Darwis untuk Indonesia

"Raihlah ilmu, dan untuk meraih ilmu belajarlah untuk tenang dan sabar." (Ummar bin Khattab, R.A)

Lebaran Abdan Syakura bersama Mahira

Posted by Darwis Suryantoro on July 13, 2018

Muhammad Abdan Syakura (3+), buah hatiku yang dari sebelum lahir sudah merasakan travel kemana-mana. Ya, paling tidak mulai dari kandungan, dia sudah menyusuri beberapa kota di jazirah Arab: Dubai, Madinah, Mekah, dan Jeddah. Di awal-awal Alloh menurunkan nyawanya ke dalam kandungan istriku, ia berada di salah satu kota di ujung timur Indonesa, Jayapura. Bahkan ketika masih dalam kandungan pun, dia telah ikut ke Makassar, Pangkep, dan Jember tentunya untuk menghadiri pernikahan adik pertamaku, Anisa Ayu. Hasil dari pernikahan Adikku inilah yang kemudian Alloh karuniakan kepada mereka berdua seorang putri (yang kemudian melengkapi formasi cucu dari kedua orangtuaku), bernama Mahira.

Ya, tahun 2018 (1439H), menjadi pertemuan kedua buat mereka. Tahun lalu mereka tidak terlalu akrab karena Si Rara (panggilan Mahira) masih begitu mungilnya. Tapi kami selaku orang tua sering mempertemukannya ke dalam sebuah sesi video call, seperti yang dilakukan oleh banyak orang tua muda dari generasi milenial.

Rara dan Abdan 20180617_060425.jpg

Mahira dan Abdan Syakura di Pelataran Alun-alun Jember, 17 Juni 2018

Terlihat dari foto di atas sudah nyata-nyata terpampang keakraban mereka, dan tentu saja, terlihat sekali style dan watak dari cara duduknya. Yup, Abdan “saat ini” cenderung pemalu, sementara adik sepupunya, terlihat nampak cuek dan santai “keras”.

Selama di rumah kakek dan neneknya, mereka melakukan banyak aktivitas umum anak balita generasi Z dan alpha, seperti bermain smartphone, robot, kejar-kejaran, diskusi tipis-tipis “gak” jelas, dan tentu saja, makan makanan kesukaan anak kecil, permen.

Abdan dan Rara Makan Permen IMG_20180616_184437.jpg

Abdan dan Rara Bersantai Menikmati Permen. Kediaman Eyang Kakung, 16 Juni 2018

Di hari ketiga mereka sudah akrab setelah sebelumnya malu untuk saling sapa. Yap, siapa dulu kalau bukan Rara yang berani menegur sapa. Karena akrabnya itulah saat Rara kembali ke rumahnya, mereka sama-sama tidur. Dan setelah bangun, dor, Abdan selalu tanya, “Mana Dik Rara? Rara-nya di mana?”

Meluncurlah kami kemudian ke kampung Dik Rara. Semoga rapat tali silaturrahim di antara kalian, hingga akhir hayat!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: