyah ^_^v.

Oke dech, sementara ini dulu laporan dari Makassar. Semoga bermanfaat. (Lho, Mas…. Ini judulnya sama isinya kok engga nyambung yaa???). Oh iyah, muuph, muuph, soalnya aku belum makan siang nih, jadi kepikiran makanan ajah dari tadi. Baiklah… Saya, Darwis. Saya, Suryantoro: Bersama membangun bangsa! Selamat Idul Fitri 1433 Hijriah, Taqobalalloohu minna wa minkum, mohon maaf lahir batin. MERDEKA!

Posted in Memory & Experience | Tagged: , | 7 Comments »

Menyerah Nih?

Posted by Darwis Suryantoro on December 14, 2011


Bagaimana kesetiaan mampu merajut asa, sementara perihnya menandak-nandak hati, dan geloranya menusuk-nusuk jiwa? Tidak ada kekuatan lagi untuk mempercayai, tidak ada kesempatan lagi untuk berbenah, tidak ada cinta, hilang sekejap kerlipan mata. Dilupakan, tenggelam dalam palung terdalam, menembus batas terdalamnya nadi, terkumpulnya trombosit, tertampungnya merah dalam jantung yang selalu mengejar-ngejar, berjibaku dalam lingkaran kesetiaan yang tercampakkan, kesetiaan yang tak mampu memecah karang di lautan, kesetiaan yang dipatahkan, dihancurkan bersama ketulusan hati.

Saat kondisi tersulit menghadap. “Menyerah nih?” Lantas aku menjawab, “engga, aku engga menyerah kok.” Bagaimana aku harus berjuang, sementara ragaku memburu bayang-bayang, dan pikiranku mengembara tiada arah. Lantas apa maksud pertanyaan itu? Aku masih bertanya-tanya, entah sampai kapan, sampai ajal menjelang.

Masih adakah cinta yang disebutkan Cinta, bila kasih sayang kehilangan makna? Ternyata mengagungkan cinta, harus ditebus dengan duka-lara… Tetapi akan tetap kuhayati, hikmah sakit hati ini.  (Ebiet G. Ade – [tidak untuk dinyanyikan]).

Posted in Memory & Experience, Reflection | Leave a Comment »

Alhamdulillah, Inilah Hikmah Dikecewakan

Posted by Darwis Suryantoro on December 5, 2011


Ya Allah Yaa Rabb, berikanlah jalan kemuliaan dan kebaikan, serta petunjukMu yang paling lurus bagi muslim/ muslimah siapapun yang pernah menyakitiku.

Allah, aku bersyukur atas semua nikmat dan karuniaMu. Kuharap Engkau memaafkan semua kekhilafanku ini. Hari ini aku bersyukur kepadamu atas semua isyarat yang telah Kau tunjukkan kepadaku. Sebelum aku jauh melangkah, Engkau telah memberikan peringatan yang sangat berarti buatku.

Hari ini pula ingin kusampaikan kepada dunia bahwa bersabar adalah kunci menuju kebahagiaan selanjutnya, bahwa ikhlas adalah kunci menuju ketentraman hati berikutnya, bahwa jujur adalah kunci keanggunan diri dan kesuksesan dunia akherat.

Tidak setiap orang memberikan kesempatan kepada kita untuk menunjukkan semua kebaikan kita terhadap orang yang dituju. Celakanya adalah, ketika kita berbuat kesalahan satu saja yang kiranya manusia mampu memaafkan, malah dianggap hilang semua kebaikan kita di masa lalu. Iya, benar, pernahkah kita dilupakan orang begitu saja ketika kita berjuang dan berkorban untuk kebaikannya? Pernahkah kita dikorbankan untuk menjadi yang terlupakan ketika orang lain memintanya untuk melupakan semua kebaikan kita?

Aku ingin beritakan kepada dunia bahwa komitmen adalah janji yang kuat, dan itu berarti hutang ketika kita tidak berniat dan bersungguh-sungguh memperjuangkannya, apalagi melupakannya. Inilah dua peristiwa besar berkaitan dengan komitmen yang terpatahkan, lebih tepatnya dipatahkan. Dipatahkan karena ia melupakan semuanya, meniatkan untuk melupakan semuanya, meniatkan diri untuk melupakan semuanya, meniatkan diri untuk melupakan semuanya… Fa haarun ‘alaikum bagi siapapun yang telah memperlakukan aku seperti ini. Dan aku benar-benar memohon kepada Allah untuk menyadarkannya, melalui peringatan-peringatan yang sekiranya kelak mampu ia pahami, apa itu arti komitmen, sehingga peristiwa yang ia alami, membuatnya lebih menjaga dan mengerti, bahwa setiap orang butuh untuk dihargai, dan ia dapat memanusiakan manusia. Semoga ia menjadi lebih baik atas semua peringatan dan pelajaran yang Insya Allah akan dialami olehnya.

Sungguh aku tidak memiliki rasa dendam yang berkepanjangan. Aku hanya memohon kepadaNya, kepada Rabbku yang memiliki segala kuasa, agar sekiranya ia mengerti, ia memahami, dan mampu mengambil resiko dan hikmah, atas apa yang pernah ia janjikan kepadaku sebagai niat yang baik, namun ia patahkan, lagi-lagi dengan pernyataan yang hanya menyandarkan kepada kepentingannya sendiri, melupakan semuanya.

Allah, aku jadi mengerti,

bahwa tidak setiap pengorbanan yang aku lakukan harus terbalaskan oleh orang yang aku berkorban kepadanya, bahwa tidak setiap perjuangan yang aku lakukan harus mendapat penghargaan oleh orang yang aku berjuang untuk kebaikan dan kebahagiaannya.

Allah, jadikan kepada siapapun yang pernah mengecewakanku, menjadi lebih baik atas semua peringatan dan pelajaran yang Kau berikan kelak (sungguh aku tak mengetahui apa yang akan terjadi di masa mendatang karena ini adalah ketentuanmu Ya Rabb). Namun berserahku kuwujudkan dengan doa-doaku kepadaMu Yaa Rahiim, sebagai seorang hamba yang lemah dan merasa terdzalimi atas semua perlakuan seseorang yang pernah melukai dan mengecewakanku.

Ya Allah, ternyata mencari ilmu ikhlas itu sangatlah berat. Kuasakan kepadaku Ya Allah, sampaikan ilmu itu menembus palung hatiku dan inti pikiranku, sehingga berserahku terhadap semua masalahku adalah total kepadaMu… Allah, aku ingin semua yang terbaik dariMu, bimbinglah aku menuju jalanMu yang paling lurus Yaa Rabb, Ihdinas shiraatal mustaqiim, wa irhamna yaa arhamar raahimiin. Allahumma amin…

Posted in Memory & Experience, Reflection | Tagged: | Leave a Comment »

Tangisan Ukhuwah

Posted by Darwis Suryantoro on November 19, 2011


Tulisan ini ditujukan untuk siapapun yang ingin dimengerti tapi tak pernah punya rasa untuk mengerti, untuk siapapun yang ingin dikasihi tapi tak pernah punya rasa untuk mengasihi, untuk siapapun yang menginginkan dikasihani tapi tak punya rasa mengasihani, untuk siapapun yang mendamba-dambakan pentingnya ukhuwah dan silaturrahim namun ia sendiri tak menjunjungnya dengan baik, untuk SIAPAPUN YANG INGIN MELUPAKAN SEMUA KEBAIKAN SESEORANG DALAM IKATAN UKHUWAH ISLAMIYAH, untuk siapapun yang pernah berkata: “Apa sih maunya orang itu? aku udah niat untuk melupakan semua.” (Inikah yang disebut dengan kelembutan hati? Ya Allah, sungguh kasar perkataan ini).

———————————————————————————————————————————–

Seperih rasa sakit.. Sungguh, jauh berbeda dari hari sebelumnya. Rasanya, air mata tak ingin berdiam diri, melepas diri, menangis. Dan aku tahu, saat itu, ada perih yang terasa menyayat hati. Dan aku paham, ukhuwah itu tidaklah sunyi dari uji.

“karena saat ikatan melemah, saat keakraban merapuh

Saat salam terasa menyakitkan, saat kebersamaan serasa siksaan

Saat pemberian bagai bara api, saat kebaikan justru melukai

Aku tahu, yang rombeng bukan ukhuwah kita

Hanya iman-iman kita yang sedang sakit, atau mengerdil

Mungkin dua-duanya, mungkin kau saja

Tentu lebih sering, imankulah yang compang-camping ,,, “

(Salim A Fillah )

Yah, benar..

Imanku sedang sakit, amalanku menurun dari semangat

Yah benar..

Akulah yang sebenarnya tersalah, akulah  yang pantasnya terdakwa.

Begitulah ukhuwah, atmosfer yang terkadang berganti. Menyengat, menyayat hati hingga sesekali menghalau air mata yang menandakan kesedihan.

Mungkin, aku yang tak paham bahwa sahabatku juga tak  lepas dari ujiNya. Hingga terkadang sedih menyergapnya, masih saja kutambah dengan ketidakpahamanku. Dan sungguh, aku juga tak lepas dari ujiNya. Hingga terkadang sedih sedang berhadir bertemu dengan ketidaktahuanmu. Dan akhirnya, harus kita tahu, ukhuwah itu sedang diuji. Saat ketidakpahamanku  dan ketidaktahuanmu menyatu tanpa melebur. Kita mungkin tahu, tapi tidak mau tahu.

Apakah cinta dalam ukhuwah itu ada hanya ketika hati  tentram?

Apakah cinta dalam ukhuwah itu hadir hanya saat hati bahagia?

Lalu, kemana ia saat hati gerah memanas?

Lalu, kemana ia saat hati tangis memerih?

Mungkin, ia lagi bersembunyi, menghilang.

Mungkin akan kembali, mungkin tidak.

Begitulah ukhuwah, ia tak sepi dari uji.

Begitulah sakitnya rasa cinta dalam ukhuwah, kala ia tak lagi sama dengan sebelumnya, hati terasa memerih, memerah tangis. Kala kata-kata mulai tidak seperti biasanya, segeralah hati merundung sedih. Kalau lah tidak ada rasa cinta, sungguh itu takkan terjadi, namun apakah harus bahagia atau bersedih?

“Abu Bakr bersimpuh lalu menggenggam tangan sang Nabi. Ditatapnya mata suci itu dalam-dalam. ‘antara aku dan putra Al-Khattab,’ lirihnya, ‘ada kesalahpahaman. Lalu dia marah dan menutup pintu rumah. Aku merasa menyesal. Maka ku ketuk pintunya, kuucapkan salam berulangkali untuk memohon maafnya. Tapi, dia tidak membukanya, tak menjawabku, dan tak juga memaafkanku.’

Tepat ketika Abu Bakr berkisah, ‘Umar ibn Khattab datang dengan resah. ‘sungguh aku di utus pada kalian,‘ sang nabi bersabda menghardik, lalu kalian berkata, ‘engkau dusta!’

Wajah beliau tampak memerah, campuran antara murka dan rasa malunya yang lebih dalam dibanding gadis dalam pingitan.

‘hanya Abu bakr seorang,‘ sambung beliau, ‘yang langsung mengiyakan,‘ engkau benar ! ’lalu dia membelaku dengan seluruh jiwa dan hartanya. Masihkah kalian tidak takut pada Allah untuk menyakiti sahabatku?’

‘Umar berlinang, beristighfar dan berjalan bersimpuh mendekat. Tetapi tangis Abu Bakr lebih keras, derai air matanya bagai kaca jendela lepas. ‘tidak ya Rasulullah. Tidak. Ini bukan salahnya,‘ serunya terpatah-patah isak. ‘Demi Allah akulah yang memang yang keterlaluan.‘ lalu dia pun memeluk ‘Umar, menenangkan bahu yang terguncang. Mereka menyatukan rasa dalam dekapan ukhuwah, menyembuhkan luka.“

Dan lihatlah, insan-insan terbaik ini pun tak lepas dari uji dalam ukhuwah mereka. Dan begitu pun kita, dan disini aku berada di posisi ‘Umar yang (mungkin) menyakiti hambaNya, dan disini aku berada di posisi Abu  Bakr yang (mungkin) memang keterlaluan.

“Masihkah aku tidak takut menyakiti hamba Allah yang dicintaiNya, yang berkorban di jalanNya?“

Sungguh, sebenarnya aku takut. Semoga aku berada diantara kemaafan sahabat-sahabatku atas ukhuwah yang belum kutunaikan haknya. Dan ketahuilah, kita hidup dalam kemaafanNya.

Ya Rabb..

Izinkan aku mencintai sahabat-sahabatku baik di kala ia ridho atasku dan baik di kala ia enggan atasku..

Izinkan aku mengasihi sahabat-sahabatku baik di kala ia bahagia denganku dan baik di kala ia benci denganku..

Izinkan kami mencintai karenaMu, hingga ujian dalam ukhuwah ini bisa kami lewati dengan kefahaman kami dan keridhoanMu.

fimadani dot com

Posted in Memory & Experience | 1 Comment »

Ibu, aku ingin bersanding…

Posted by Darwis Suryantoro on November 16, 2011


Ibu, sudah hampir sepuluh tahun kita tak terbiasa hidup bersama. Aku menangis ketika kau lepas aku di kota yang aku kesepian tanpa kehadiranmu, terasa jauh Bu, terasa menyesakkan dada. Ibu, aku tahu engkau selalu merindukanku…

Ibu, aku rindu seduhan susu di setiap pagiku. Ibu, aku rindu ketika engkau mengingatkanku untuk sholat tepat waktu. Ibu, aku ingin eskrim, aku ingin baju baru, celana baru, sepatu baru.

Posted in Memory & Experience, Reflection | Leave a Comment »

Ibu, aku pulang

Posted by Darwis Suryantoro on October 24, 2011


Kamis, 20 Oktober 2011 di kala pagi aku menangis, tak jelas mengapa, tak seperti biasanya. Keyakinan ini adalah bahwa kekecewaan akan berbuah keindahan. Kuhentikan sejenak langkahku, aku teringat sosok yang sangat mencintai kelemahanku, mencintai kekuranganku. IBU. Hanya ibu yang satu-satunya makhluk Allah yang mencintai kita apa adanya.

Ibu, di kala aku sakit, kau adalah perantara satu-satunya yang dikirim dari langit untuk membantu menyembuhkanku atas ijinNya. Ibu, di kala aku jatuh, kau adalah satu-satunya perantara yang dikirim dari alam kedamaian untuk mendamaikan hatiku, memberiku semangat. Ibu, kau adalah favoritku, impian-impianku melambai selalu, ingin kurengkuh bersama dirimu.

Ibu, aku menangis saat menulis cerita ini, aku hanya ingin mengatakan, bahwa aku hari ini sakit Bu, aku ingin selalu di sampingmu… Tapi aku tak mau kau merasakannya juga… Biarlah pesanku kusampaikan pada Allah, Rabb kita Bu, yang menyatukan kita….

Ibu, aku ingin pulang… Aku ingin bersandar… Aku ingin melabuhkan jiwa sejenak bersamamu, aku rindu…

Ibu, aku mencintaimu, tulus…. Ibu, ini suara hatiku:

Kunyanyikan semua lagu (tapi ini tidak untuk kunyanyikan lho Bu…)
Untukmu Ibu
sebagai wujud terimakasih
Ku kepadamu

Tanpa lelah kau berjuang membesarkanku
Berikan yang terbaik untukku

Ijinkanlah tanganmu kucium
Dan kubersujud dipangkuanmu
Temukan kedamaian
Dihangat pelukmu

Didalam hati kuyakin
Serta percaya
ada kekuatan doa yang
engkau titipkan

Lewat Tuhan membuat semangat bila diri
ini rapuh Dan tiada berdaya

Ada surga di telapak kakimu
Betapa besar arti dirimu
Buka pintu maafmu
Saat kulukai hatimu

Ada surga di telapak kakimu
Lambangkan mulianya dirimu
Hanya lewat restumu
Terbuka pintu ke surga

Kasih sayangmu begitu tulus
Kau cahaya dihidupku
Tiada seorang pun yang dapat menggantimu

-Gita Gutawa-

Posted in Memory & Experience, Reflection | Leave a Comment »

Berziarah ke Makam Kakek

Posted by Darwis Suryantoro on February 23, 2009


dsc01426Kakekku bernama Mochtar, adalah seorang pejuang dan tercatat sebagai anggota Tentara Nasional Indonesia, dengan pangkat terakhir Sersan Mayor. Beliau adalah sosok ayah dari ibu dan kakekku yang tegas, berkharisma, dan disegani oleh masyarakat sekitar.

Sosok kakek yang begitu perhatian terhadap cucu-cucunya, membuat seluruh anggota keluarga menjadikannya teladan dan contoh dalam kehidupan sehari-hari. Rajin sholat dan berdzikir, itulah yang kulihat dalam kehidupannya sehari-hari. Beliau dikenal masyarakat sekitar karena keramahannya, dan sempat menjabat sebagai perangkat desa, orang-orang menyebutnya Pak Carik.

Berbagai penghargaan (meskipun jangan terlalu dibanggakan) diraih oleh kakekku ini, salah satunya ialah dari presiden republik Indonesia pertama, Ir. Soekarno. Beberapa lainnya diperoleh dari Ir. Juanda. Salah satu operasi yang ia ikuti ialah Gerakan Operasi Militer.

20 Juni tahun 2000, kakekku tutp usia karena sakit. Menjelang kematiannya, beliau serasa merasakan kalau hari itu adalah hari terakhirnya. Pesan beliau adalah agar menjaga kerukunan sesama anggota keluarga. Kini, tahun 2009, hampir 9 tahun kakek meninggalkan kami, namun kenangan itu masih membekas. Read the rest of this entry »

Posted in Memory & Experience | Tagged: , , , , , | 1 Comment »

24 Agustus 2008 (Good Bye – Nangka 27)

Posted by Darwis Suryantoro on February 20, 2009


dsc01433Melabuhkan asa. Hari itu, 24 Agustus 2008, adalah hari resmi pindahan kos Cidika, Grup Nangka, menuju Pandega, hijrah menuju kehidupan selanjutnya, setelah menapaki perjalanan panjang kuliah di STMIK Amikom Yogyakarta, dari tahun 2005 hingga April 2008. Melelahkan, Nangka 27 ialah alamat rumah kosku terakhir sepanjang kuliah, setelah sebelumnya pernah menempati dua tempat kos yang berbeda.

Nangka 27, selama masa itu, banyak sekali pengalaman yang telah kudapatkan. Bagaimana kesabaranku ditempa dan tantangan-tantangan keseharian yang penuh dengan suka-duka, bercampur menjadi satu.

Nangka 27 yang kutempati triwulan ketiga tahun 2006 itu, adalah cikal bakal pertama kalinya aku masuk ke dunia IT yang sebenarnya, menuju gerbang riset kampus yang bernama IT Department, kumpulannya programmer-programmer pemula untuk mengais secercah pengalaman untuk menjadi programmer yang handal, meski sebelumnya aku juga pernah menjadi salesman panci presto. Ya, panci presto, tentu teman-teman kaget (walaupun sedikit mungkin :) ). What?? kenapa jadi sales? Jawabannya adalah… aku tersesat. Tapi karena tersesatnya itu, aku menjadi mengerti bahwa, hidup itu butuh perjuangan.

Jenuh. Setelah beberapa lama menjadi asisten DBA di departemen IT STMIK AMIKOM Yogyakarta, aku mengalami gejolak hati yang meresahkan jiwa. Iya, aku jenuh, alasannya??? Alasannya adalah… aku tidak menikmati kehidupan di dunia itu. Sistem yang membuatku menjadi seperti itu. Iya sistem. Kesalahan siapakah itu? Tentu… pembaca bisa mengetahuinya sendiri. Maka alasan aku resign ialah, jenuh dengan sistem, dan jika diteruskan, khawatir akan merusak sistem. Yup benar juga…

Banting setir, akhirnya aku berhasil menjadi Asisten Praktikum di kampus selama 2 semester. Yup, beberapa dosen dan asisten dosen cukup senang aku bergabung dalam tantangan ini. Kerap beberapa kali aku diminta untuk mengajar praktek di depan kelas, sebagai presentator mata kuliah yang kusampaikan kepada mahasiswa tingkat bawah… Hmmm… senang sekali. Dari kegiatan ini aku sadar, bahwa inilah sebenarnya yang cocok dengan duniaku, adalah… MENGAJAR… Ya, hingga terbesit di pikiranku, aku ingin menjadi dosen. Read the rest of this entry »

Posted in Memory & Experience | Tagged: , , , , , | 2 Comments »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.