Darwis untuk Indonesia

"Raihlah ilmu, dan untuk meraih ilmu belajarlah untuk tenang dan sabar." (Ummar bin Khattab, R.A)

Pandangan Hidup, Sikap Mental, dan Kepedulian

Posted by Darwis Suryantoro on December 2, 2007

Di kota perantauan yang dingin,

29 Agustus 2004.

Tulisan I, ba’da Magrib s.d. 21.35 BBWI.

 

(Ini adalah tulisan saya menjelang laporan pertanggungjawaban kepengurusan OSIS untuk Sie II periode tahun 2003/2004. Saya ketik di Kota Malang, pada tanggal tertera. Semoga dapat menjadi bahan kajian. Hehe, maaf kalo kebanyakan tulisane sok banged, biasa lah anak muda, waktu ntuh kan jaman2nya menjemput jati diri).

 

 

Assalamualaikum wr. wb.

Puji syukur ke-hadirat Allah swt, pada kesempatan ini saya dapat memberikan sedikit sumbangsih tentang garis besar pelaksanaan tugas Sie II OSIS dalam bentuk buku yang berjudul “Garis Besar Panduan Pelaksanaan Tugas Sie II.”

 

Alhamdulillah, selesai sudah tugas saya dalam kepengurusan OSIS masa bakti 2003 – 2004 yang sekaligus mengakhiri jabatan saya (meskipun saya tidak ingin hal ini disebut jabatan) sebagai KaSie II, Kehidupan Berbangsa dan Bernegara. Jabatan ini merupakan suatu amanat yang tentu saja saya telah berusaha untuk melaksanakannya. Namun di sisi lain saya pun harus memandang pada diri ini bahwa saya bukanlah manusia yang serba sempurna, melainkan manusia biasa yang kerap kali melakukan kesalahan.

 

Pada akhir kepengurusan ini tentunya saya tidak ingin “mengumbar” begitu saja kepada penerus yang menduduki jabatan vital ini. Pada hari ini, saya ingin memberikan dorongan moral berupa pemikiran-pemikiran dan analisis mengenai pandangan hidup, sikap mental, dan kepedulian terhadap kepemimpinan pada Sie II. Saya bukanlah orang yang merasa hebat sehingga saya memberikan tulisan yang barangkali kurang bermakna bagi adik-adik penerus saya. Namun, setidaknya dengan tulisan ini saya bisa menelaah, koreksi, dan memperbaiki diri agar saya dan semoga buat adik juga, tidak tersesat di masa mendatang, terutama untuk renovasi manajemen organisasi OSIS dan Paskibra.

 

Kita tahu bahwa OSIS merupakan organisasi induk/sentral, membawahi berbagai sub organisasi yang ada sesuai dengan tetapan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga OSIS. Pada detik ini, masa bakti 2004 – 2005, perlulah kita memperbaiki diri. Kita juga harus belajar dari pengalaman masa lalu. Ingat, bahwa “pengalaman bukanlah apa yang terjadi pada diri kita, melainkan apa yang kita lakukan dengan yang terjadi pada diri ini.”(Aldons Huxley). Dengan belajar dari pengalaman itulah Insya Allah kita tidak akan tersesat. Saya yakin bahwa “Tuhan tidak akan bermain dadu.”(Albert Einstein).

 

Bung Karno juga pernah mengingatkan pada kita bahwa janganlah sekali-kali melupakan sejarah. Sejarah sub organisasi kita yang dulunya memang berkibar tinggi, lambat laun surut seperti tiada ditiup angin. Siapakah yang seharusnya meniup bendera ini agar selalu berkibar? Ya tentu saja kita semua, khususnya para pejabat organisasi yang semestinya bertindak sebagai anginnya. Saya pun selalu belajar untuk dapat berbenah, karena “segala yang pernah saya lihat, mengajarkan saya percaya pada Sang Pencipta untuk semua yang saya belum melihat.”(Ralph Waldo Emerson). Saya juga kadang tersenyum kepada pelaku-pelaku yang terkait di dalamnya, karena “suatu senyuman adalah cahaya dalam jendela saya yang mengatakan pada orang lain, ada orang yang memelihara dan berbagi rasa di dalamnya.”(T. Lawrence & B. Kleiner). Apakah cukup dengan senyuman saja untuk mengibarkan bendera sub organisasi kita menuju “ujung tiang tertinggi di Indonesiaku ini.”(Cokelat).

 

Bahkan beberapa waktu lalu, sampai-sampai pembina pernah mengatakan bahwa organisasi Paskibra kita ini akan dibubarkan, yang tentu saja ini memukul jiwa kita. Saya kira adik-adik sudah tahu masalahnya. Tapi yang perlu kita tanyakan pada diri ini adalah, apakah organisasi kita masih bisa bertahan? Maka, setidaknya kita perlu belajar dari Anna Louise Strong yang mengatakan bahwa: “Esensi pertama untuk bertahan adalah yakin bisa bertahan.” – “The first essential to survival is to believe that you can survive.”

 

Bagaimana seharusnya azas, perjuangan, dan taktik kita untuk hal seperti masalah pada paragraf di atas? Kita perlu belajar dari presiden pertama kita, dalam tulisan di harian Fikiran Rakyat tahun 1933 sbb:

Azas : “Pegangan Hidup” kita sampai masuk liang kubur.

Azas perjuangan : “Strijd beginsel”; cara berjuang, strategi perjuangan.

Taktik : Cara melaksanakan strategi. Taktik bisa berubah

setiap saat menurut situasi dan kondisi.

 

Tidak perlu saya terangkan secara mendetail mengenai hal di atas, karena barangkali adik yang lebih mengerti. Semua sudah tahu pegangan hidup kita. Ini merupakan kontrol kita di dunia maupun di akherat nanti. Semoga kita tidak menjadi takabbur. “The best and most beautiful things in the world cannot be seen, nor touched…., but are felt in the heart.”(Helen Keller). *Hal –hal yang terbaik dan yang paling indah di dunia tidak dapat dilihat maupun disentuh…,tetapi dapat dirasakan.*

Azas perjuangan, ehm…. Cara berjuang dan strategi perjuangan? Waduh, mencari kata mutiara yang mana lagi yach? Wah, saya tahu…..

To be persuasive, we must be believeable;

To be believeable, we must be credible;

To be credible, we must be thruthful.

(Edward R Murrow).

Untuk dapat membujuk kita harus dapat dipercaya, untuk dapat dipercaya kita harus mempunyai kredibilitas, untuk mendapatkan kredibilitas kita harus mengandung kebenaran.

Lalu bagaimana kita melakukan strategi keorganisasian kita sesuai dengan situasi dan kondisi? Kadang kala kita pun mengalami masa saturasi (jenuh) saat kita dihadapkan pada masalah maupun saat proses penyelesaiannya. Berikut adalah sebuah dorongan, bahwa semestinya dalam mengatur strategi, harus bisa membaca situasinya dulu, baik situasi saat ini maupun kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di masa mendatang (tetapi bukan ngramal) Darwis S. Nah… then, you’ve to follow this attitude :

Lakukan lebih dari yang ada – hidup;

Lakukan lebih dari menyentuh – rasakan;

Lakukan lebih dari mendengar – dengarkan;

Lakukan lebih dari bicara – katakan sesuatu;

(John Rhodes).

Adik-adik yang mengemban tugas di Sie II, walaupun dasar-dasar atau “groudgedachte”-nya perjuangan kita harus tetap, kita tidak boleh beku dalam pikiran, tidak boleh statis dalam daya cipta, tidak boleh berhenti, tetapi harus dinamis dan tangkas dalam pikiran. Ingat, bahwa semua misi kita butuh proses dan pelaksanaan prosedur yang benar.

 

Kembali pada tujuan semula, bahwa pembuatan buku ini tidak didasarkan untuk tujuan tindakan kompensasi, namun ini adalah benar-benar sebagai acuan dasar pemegang Sie II agar nantinya mempunyai tujuan yang jelas, dengan tidak ada sistem dualisme pengertian. Sehingga dapat berjalan satu tujuan, satu maksud, satu jalan, satu dasar yang jelas.

 

Demikian sedikit sambutan dalam prakata buku pegangan Sie II . Semoga dengan hadirnya buku simpel ini dapat memberikan manfaat baik pada diri saya sendiri, juga kepada pembaca. Tak lupa kritik dan saran penelaah, dan semoga dapat dijadikan periksa. Terima kasih.

 

2 Responses to “Pandangan Hidup, Sikap Mental, dan Kepedulian”

  1. […] – Pandangan Hidup, Sikap Mental, dan Kepedulian (2Desember […]

  2. albert prawira said

    tolong artikel ini diperjelas maksudnya. kalau sudah kirim ke email saya. saya tunggu wassalam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: