
Papa with Me
Satu yang tak pernah kulupa dari banyak kalimat ayah yang menginspirasi adalah: “Ringankanlah kesalahan orang lain.” Yup, adalah bagaimana cara kita bersikap ketika orang lain sedang menyakiti kita, atau berbuat kesalahan kepada kita, atau bahkan menghambat saat kita tengah berusaha berbuat kebaikan untuk sesama.
Ayah tak sekedar mengucapkan kata-kata tersebut untuk anak-anaknya, namun beliau sendiri benar-benar mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Ia selalu menjadi solusi dalam menyelesaikan masalah bersama. Sontak saja, pengalamannya yang lebih dari 30 tahun mendidik para pelajar, membuatku menjadi mengerti, betapa pentingnya arti kesabaran dan bijaksana.
Ayah, ini benar-benar menjadi pelajaran berharga bagiku. Bahwa memberi maaf adalah sebuah kemuliaan. Bahwa menghargai adalah sebuah toleran. Bahwa berbuat baik adalah sebuah keindahan. Dan pribadimu yang tanpa pamrih, mengajarkanku bahwa keihklasan akan berbuah keberhasilan.
Betapapun setiap sakit yang kurasakan dari orang-orang sekitar, pribadiku belum mampu mengalahkan ketangguhan, kesabaran, dan keikhlasan jiwamu. Tentu ini bukan karena aku tak mengerti apa yang kau maksud, Ayah. Namun ini adalah sebuah pengakuanku bahwa engkau telah lebih banyak terlibat dalam menghadapi kerasnya hidup, bahwa engkau lebih banyak menghadapi cacian, hujatan, dan kerasnya orang-orang yang ingin menjatuhkan tahta kebaikan lakumu.
Ayah, bahkan engkau masih sempat tersenyum ketika fitnah datang kepadamu. Bahkan engkau masih SEMPAT tersenyum ketika fitnah datang kepadamu. Bahkan engkau masih sempat TERSENYUM ketika fitnah datang kepadamu, Bahkan engkau masih sempat tersenyum KETIKA FITNAH DATANG KEPADAMU.
Rasululloh dengan teladannya juga mengajarkan bagaimana sikap kita terhadap orang yang berbuat tidak berkenan kepada kita. Sebagaimana pengalaman Anas bin Malik ketika bersama Rasululloh, ia berkata:
Aku pernah berjalan bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang ketika itu beliau mengenakan selendang yang tebal dan kasar buatan Najran. Kemudian seorang Arab Badui datang lalu menarik beliau dengan tarikan yang sangat keras hingga aku melihat permukaan pundak Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berbekas akibat kerasnya tarikan selendang itu. Lalu orang itu berkata, “Berikanlah aku harta Allah yang ada padamu.” Kemudian beliau memandang kepada orang Arab Badui itu seraya tertawa, lalu beliau memberikan sesuatu kepadanya. (HR. Al-Bukhari No. 5809 dan Muslim No. 1057).




