Darwis untuk Indonesia

"Raihlah ilmu, dan untuk meraih ilmu belajarlah untuk tenang dan sabar." (Ummar bin Khattab, R.A)

Prosesi Pernikahan (kami) ala Bugis

Posted by Darwis Suryantoro on August 28, 2013

Assalaamu’alaikum,

Di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, 18 Agustus 2013

Di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, 18 Agustus 2013

Saatnya berbagi cerita nih. Seperti yang disebutkan sebelumnya, saya telah menerangkan beberapa hal tentang prosesi melamar (khitbah) perempuan dari suku Bugis. Kini alhamdulillah, setelah jeda 2 bulan, akhirnya kami dapat melangsungkan prosesi pernikahan. Perlu di ketahui, orang-orang Bugis tidak akan mengambil waktu yang sangat lama antara jeda lamaran dan nikah, biasanya sih satu bulan saja. Namun, kami memutuskan jeda dua bulan.

Kata siapa prosesi pernikahan adat Bugis itu complicated? Emang iya kok, hehehe. Bila dibandingkan dengan Jawa, memang sedikit lebih rumit proses pernikahan di daerah yang berpenghuni suku Bugis. Untuk acara akad kami yang dilaksanakan pada 15 Agustus 2013, saya harus datang sehari sebelumnya dan baru bisa keluar wilayah di hari ke-3 setelah pernikahan.

Ok, saya akan cerita nih pengalamannya. Saya ini kan orang Jawa, jadi masih sedikit buta dengan budaya suku lain. jadi, sebelum acara akad, saya memutuskan untuk pulang kampung dahulu sekalian menikmati Idul Fitri bersama keluarga di rumah. Terbanglah saya bersama Sriwijaya Air dari Jayapura ke Surabaya pada 3 Agustus untuk mengambil cuti. SJ 581 berangkat dari Jayapura ke Makassar, estafet SJ 567 dari Makassar menuju Surabaya. Kemudian lanjut dari bandara Juanda menuju terminal Purabaya untuk estafet ke Jember, rumah kedua orang tua saya. Alhamdulillah bisa bersilaturrahim bersama keluarga di kampung halaman.

Seserahan. Humm, ini jadi hal yang berhari-hari melayang-layang dalam pikiran saya. Beberapa pertanyaan seperti: berapa jumlah seserahan; bentuknya apa saja; diberi wadah yang seperti gimana; dan masih banyak lagi. Alhamdulillah akhirnya nemu jalan keluar. Pihak calon mempelai wanita akan membantu proses packing ketika saya sudah sampai di Pangkep. Pihak akhwat memberi keringanan untuk tidak membawa kue dari rumah pihak laki-laki, karena pasti akan kerepotan.

Deng-dong, semakin dag, dig, dug. Tanggal 13 Agustus, saya bersama keluarga, berangkat dari Jember ke Surabaya. Menggunakan Bus PATAS berlabel Akas Asri, berangkat dari terminal Jember sekitar pukul 7.30 WIB, kebetulan kondiktur bus adalah tetangga dekat kami, jadi kami dijemput di depan gang rumah menuju terminal sebelum ambil pool di terminal Tawangwalun Jember. Alhamdulillah, perjalanan selamat sampai tujuan dalam waktu krang dari 5 jam, kemudian kami singgah di rumah kakak sepupu di kompleks industri Sidoarjo.

Untuk berangkat ke Makassar, kami memutuskan untuk membagi menjadi dua kelompok penerbangan (hehehe, seperti naik haji saja, aamiin), yaitu kloter tanggal 13 malam, saya bersama adik bungsu saya, Dendi. Kemudian kloter kedua, 14 Agustus pagi, adalah bapak, ibu, dan adik perempuan saya. Pertanyaannya adalah, kenapa kami harus membagi penerbangan menjadi 2 kloter? Ada 1 alasan utama yang merupakan ikhtiar kami untuk menghindari pembatalan pemberangkatan pesawat secara bersamaan. Jadi skenario terburuknya adalah jika maskapai membatalkan penerbangan saya pada 13 Agustus, maka ada cadangan penerbangan di hari esoknya dengan menggunakan KTP bapak saya ^_^, astaghfirullahal adziim.

Saya dan adik bungsu saya, akhirnya terbang bersama Garuda Indonesia dengan pesawat Bombardier CRJ 1000 dengan nomor penerbangan GA 667 dari Surabaya ke Makassar pada selasa malam, 13 Agustus 2013, disusul bapak, ibu, dan adik perempuan saya pada keesokan harinya dengan maskapai yang sama, jenis pesawat 737-800NG nomor penerbangan GA 631. Alhamdulillah kami selamat sampai tujuan.

Ok, lanjut yah. Rabu pagi, 14 Agustus 2013, saya dan Dendi, dijemput paman di sebuah hotel di Jalan Sungai Saddang yang kemudian melanjutkan perjalanan ke Bandara Sultan Hassanuddin untuk menjemput bapak, ibu, dan adik perempuan saya, Anisa. Setelah menjemput, kami istirahat sejenak di rumah saudara istrinya paman, dan dilanjut dengan membeli buah-buahan dan kue untuk seserahan. Kemudian, sorenya, kami lanjutkan perjalanan menuju Pangkep, dan bermukim sementara di sebelah rumah calon mempelai wanita untuk mempersiapkan segala sesuatunya di sana.

Sore hari, temen-temen akhwat dari calon istri saya, Hermita Arif dan Suriani Cuyya, alhamdulillah datang ke penginapan kami untuk membantu proses packing seserahan dan beberapa hal lain yang terkait dengan prosesi pernikahan. Wah, saya benar-benar bersyukur, ada banyak kemudahan dalam proses kami. Ba’da maghrib, saya didatangi seseorang untuk dimandikan. Katanya sih untuk proses pembersihan diri. setelah itu, semua pakaian yang digunakan dalam proses pemandian tadi, diserahkan kepada yang memandikan.

Mapacci. Hummm, ini satu rangkaian yang tidak boleh dilewatkan bagi kedua calon mempelai. namun biasanya jika calon mempelai laki-laki berasal dari luar suku dan berasal dari tempat yang jauh, ia tidak diikutkan dalam acara ini. Saya sendiri bagaimana? Saya diikutkan mapacci. Biasanya, mapacci ini dilakukan sendiri-sendiri, terpisah di kediaman calon mempelai laki-laki dan perempuan. Namun, ini kondisi khusus untuk kami, karena saya berasal dari jauh, maka saya dan calon istri melakukan prosesi mapacci di rumah yang sama. Mapacci sendiri, dalam bahasa yang disederhanakan, diartikan sebagai tradisi melepas lajang. Untuk keterangan rangkaian acaranya, bisa dilihat di sini. Kami melaksanakan prosesi ini mulai dari ba’da Isya’ hingga sekitar jam 22.00 WITA. Alhamdulillaah, setelah itu istirahat.

15 Agustus 2013. 8 Syawal 1434 H, bertepatan dengan hari kamis, adalah hari yang cukup mendebarkan bagi saya, karena ini menjadi hari yang paling bersejarah dalam hidup, yaitu akad nikah, ijab qobul. pada hari tersebut, orang tua calon mempelai melakukan serah terima jabatan (baca: sertijab) untuk memberikan tanggung jawabnya terhadap anaknya ke saya. WOW… ^_^. Sesuatu…

Sekitar pukul 10.15 saya bersama pasukan pembawa seserahan menuju rumah calon mempelai wanita. Di sana sudah banyak tamu yang siap menyaksikan prosesi akad nikah kami, disertai penghulu dan para saksi.

Saudara Darwis, saya nikahkan saudara dengan Iswanti binti Sahrul dengan mahar satu stel emas, tunai.

Sah…. Lho…. ^_^, dijawab dulu:

Saya terima nikahnya Iswanti Syahrul bintu Sahrul Karim dengan mahar satu stel emas, tunai.

Alhamdulillah, sah. Kemudian diiringi doa seperti yang dituntunkan Rasulullah saw.

Pada saat akad nikah, mempelai wanita tidak berada bersama mempelai laki-laki yang sering kita jumpai di Jawa. Mempelai wanita ditempatkan di tempat terpisah, yaitu di kamar pengantin. Setelah ijab qabul selesai, saya dituntun menuju ke kamar mempelai wanita. Kami berdua akan dipertemukan (mappasiluka/mappasikarawa). Namun, sebelum masuk kamar, saya dihadang oleh dua penjaga di depan pintu. Mereka melarang saya masuk ke kamar tersebut. Hummm, untung saya dibantu oleh mertua paman yang bisa berbahasa Bugis untuk nego agar bisa masuk. Alhamdulillaah, hehehe, masuklah saya ke kamar pengantin. Setelah itu kami tukar cincin, istri mencium tangan saya, dan saya (hehehe) mencium kening istri (udah jadi suami yang sah lho yaaa), kemudian foto bersama.

Marellau Dampeng. Kami kemudian keluar dari kamar pengantin, kemudian melakukan prosesi memohon maaf, kepada bapak ibu dan mertua. Setelah itu kami didudukkan di pelaminan untuk mendapatkan ucapan selamat dari undangan yang hadir waktu itu. Hingga sholat dhuhur berlalu, lalu kami beristirahat.

Mapparola. Kami melewatkan prosesi ini. Mapparola yaitu kegiatan menjamu keluarga pengantin wanita di kediaman pengantin pria. Namun, karena saya dari Jawa dan tidak memungkinkan dilakukan pada waktu itu, maka kami skip acara tersebut.

Malam harinya, resepsi pernikahan dilaksanakan. Sama seperti pernikahan umumnya di Indonesia, setelah akad nikah selesai, maka acara berikutnya adalah resepsi, dimulai ba’da Isya hingga sekitar pukul 22.30 WITA. Cukup melelahkan bagi kami, dengan rangkaian acara yang bertubi-tubi. Tapi rasa syukur ini tak terkira, karena peristiwa pernikahan ini adalah anugerah Alloh yang luar biasa, yang menjadi pembuka sejarah kehidupan kami, untuk mengarungi hidup bersama.

Esoknya, 16 Agustus 2013 bertepatan 9 Syawal hari Jumat, kami masih menerima tamu seharian. Rasa kantuk dan lelah kami masih belum tertahankan, sesekali kami ke kamar tidur hanya untuk menghapus kelelahan, mencuri-curi (humm, lebih tepatnya mencari-cari) waktu untuk tidur, hanya sekedar 10 atau 20 menit. Pada hari ini, bapak, ibu, dan kedua adik saya bertolak ke Makassar untuk jalan-jalan dan belanja.

17 Agustus 2013, adalah prosesi terakhir kami, yaitu ziarah kubur. Alhamdulillah selesai sudah ^_^, setelah itu baru kami bisa keluar rumah. Tha.. thaaa… Nge-date pertama bareng istri, maem bakso Malang. Lha, hehehe, ternyata bakso ini ada di kampung istriku. Nyam… nyam… Esoknya, mulailah jalan-jalan perdana kami, ke Malang.

Dengan mengucap istighfar, astaghfirullah hal ‘adziem, kami memohon maaf kepada Alloh atas segala kesalahan dan kekhilafan kami. Wassalaamu’alaikum.

Thanks to:
Alloh swt
Rasululloh saw
Kedua orang tua kami dan keluarga besar

Tribute to:
Penghulu dan para saksi
Mita dan Cuyya, yang sudah banyak membantu dalam proses pernikahan kami
Comblang senior: Bang Joshua, Mbak Ratna, Mbak Wana, Mbak Yuni (joss deh)
Fotografer dan video editor: Bang Alau (thanks buat gratisannya)
Para undangan yang telah hadir dan berdoa untuk kami
Sriwijaya Air SJ 581 DJJ (08:00) – UPG (10:30) 3 Aug 2013
Sriwijaya Air SJ 567 UPG (16:30) – SUB (17:00) 3 Aug 2013
Garuda Indonesia GA 667 SUB (18:40) – UPG (21:10) 13 Aug 2013
Garuda Indonesia GA 631 SUB (05:25) – UPG (07:55) 14 Aug 2013
Sriwijaya Air SJ 565 UPG (09:10) – SUB (09:40) 18 Aug 2013
Sriwijaya Air SJ 563 UPG (14:30) – SUB (15:00) 18 Aug 2013
Sriwijaya Air SJ 562 SUB (23:10) – UPG (01:40) 23 Aug 2013


		

3 Responses to “Prosesi Pernikahan (kami) ala Bugis”

  1. ^_^ ^_^ ^_^ ^_^

  2. adi yusuf said

    kira-kira habis berapa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: