Darwis untuk Indonesia

"Raihlah ilmu, dan untuk meraih ilmu belajarlah untuk tenang dan sabar." (Ummar bin Khattab, R.A)

Jalan-jalan Perdana bersama Zawjatiku, Iswanti Syahrul

Posted by Darwis Suryantoro on September 4, 2013

Hehehe, tumben nih, makin rajin ngeblog, tak lain adalah karena rasa semangatku dan mood yang baik setelah sekian lama vakum menulis. Wokey, sayang sekali kalau momen ini tidak diabadikan, coz ini adalah saat-saat yang paling berkesan bersama istriku (zawjaty).

Alhamdulillah, setelah 4 hari melewati masa yang sangat sibuk dari pra nikah, proses, dan pasca nikah, akhirnya kami dapat berlibur. Ini ceritanya liburan perdana, jalan-jalan bagi pasangan baru. Orang bule sih bilang honey moon, tapi aku lebih suka bilang nge-date perdana. Maklum, dari awal proses sampai nikah, kami hanya bertemu sekitar 5 kali saja, dan belum pernah jalan bareng.

Cie..cieee… Ahahah, oops, hari minggu, 18 Agustus 2013, yuhu kami bertolak ke Malang melalui penerbangan Ujung Pandang ke Surabaya. Kenapa harus Malang? Humm, itu karena Malang adalah tempat yang romantis buat pacaran, hihihi (maaf yaa, yang belum nikah). Aku ingin mengajak istriku berkeliling Malang dan Batu.  Tapi ada satu hidden agenda yang akhirnya ketahuan istriku, hihihihi. Sebenarnya aku ingin mengajak istriku kelak untuk menetap di Malang.

Alhamdulillah, sore harinya, ba’da magrib kami sampai di Malang, Brrr, dingiiin ^_^, maklum dah lama tidak ke daerah tersebut. Setelah menaruh barang di hotel, aku mengajak istriku makan malam. Ini, akan menjadi dinner pertamaku bersama istri di luar rumah. Aku coba cari tempat yang romantis tapi cukup elegan bagi eksektif muda. Kuajak dia ke Warung Ndeso, salah satu rumah makan bernuansa Jawa dengan lampu yang sedikit redup, tanda romantis. Warung ini terletak di Jalan Pulosari No.25, Malang. Kebetulan pemiliknya adalah ayah dari muridku dulu. Istriku cukup menikmati masakannya, alhamdulillah, romantis euy… ^_^ (maaf yah, ga pake diceritain di sini hal-hal romantisnya).

“Cap Jaynya enak, Mas.” Ya eya laah, Malang geto. “Makanya ntar tinggal di Malang aja, ya.” (dalam hatiku berkata, wkwkwk).

Setelah makan malam kami keliling kota hingga mendekati tengah malam, akhirnya kembali ke penginapan dan beristirahat. Capek, lelah, tapi sangat berkesan.

19 Agustus, ciee…. Saatnya jalan-jalan ke…. Jatim Park 2, yang di dalamnya terdapat Batu Secret Zoo dan Museum Satwa. Paginya kami ke Warung Assalaamu’alaikum dulu untuk singgah sarapan. Astaghfirulloh ^_^, semoga nih menu tidak termasuk dalam kategori yang berlebihan ^_^.

Bersama Istri Sarapan di Warung Assalaamu'alaikum

Bersama Istri Sarapan di Warung Assalaamu’alaikum

Dalam status istriku pada hari tersebut, disebutkan: “Sarapan itu….nasi uduk, gado2, ayam penyet, lele goreng, sambel teri, sambel terong, tempe penyet, jamur kremes, lemon squash n lemon tea, ehehhehe.”

Alhamdulillah, berarti selera makannya sama denganku ^_^.

My Zawjaty, sedang menikmati pemandangan fosil kupu-kupu

My Zawjaty, sedang menikmati pemandangan fosil kupu-kupu

Sehabis sarapan kami bergegas ke Batu, melanjutkan perjalanan wisata kami ke Batu Secret Zoo dan Museum Satwa. Batu Secret Zoo menawarkan ilmu pengetahuan tentang hewan-hewan dari level tidak langka hingga langka, dan terdapat bervariasi jenis binatang yang menjadi koleksinya saat ini.  Sementara di Museum Satwa diperlihatkan banyak contoh fosil dan replika hewan purba di seluruh dunia beserta pengetahuan umum di dalamnya.

Alhamdulillah, perjalanan ke Jawa Timur Park 2 ini membuat kami kelelahan, namun menyenangkan ^_^.

Ting-tung, ada sms, hihihi. Ternyata datangnya dari muridku, Az Zahra. Az Zahra adalah nama panggilan online bagi Mona Andriana, seorang alumni siswi SMKN 8 Malang yang dulu pernah kuajar pada beberapa mata pelajaran Teknik Komputer dan Jaringan. Karena dia tahu aku sedang berkunjung ke Malang bersama istriku, dia ingin bersilaturrahim sekalian ingin berkenalan dengan istriku. Alhamdulillah, kami bertemu di sebuah rumah makan lesehan, Ocean Garden. Dia datang bersama sahabatnya, Adinda Nabihah, begitu nama panggilannya di salah satu media sosial internet.

By the way cerita tentang mereka berdua, dulu ketika aku masih mengajar di sekolah tersebut, aku pernah terlibat dalam percomblangan Islami mereka berdua dengan kedua teman guruku. Ahahaha, semoga ini masuk dalam kategori yang diperbolehkan. Aku peka melihat perilaku mereka seperti ada sesuatu yang cetar di dalam hatinya ketika mereka bertemu dengan guru (yang sangat mungkin pada waktu itu adalah menjadi guru favoritnya). Sehingga akupun sempat melakukan cross check untuk mengkonfirmasi ketertarikan teman guru tersebut kepada mereka. Dan, tha thaaa… Kedua temanku ternyata tertarik, ahahaha. Deng dong, lantas mereka ambil sikap ta’aruf, hingga pada perjumpaan kepada orang tua pihak si akhwat. Kelanjutannya bagaimana? Inilah yang menjadi gojlokan kami kepada Az Zahra dan Adinda agar segera menikah, mengingat usia mereka sudah cukup matang saat ini untuk menikah.

Jadi, kamu kapan Mon, jadi kamu kapan Dind?

Sipu-sipu malu lah mereka, wkwkwkw, bahasa apa itu sipu-sipu. Bismillaah, semoga Alloh melancarkan urusan kalian yang baik-baik ya, Nduk! Aamiin… ^_^

Okkay, kurang lebih setengah jam kami bertemu, tak terasa maghrib pun tiba, dan sayang sekali kami tidak bisa melanjutkan perbincangan lebih jauh. Di samping waktu sholat sudah tiba, jadwal kami juga padat pada waktu itu. Lantas kami bergegas ke Masjid Al-Ghifari di area Jalan Soekarno-Hatta Malang.

Sawojajar. Tahukah kalian bahwa di kelurahan ini terdapat perumahan terbesar di Asia Tenggara, yaitu Perumahan Sawojajar. Di daerah ini aku pernah menimba ilmu di SMK Telkom, sekaligus tinggal selama bertahun-tahun dalam proses hidupku merajut asa.

Kulihat mendung tak menunjukkan tanda-tanda berjatuhannya rerintik hujan (ciee… ini mulai puistis nih, soalnya akan bertamu ke salah seorang teman yang sekaligus kakak kelasku yang juga penggiat sastra). Kala itu dingin, disertai bergugurannya dedaunan seraya menyapa kami, “berjalanlah menuju tempat-tempat yang engkau suka, kami di sini akan mengiringi perjalanan cintamu.” Ihiirrr…. (opo aee….). Sontak kami kaget berdetak sedikit kencang walau tak sampai terlepas dari rongga dada kami. Apa itu? Jantung (ahahaha, bercanda). Putaran roda yang sengaja tidak kuputar secepat putaran yang biasa kulakukan, sontak mengingatkanku pada malam penuh kenang melewati jalanan yang tak begitu berliku. Tapi aku merasa, aku pernah hidup di sana dengan banyak belokan dan tikungan tajam, melewati hamparan waktu yang mendewasakan pikiran dan hatiku.

Malang. Di sini adalah tempat di saat aku pernah menyimpan dan membuang segala egoku. Tempat aku menata hati, tersenyum dalam berondongan caci-maki, tempat aku mulai terbangun dari impian-impian kosong dan bergegas merajut asa, menjalin mimpi. Tempat di saat aku mulai mengerti dan memahami, bahwa cinta itu harus memiliki. Tempat di mana aku harus memutuskan untuk berhijrah, menjemput sesuatu yang pasti. Astaghfirullah hal’adziem, jadi melantur ke mana-mana, eheheh.

Next trip, kami menuju Sunbae Rahmat untuk silaturrahim, sebenarnya ada satu lagi yang ingin kami kunjungi di perumahan itu, Ustadz Arif Kurniawan, yang juga sebagai staf pendidik di SMKN 9 Malang, namun waktu kami sangat terbatas saat itu.

Sunbae Rahmat, ya, teman yang pernah tinggal satu kontrakan denganku, sekaligus senior dalam berbagai hal. Merasa kehilangan dia setelah menikahi anak gadis orang lain bernama Vera, seorang akhwat sekaligus murid dan adik tingkat jauh sealmamater di sekolah, yang kebetulan juga aku pernah menuntut ilmu di sana. Ahahaha, bukan merasa kehilangan karena dia telah melepas masa lajangnya (walaupun dikit sih karena iri dia menikah duluan ;p), namun karena akan kehilangan waktu berbagi pengalaman dengannya. Yup, tidak ada hal khusus yang kami bicarakan sebagaimana yang pernah kami lakukan dulu, kecuali saat kami bergegas berangkat dan pulang dari sholat Isya’ di Masjid Manarul Islam.

Lapar? Sepertinya iyah ^_^. So? Obatnya lapar ya makan Mas Bro ;p. Ayam Bakar Lientang, di Sawojajar. Ayuuk. Alhamdulillah ya, cukup mengisi kekosongan perut malam itu, juga berkesempatan langka bertemu dengan para jomblowan senior, Pak Guru Wasis dan Bamz.

Bersama Wasis dan Bambang

Makan Malam di Ayam Bakar Lientang

Teng-tong, apa yang kami bincangkan? Hihihi, sepertinya mereka malu membincangkan tentang rencana pernikahan mereka di hadapan istriku. Jadi, yaa, lebih banyak cerita tentang hal lain. Maklum, dua teman saya ini paling vokal menyuarakan tentang pernikahan.

Lanjut perjalanan menuju Jalan MT Haryono, di daerah Dinoyo, untuk bertemu Lisa, sahabat istriku sewaktu jaman kuliah dulu. Wah, aku tidak begitu paham apa yang mereka bincangkan, karena mereka memakai Bahasa Makassar, dan aku pura-pura mengerti ;p.

Nenek, I’m coming🙂, Gondanglegi, 20 Agustus 2013.

Kok pintar kamu, Wis!

Nenek dan Pak Dhe mengucapkan kata-kata di atas (setelah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia), bahwa saya pintar. Maksudnya apa? Ahahaha, ternyata maksud mereka, saya dibilang pintar milih istri. Ya alhamdulillah, ini sesuatu ^_^. Alhamdulillah juga sudah memenuhi permintaan nenek untuk agar aku mempertemukan istriku dengan beliau untuk bersilaturrahim, sehingga beliau lega adanya.

Akhirnya saatnya kami mengembalikan motor pinjaman yang kami pakai untuk berkeliling Malang dan Batu. Pak Bamz menyetujui kalau tempat pengembaliannya adalah di sekolah. Waah, sekolah? Ini berarti kami akan ke SMKN 8 Malang, tempat aku mengajar dulu.

Bersama Mom Zahroh dan Bu Lizza, 21 Agustus 2013

Bersama Mom Zahroh dan Bu Lizza, 21 Agustus 2013

Beliau Mom Zahroh, merupakan guru SS (super senior) di SMKN 8 Malang dan mengajar Bahasa Inggris. Setelah mengetauhi bahwa istriku adalah alumni di salah satu lembaga pendidikan keuangan syariah di Malaysia, beliau malah asyik mengajak ngobrol istri dengan berbahasa Inggris, kemudian meminta kami untuk menuju ke ruang guru untuk diperkenalkan. Nih padahal tujuan semula hanya untuk mengembalikan motor dan hanya berhenti sampai tempat parkir saja, namun akhirnya silaturrahim juga dengan teman-teman guru di sana.

Kursi Terdepan Perjalanan Pulang bersama Akas Green

Kursi Terdepan Perjalanan Pulang bersama Akas Green

Alhamdulillah, setelah kami packing ke hotel, yuhuu, menuju ke Terminal Arjosari untuk melanjutkan perjalanan ke Jember. Dan berakhirlah jalan-jalan kami ke Malang untuk sesi ini ^_^. Berharap Insya Alloh bisa menjumpai (atau bahkan menetap di sana?) kota itu lagi di lain waktu, aamiin.

 Thanks to:
Alloh swt, Rasululloh saw

Tribute to:
Wasis Isuramu Kyoto
Abdullah Ibn Bamz
Lisa
Az Zahra Andriana
Adinda Nabihah
PO Akas Green
PO Akas Asri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: