Darwis untuk Indonesia

"Raihlah ilmu, dan untuk meraih ilmu belajarlah untuk tenang dan sabar." (Ummar bin Khattab, R.A)

24 Agustus 2008 (Good Bye – Nangka 27)

Posted by Darwis Suryantoro on February 20, 2009

dsc01433Melabuhkan asa. Hari itu, 24 Agustus 2008, adalah hari resmi pindahan kos Cidika, Grup Nangka, menuju Pandega, hijrah menuju kehidupan selanjutnya, setelah menapaki perjalanan panjang kuliah di STMIK Amikom Yogyakarta, dari tahun 2005 hingga April 2008. Melelahkan, Nangka 27 ialah alamat rumah kosku terakhir sepanjang kuliah, setelah sebelumnya pernah menempati dua tempat kos yang berbeda.

Nangka 27, selama masa itu, banyak sekali pengalaman yang telah kudapatkan. Bagaimana kesabaranku ditempa dan tantangan-tantangan keseharian yang penuh dengan suka-duka, bercampur menjadi satu.

Nangka 27 yang kutempati triwulan ketiga tahun 2006 itu, adalah cikal bakal pertama kalinya aku masuk ke dunia IT yang sebenarnya, menuju gerbang riset kampus yang bernama IT Department, kumpulannya programmer-programmer pemula untuk mengais secercah pengalaman untuk menjadi programmer yang handal, meski sebelumnya aku juga pernah menjadi salesman panci presto. Ya, panci presto, tentu teman-teman kaget (walaupun sedikit mungkin🙂 ). What?? kenapa jadi sales? Jawabannya adalah… aku tersesat. Tapi karena tersesatnya itu, aku menjadi mengerti bahwa, hidup itu butuh perjuangan.

Jenuh. Setelah beberapa lama menjadi asisten DBA di departemen IT STMIK AMIKOM Yogyakarta, aku mengalami gejolak hati yang meresahkan jiwa. Iya, aku jenuh, alasannya??? Alasannya adalah… aku tidak menikmati kehidupan di dunia itu. Sistem yang membuatku menjadi seperti itu. Iya sistem. Kesalahan siapakah itu? Tentu… pembaca bisa mengetahuinya sendiri. Maka alasan aku resign ialah, jenuh dengan sistem, dan jika diteruskan, khawatir akan merusak sistem. Yup benar juga…

Banting setir, akhirnya aku berhasil menjadi Asisten Praktikum di kampus selama 2 semester. Yup, beberapa dosen dan asisten dosen cukup senang aku bergabung dalam tantangan ini. Kerap beberapa kali aku diminta untuk mengajar praktek di depan kelas, sebagai presentator mata kuliah yang kusampaikan kepada mahasiswa tingkat bawah… Hmmm… senang sekali. Dari kegiatan ini aku sadar, bahwa inilah sebenarnya yang cocok dengan duniaku, adalah… MENGAJAR… Ya, hingga terbesit di pikiranku, aku ingin menjadi dosen.

Banting setir lagi. Loh kenapa? Sebenarnya sih tidak banting setir, tapi menambah setir, artinya nyopir lebih dari satu armada. Iya, aku bekerja di dua tempat, mengajar praktikum di kampus, dan menjadi kasir di sebuah warnet. Loh, kok??? (kaget lagi ya? Gak mungkin kaget lah, kan di atas tadi udah kaget😀 ). Iya, aku ingin menambah pengalaman kerjaku menjadi kasir, di sebuah tempat usaha bernama CV NUSAMEDIA, yang sekarang menambah bidang usahanya menjadi penyedia jasa hosting dan web development. Aku hanya berjalan sekitar 7 bulan menjadi kasir, setelah masa kontrak asisten praktikum habis di kantor. Yup, apalagi selain menjadi kasir selama aku kerja di CV Nusamedia itu? Aku merangkap menjadi Technical Support, dan Cleaning Service.

Alhamdulillah aku bersyukur, banyak hal yang kudapatkan dari pekerjaan itu:

  • Aku menjadi tenang dan lebih berpikir positif menyikapi banyak keadaan, di bawah tekanan.
  • Semakin sadar bahwa butuh perjuangan untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Sempat ada salah satu adik kelas jaman STM dulu (SMK Telkom Sandhy Putra, Malang) dua tingkat di bawahku yang sedikit meremehkan ketika aku menjalani profesi ini, kasir. (sekitar setahun kemudian, orang yang meremehkan aku itu mengeluh kepadaku, bahwa dia diremehkan orang lain mengenai kemampuan dalam pekerjaannya).
  • Semakin yakin, bahwa rezeki itu Allah yang mengatur, bukan perusahaan, atau bahkan negara. Banyak sekali kekhawatiran orang atas pikiran-pikiran bahwa dengan menjadi pegawai negeri, hidup akan terjamin. Sebenarnya siapa sih yang menjamin hidup? Negara atau Allah Sang Khalik yang menciptakan kita? tentu Anda tahu jawabannya. Toh banyak juga orang selain pegawai negeri yang kaya raya dan memiliki passive income. Bagaimana sudut pandang Anda?
  • Semakin banyak berpikir berdasarkan realita. Mengerti maksud saya?

Kadang-kadang kita berpikir, jadi orang kaya itu enak ya? Loh tunggu dulu… jangan berpikir jadi orang kaya itu enak dari sudut pandang penglihatan secara kasat mata. Cobalah berpikir dibalik itu: perjuangannya, proses menuju hal tersebut, dan apa dampaknya setelah mengalami kejadian menjadi orang kaya itu. Jadi, berpikirlah, kaya seperti apa yang dimaksud. Apakah sekedar kaya materi namun hidupnya merasa seperti dipenjara karena kesibukan kerja? Ataukah kekayaan batiniah yaitu ketentraman hati. Pilih yang mana? Tentu kaya lahir batin kan? Kalau memang iya, rubahlah sudut pandang menjadi lebih kritis dan positif.

Hari demi hari, tiba saatnya aku harus melakukan perubahan diri. bekerja sebagai junior programmer, kasir, sales/customer support, teknisi komputer, asisten mengajar di kelas, dan bahkan cleaning service adalah bagian kecil perjalanan hidup saja yang patut disyukuri. Kita bersyukur, kita mendapat nikmat, syukur lagi, nikmat lagi, syukur terus, nikmat terusss, itulah esensinya. Bukan masalah kamu berpenghasilan berapa atau bekerja di mana? Tapi tanyakan, apa kontribusimu bagi umat? Sejauh mana manfaatnya. Kalau konsep itu sudah kita pegang, Insya Allah dengan semangat berkontribusi tadi, disertai kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas, Insya Allah lagi, rejeki itu akan seperti air sungai yang mengalir kencang, seperti air hujan yang jatuh deras.

Jangan tanyakan apa yang telah… negara berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang telah… kau sumbangkan kepada bangsamu.

Jadi teringat mars tersebut ketika aku menjalani pelatihan Capaska Kota Malang, Calon Paskibraka Kota ketika jaman aku sekolah STM dulu.

Berikutnya, tantangan menghadapi kembali. OXFAM Great Britain, sebuah lembaga sosial internasional yang memiliki kantor cabang di Yogyakarta, menjadi tempat berikutnya untuk menguji ilmuku, ilmu ikhlas. Loh kok???

Hingga 24 Agustus 2008, aku sudah menjalani kontrak kedua dengan lembaga tersebut.

nb: oh iya, gambar di atas adalah tempat buku di kosku terakhir yang akhirnya aku hibahkan kepada penghuni kamarku selanjutnya. Gpp khan???

by Darwis Suryantoro

Waduh, aku tadi di atas aku belum ngucapin salam ya? Maaf2…

Wassalamu’alaykum warahmatullah wabarokatuh.

2 Responses to “24 Agustus 2008 (Good Bye – Nangka 27)”

  1. masagus said

    anda sangat beruntung, dalam usia yang begitu muda, sudah merasakan berbagai pengalaman hidup, yang kelak akan berguna sebagai referensi dalam merencanakan masa depan. menjadi besar itu memerlukan perjalanan yang berliku, dan kita belajar terus selama proses tersebut. Hikmahnya.. jika kita menjadi besar kelak, akan lebih menghargai instrumen terkecil pun dalam hidup, karena sering dikata kecil dan sepele, itu justru ikut menentukan keberhasilan sesuatu.

    doa kita semua menyertai-mu, dan jangan pernah merasa bosan dan lelah dalam perjalanan jiwa..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: