Darwis untuk Indonesia

"Raihlah ilmu, dan untuk meraih ilmu belajarlah untuk tenang dan sabar." (Ummar bin Khattab, R.A)

Putus Hubungan dengan Gastroesophageal Reflux Disease (GERD)

Posted by Darwis Suryantoro on December 30, 2013


Dear Readers,

Dilihat dari judulnya, ngeri engga sih? Ehehe, ini bukan membesar-besarkan, tapi emang di Indonesia, penderita penyakit ini sudah terhitung banyak.

Sedikit lupa, beberapa tahun yang lalu, sekitaran tahun 2007, ketika masih kuliah di Jogja, saya pernah ke rumah sakit Dr. Sardjito Yogyakarta, gara-gara kepala keliyengan, pengen muntah tapi tidak muntah. Saya pikir darah tinggi, tapi ternyata bukan. Ketika sudah sampai di rumah sakit, saya tidak tahu harus ngapain, ehehe. Bersama teman saya, hanya keliling-keliling rumah sakit. Tiba-tiba badan terasa normal kembali, seperti ada ketenangan setelah berkunjung ke sana. Namun, kami memtuskan untuk ke rumah sakit yang lebih kecil, yaitu RS Condongcatur di Sleman.

Di perjalanan terasa keliyengan lagi, ban motor bocor juga, aduh, alhamdulillah. Sesampainya di rumah sakit, saya periksa darah, ternyata normal. Setelah konsultasi ke dokter, dia mendiagnosis kalau saya mengalami penyakit Gastroesophagus. Kata dia, penyakit ini banyak diderita orang-orang di Amerika. Walah, berarti ndak perlu ke Amerika untuk dapet penyakit ini :(. Saya minta dicatatkan nama penyakitnya oleh dokter, ternyata referensinya masih sedikit yang membahas tentang penyakit itu dalam Bahasa Indonesia. Saya cuek, mengikuti pengobatan ala kadarnya. Sampai di sini, saya belum benar-benar tahu apa yang terjadi pada tubuh saya.

Ok, beberapa tahun kemudian. Kisaran awal tahun 2011, saya mengalami sesak nafas ketika akan berangkat bekerja. Yup pagi-pagi. Saya pikir saya kena asthma, jadi saya beli obat asma. Eh, sampai di kantor masih tetap saja, trus saya ke UKS, dan saya dikasih alat Ventolin, alat penghirup yang mengandung salbutamol itu. Aduh, kok keliatan parah gini.

Setelah itu saya ke klinik kampus di sebelah SMK. Katanya sih saya sakit maag. Lha, ini yang mulai curiga, kenapa saya sesak nafas tapi kok didiagnosis maag. Penasaran semakin menggila :(. Okkay. Kita akhiri kisah sampai di sini. Saya tidak menyadari kali ini jika penyakit ini berawal dari lambung. Cuek. Ternyata obat Mas Dokter belum berefek joss terhadap tubuh saya. Waktu itu saya beli habbatus sauda, dan alhamdulillah end. Maksudnya penyakitnya yang end ;p.

2013. Ini tahun yang sedikit menyeramkan saya menjalani sakit yang tidak terdiagnosis sakit oleh dokter, bahkan dokter spesialis dalam sekaligus. Sekitar bulan September, tanggal 20 hari Jum’at malam (kalau saya tidak lupa), saya merasakan tenggorokan saya berbunyi ketika bernapas, sangat berat dan susah, terlihat seperti orang yang sedang nazak (nafas-nafas terakhir kematian), aduh, parno sekali. Saat itu saya benar-benar berpikir akan dipanggil Alloh swt, kembali kepada-Nya. Dari kamar tidur saya berusaha keluar meminta pertolongan, sembari saya meminum air yang berada di meja dekat kasur. Allohu Akbar. Saya tidak jadi mati ^_^.

Teman tetangga kamar kos pun terkejut (kayaknya sih terkejut ;p mendengar reaksi teriakan saya). Ia mengira saya sedang mengigau, wow. Kemudian saya ceritakan kronologisnya dan dia percaya bahwa saya berteriak-teriak tersebut karena kesusahan bernapas.

Tiba-tiba suara saya menjadi parau, serak, dan sakit. Saat itu juga saya diantar teman ke rumah sakit terdekat, yaitu Rumah Sakit Dok II Jayapura, sekitar jam 11 malam. Apa yang dilakukan dokter adalah memeriksa dada saya dengan stetoskop dan menyentuh nadi di pangkal telapak tangan saya, kemudian dokter tersebut langsung mendiagnosis saya kena sakit asma. Oh tidak….. Syok sekali mendengarnya. Sakti sekali dokternya tanpa mendeteksi sakit dengan perlatan medis yang memadai langsung mendiagnosis saya terkena asma, hanya dengan berbekal informasi bahwa saya pernah merasakan sesak napas sewaktu kecil, itupun tidak lama dan tidak muncul lagi hingga sekarang. Apa iya sakit asma yang sudah sembuh bisa kambuh lagi setelah lebih dari 20 tahun kemudian? Oh, saya harus mencari second opinion, ya ke dokter lain, atau ke rumah sakit lain.

Senin dini hari, 23 September 2013, dalam kondisi panik dan tidak bisa tidur, saya tidak bisa bernapas lega, parno. Kepala berat, hidung seperti mampet, dan saya berusaha mengeluarkan sesuatu yang mengganjal di tenggorokan saya. Iya, dahak, lebih mirip dengan lendir sebenarnya. Ketika saya berhasil mengeluarkan lendir tersebut, saya merasa sedikit ringan, namun itu tidak untuk waktu yang lama. Kemuadian saya meminta bantuan anak pemilik kos yang kebetulan saat itu berada di rumah. Yup, dini hari sekitar jam 2, saya kembali ke rumah sakit. Kali ini menuju ke rumah sakit Marthen Indey, di Jayapura. Saya dirujuk ke dokter umum, karena saat itu yang hanya ada adalah dokter umum jaga UGD. Saya bilang gejala yang saya alami. Kemudian salah satu perawat memeriksa tekanan darah saya dan ternyata dalam kategori tinggi, 149-80. Wow, saya panik, tapi lebih tenang dan reda ketika berada di rumah sakit. Saat itu saya diberi resep yang saya lupa macam obatnya apa saja, yang jelas bukan untuk penyakit yang baru kemudian saya ketahui.

Kemudian saya pulang dan merasa lebih lega. Aneh, kok tiba-tiba reda serangannya, seperti serangan jantung saja, padahal obat belum diminum. Paginya, sekitar jam 8an, saya ijin kembali ke rumah sakit untuk memeriksakan keadaan lebih lanjut. Langsung saya ke poli penyakit dalam (daftar dulu ke bagian administrasi ;p), masih di rumah sakit yang sama, RS Marthen Indey, Jayapura. Ketika menemui dokter spesialis, saya menyampaikan keluhan yang lagi-lagi saya perlu menjelaskan dengan detail. Saya diminta foto (dada), urin, dot, dan darah.

Pada hari pertama, hasil foto sudah dapat diketahui, kemudian saya tunjukkan ke dokter, dan, teng teeng… Kata beliau saya mengalami infeksi paru :(. Syok lagi, tambah stress. Apa salah saya coba? Merokok tidak, minum miras juga tidak, selama di kos saya merasa menghirup udara normal? So, whats wrong with my lung? Seketika itu saya diberi resep obat antibiotik, obat darah tinggi (karena sebelumnya saya menginformasikan formasi nilai tekanan darah saya ;p), dan obat racikan dari dokter (saya tidak tahu), sepertinya untuk meredakan tenggorokan (lendir dan batuk). Obat-obatan ini masih belum bisa meredakan atau meringankan penyakit saya.

Hari rabu, 25 September 2013. Eaaa, ke rumah sakit lagi untuk mengambil hasil tes urin, dot, dan darah. Hari itu juga saya menjalani USG. Apa kata dokter? Hati saya bermasalah, banyak lemak di lapisannya. Dueng… Namun hasil tes dot menunjukkan kalau saya negatif terkena TBC. Ginjal juga diperiksa. Alhasil, saya dikasih tambahan obat, berupa peluruh batu ginjal, antibiotik, obat asam urat. Aduh, pusing deh. masih muda gini kok didiagnosis yang macem-macem.

Jumat, 27 September 2013. Mengalami sesak lagi dan tenggorokan mengganjal ketika khotbah Jumat akan dimulai. Saya mengurungkan niat mengikuti sholat Jumat dan kembali ke kantor. Saya ganti dengan sholat dluhur kemudian ijin pulang beristirahat. Eh, sesampai di rumah, kumat lagi, astaghfirulloh. Saya kontak orang kantor untuk minta tolong mengantarkan saya lagi ke rumah sakit. Kali ini ke UGD lagi, saya diuap. Aduh, baru pertama kali nih sepanjang hidup saya diuap. Eh, setelah itu tenang lagi, tangan saya merasakan kram. Saya bilang ke dokter penjaga UGD, bahwa saya telah memeriksakan diri ke poli dalam, namun saya masih merasakan gejala yang sama. Sang dokter mengatakan itu tidak apa-apa, efek dari obat. Wow? Efek dari obat? Bisa end kalau terus-terusan begini. Masalahnya, saya merasa sudah terlalu banyak meminum jenis obat. Saya masih belum sadar dengan penyakit GERD saya.

Sore itu juga saya memesan tiket ke Makassar, untuk memeriksakan diri ke rumah sakit yang mempunyai fasilitas medis yang lebih memadai daripada di sini. Saya mengontak istri (kebetulan istri saya sedang di Makassar) untuk menyiapkan akomodasi saya. Saya selalu berdoa agar perjalanan saya hari Sabtu, 28 September diberi keselamatan oleh Alloh.

Saya bertekad untuk menghentikan obat-obatan kimia dari dokter tersebut, karena setelah saya minum obat, saya merasa sesak kembali. Saya mulai meyakinkan diri bahwa paru, ginjal, dan hati saya tidak ada masalah. Selama perjalanan dalam pesawat, saya berkali-kali merequest air hangat ke pramugari. Untungnya pramugarinya care dan mengerti kalau saya sedang sakit. Sempat berpikir berkali-kalai, bagaimana jika saya mati di dalam pesawat, aduh good bye istriku :(. Masalahnya, tenggorokan saya mulai mengganjal lagi ketika di dalam pesawat, kedinginan pula, dan agak susah bernapas. Saya mengalihkan perhatian dengan menonton film pendek humor yang terdapat di display entertainment pada setiap seat di pesawat Garuda Indonesia. Ketika ada hal lucu, saya mulai merasa ringan lagi. Namun, sesekali kumat sesaknya. Dari sini saya mulai berpikir lagi, saya merasa jika kondisi pikiran panik, maka akan meningkatkan efek penyakit ini. Ya, saya mencoba menenangkan diri.

Alhamdulillah, sekitar jam 5 sore, dengan GA 655 saya mendarat di Bandara Sultan Hassanuddin Maros, kemudian saya melanjutkan ke Makassar untuk menemui istri di kantor, sembari beristirahat. Dalam perjalanan dari kantor istri ke penginapan hanya sekitar 200 meter. Namun, kali ini saya merasa sangat kelelahan. Hanya jalan 200 meter saja, keringat saya bagaikan air hujan, nafas ngos-ngosan. Belum pernah saya merasakan secapek ini, diiringi kepala yang berat keliyengan. Subhanalloh, benar-benar menguji kesabaran saya. Dan dahsyatnya, ini benar-benar mengingatkan saya akan kematian, alhamdulillah. Karena kelelahan itu saya harus beristirahat di penginapan hingga akhirnya hari minggu, 29 September 2013 saya memberanikan diri ke rumah sakit diantar istri.

Siloam Hospital, 29 September 2013, sekitar jam 10 pagi. Karena hari minggu, praktik dokter spesialis libur (dokter spesialis adalah dokter yang spesial butuh libur di hari minggu dan hanya dapat dijumpai di jam-jam tertentu 🙂 ). Saya menemui dokter umum dan beliau menyarankan saya untuk medical check up. Saya kemudian meminta surat referensi, beliau hanya meresepkan saya vitamin dan obat sesak (yang hanya dikonsumsi ketika sesak).

Masih sering berkeringat banyak, senin, 30 September 2013. Saya dan istri mencoba bergerak lagi, gerakan 30 september, bukan untuk membantai orang lain, tapi untuk melawan penyakit ini. Sesekali saya masih sesak, kepala keliyengan dan terasa berat, tenggorokan mengganjal, dan kadang-kadang dada seperti nyut-nyutan. Saya harus kuat. Karena saya yakin paru-paru saya tidak bermasalah, maka saya tidak mengkonsumsi obat sesaknya. Saya haya minum vitaminnya saja. Selama satu hari ini, saya menjalani MCU, meliputi pemeriksaan darah, urin, detak jantung, faal paru, dan foto lagi.

Rabu, 2 Oktober 2013. Saya mengambil hasil MCU sekaligus dirujuk ke dokter spesialis penyakit dalam. Apa kata dokter? Ini sungguh berbeda 180°. JANTUNG SAYA NORMAL, PARU-PARU SAYA NORMAL, GINJAL SAYA NORMAL, KEADAAN LIVER SAYA JUGA MASIH DALAM BATAS TOLERANSI (Berlemak karena gemuk). What??? Dokter tersebut hanya bilang kalau saya sedang stress karena kelelahan atau kebanyakan berpikir berat. Woww… Amazing :D. Sebenarnya ini jawaban yang saya inginkan dari dokter, bahwa organ-organ vital dalam tubuh saya tidak bermasalah. Namun, apa iya hanya karena stress? Akhirnya masalah penyakit saya mengerucut di bagian tenggorokan (dan kerongkongan). Kemudian saya dirujuk ke dokter spesialis THT. Setelah diperiksa dengan ENT Procedure, diketahui bahwa daerah seputaran kerongkongan saya meradang, seperti terlihat luka di dalamnya. Dari dokter THT saya kemudian diberi resep 2 obat, yaitu antibiotik dan obat pengencer dahak. 1 lagi atas resep dokter MCU melalui dokter THT adalah curcum, adalah vitamin hati.

Sabtu, 5 Oktober 2013. Hari itu saya tidak mengikuti upacara hari TNI. Saya kembali ke Rumah Sakit Siloam Makassar untuk memeriksakan perkembangan saya. Saya langsung menemui dokter spesialis THT karena sebelumnya sudah janjian. Saya bilang kalau keadaan saya sudah membaik, namun sesekali masih merasakan sesak, namun ringan. Kemudian saya diberi resep yang sama untuk pengobatan beberapa hari. Atas saran dokter juga, saya melakukan pemeriksaan esophagus, sebuah cairan mirip susu diminum dan kemudian difoto. Dari hasil lab kemudian, saya bisa melihat alur minuman tersebut dari kerongkongan sampai ke lambung. Karena waktu terbatas dan saya harus kembali ke Jayapura pada hari minggunya, maka hasil lab diambil ketika istri saya melakukan kunjungan kerja lagi ke Makassar.

Hellooo, mari kita sekarang bicara hitung-hitungan. Bersyukurlah kalian akan nikmat sehat yang Alloh berikan kepadamu, karena sehat itu mahal dan sangat mahal harganya. Baiklah, berapa uang yang harus dirogoh selama kurang lebih 2 MINGGU tersebut?

  • Biaya jasa medis, laboratorium, dan obat-obatan sebesar Rp 6.643.808,-
  • Biaya pesawat Jayapura-Makassar PP sebesar Rp 3.766.400,-
  • Penginapan Rp 1.050.000,-

Jika dijumlahkan, akan menemui angka Rp 11.460.208,- Subhanalloh… Ini belum termasuk biaya transport lokal lho yaa….

Bersambung… BAGIAN 2

Advertisements

Posted in Cerita dan Pengalaman, Ide dan Opini | Tagged: , , , , | 8 Comments »

Jalan-jalan Perdana bersama Zawjatiku, Iswanti Syahrul

Posted by Darwis Suryantoro on September 4, 2013


Hehehe, tumben nih, makin rajin ngeblog, tak lain adalah karena rasa semangatku dan mood yang baik setelah sekian lama vakum menulis. Wokey, sayang sekali kalau momen ini tidak diabadikan, coz ini adalah saat-saat yang paling berkesan bersama istriku (zawjaty).

Alhamdulillah, setelah 4 hari melewati masa yang sangat sibuk dari pra nikah, proses, dan pasca nikah, akhirnya kami dapat berlibur. Ini ceritanya liburan perdana, jalan-jalan bagi pasangan baru. Orang bule sih bilang honey moon, tapi aku lebih suka bilang nge-date perdana. Maklum, dari awal proses sampai nikah, kami hanya bertemu sekitar 5 kali saja, dan belum pernah jalan bareng.

Cie..cieee… Ahahah, oops, hari minggu, 18 Agustus 2013, yuhu kami bertolak ke Malang melalui penerbangan Ujung Pandang ke Surabaya. Kenapa harus Malang? Humm, itu karena Malang adalah tempat yang romantis buat pacaran, hihihi (maaf yaa, yang belum nikah). Aku ingin mengajak istriku berkeliling Malang dan Batu.  Tapi ada satu hidden agenda yang akhirnya ketahuan istriku, hihihihi. Sebenarnya aku ingin mengajak istriku kelak untuk menetap di Malang.

Alhamdulillah, sore harinya, ba’da magrib kami sampai di Malang, Brrr, dingiiin ^_^, maklum dah lama tidak ke daerah tersebut. Setelah menaruh barang di hotel, aku mengajak istriku makan malam. Ini, akan menjadi dinner pertamaku bersama istri di luar rumah. Aku coba cari tempat yang romantis tapi cukup elegan bagi eksektif muda. Kuajak dia ke Warung Ndeso, salah satu rumah makan bernuansa Jawa dengan lampu yang sedikit redup, tanda romantis. Warung ini terletak di Jalan Pulosari No.25, Malang. Kebetulan pemiliknya adalah ayah dari muridku dulu. Istriku cukup menikmati masakannya, alhamdulillah, romantis euy… ^_^ (maaf yah, ga pake diceritain di sini hal-hal romantisnya).

“Cap Jaynya enak, Mas.” Ya eya laah, Malang geto. “Makanya ntar tinggal di Malang aja, ya.” (dalam hatiku berkata, wkwkwk).

Setelah makan malam kami keliling kota hingga mendekati tengah malam, akhirnya kembali ke penginapan dan beristirahat. Capek, lelah, tapi sangat berkesan.

19 Agustus, ciee…. Saatnya jalan-jalan ke…. Jatim Park 2, yang di dalamnya terdapat Batu Secret Zoo dan Museum Satwa. Paginya kami ke Warung Assalaamu’alaikum dulu untuk singgah sarapan. Astaghfirulloh ^_^, semoga nih menu tidak termasuk dalam kategori yang berlebihan ^_^.

Bersama Istri Sarapan di Warung Assalaamu'alaikum

Bersama Istri Sarapan di Warung Assalaamu’alaikum

Dalam status istriku pada hari tersebut, disebutkan: “Sarapan itu….nasi uduk, gado2, ayam penyet, lele goreng, sambel teri, sambel terong, tempe penyet, jamur kremes, lemon squash n lemon tea, ehehhehe.”

Alhamdulillah, berarti selera makannya sama denganku ^_^.

My Zawjaty, sedang menikmati pemandangan fosil kupu-kupu

My Zawjaty, sedang menikmati pemandangan fosil kupu-kupu

Sehabis sarapan kami bergegas ke Batu, melanjutkan perjalanan wisata kami ke Batu Secret Zoo dan Museum Satwa. Batu Secret Zoo menawarkan ilmu pengetahuan tentang hewan-hewan dari level tidak langka hingga langka, dan terdapat bervariasi jenis binatang yang menjadi koleksinya saat ini.  Sementara di Museum Satwa diperlihatkan banyak contoh fosil dan replika hewan purba di seluruh dunia beserta pengetahuan umum di dalamnya.

Alhamdulillah, perjalanan ke Jawa Timur Park 2 ini membuat kami kelelahan, namun menyenangkan ^_^.

Ting-tung, ada sms, hihihi. Ternyata datangnya dari muridku, Az Zahra. Az Zahra adalah nama panggilan online bagi Mona Andriana, seorang alumni siswi SMKN 8 Malang yang dulu pernah kuajar pada beberapa mata pelajaran Teknik Komputer dan Jaringan. Karena dia tahu aku sedang berkunjung ke Malang bersama istriku, dia ingin bersilaturrahim sekalian ingin berkenalan dengan istriku. Alhamdulillah, kami bertemu di sebuah rumah makan lesehan, Ocean Garden. Dia datang bersama sahabatnya, Adinda Nabihah, begitu nama panggilannya di salah satu media sosial internet.

By the way cerita tentang mereka berdua, dulu ketika aku masih mengajar di sekolah tersebut, aku pernah terlibat dalam percomblangan Islami mereka berdua dengan kedua teman guruku. Ahahaha, semoga ini masuk dalam kategori yang diperbolehkan. Aku peka melihat perilaku mereka seperti ada sesuatu yang cetar di dalam hatinya ketika mereka bertemu dengan guru (yang sangat mungkin pada waktu itu adalah menjadi guru favoritnya). Sehingga akupun sempat melakukan cross check untuk mengkonfirmasi ketertarikan teman guru tersebut kepada mereka. Dan, tha thaaa… Kedua temanku ternyata tertarik, ahahaha. Deng dong, lantas mereka ambil sikap ta’aruf, hingga pada perjumpaan kepada orang tua pihak si akhwat. Kelanjutannya bagaimana? Inilah yang menjadi gojlokan kami kepada Az Zahra dan Adinda agar segera menikah, mengingat usia mereka sudah cukup matang saat ini untuk menikah.

Jadi, kamu kapan Mon, jadi kamu kapan Dind?

Sipu-sipu malu lah mereka, wkwkwkw, bahasa apa itu sipu-sipu. Bismillaah, semoga Alloh melancarkan urusan kalian yang baik-baik ya, Nduk! Aamiin… ^_^

Okkay, kurang lebih setengah jam kami bertemu, tak terasa maghrib pun tiba, dan sayang sekali kami tidak bisa melanjutkan perbincangan lebih jauh. Di samping waktu sholat sudah tiba, jadwal kami juga padat pada waktu itu. Lantas kami bergegas ke Masjid Al-Ghifari di area Jalan Soekarno-Hatta Malang.

Sawojajar. Tahukah kalian bahwa di kelurahan ini terdapat perumahan terbesar di Asia Tenggara, yaitu Perumahan Sawojajar. Di daerah ini aku pernah menimba ilmu di SMK Telkom, sekaligus tinggal selama bertahun-tahun dalam proses hidupku merajut asa.

Kulihat mendung tak menunjukkan tanda-tanda berjatuhannya rerintik hujan (ciee… ini mulai puistis nih, soalnya akan bertamu ke salah seorang teman yang sekaligus kakak kelasku yang juga penggiat sastra). Kala itu dingin, disertai bergugurannya dedaunan seraya menyapa kami, “berjalanlah menuju tempat-tempat yang engkau suka, kami di sini akan mengiringi perjalanan cintamu.” Ihiirrr…. (opo aee….). Sontak kami kaget berdetak sedikit kencang walau tak sampai terlepas dari rongga dada kami. Apa itu? Jantung (ahahaha, bercanda). Putaran roda yang sengaja tidak kuputar secepat putaran yang biasa kulakukan, sontak mengingatkanku pada malam penuh kenang melewati jalanan yang tak begitu berliku. Tapi aku merasa, aku pernah hidup di sana dengan banyak belokan dan tikungan tajam, melewati hamparan waktu yang mendewasakan pikiran dan hatiku.

Malang. Di sini adalah tempat di saat aku pernah menyimpan dan membuang segala egoku. Tempat aku menata hati, tersenyum dalam berondongan caci-maki, tempat aku mulai terbangun dari impian-impian kosong dan bergegas merajut asa, menjalin mimpi. Tempat di saat aku mulai mengerti dan memahami, bahwa cinta itu harus memiliki. Tempat di mana aku harus memutuskan untuk berhijrah, menjemput sesuatu yang pasti. Astaghfirullah hal’adziem, jadi melantur ke mana-mana, eheheh.

Next trip, kami menuju Sunbae Rahmat untuk silaturrahim, sebenarnya ada satu lagi yang ingin kami kunjungi di perumahan itu, Ustadz Arif Kurniawan, yang juga sebagai staf pendidik di SMKN 9 Malang, namun waktu kami sangat terbatas saat itu.

Sunbae Rahmat, ya, teman yang pernah tinggal satu kontrakan denganku, sekaligus senior dalam berbagai hal. Merasa kehilangan dia setelah menikahi anak gadis orang lain bernama Vera, seorang akhwat sekaligus murid dan adik tingkat jauh sealmamater di sekolah, yang kebetulan juga aku pernah menuntut ilmu di sana. Ahahaha, bukan merasa kehilangan karena dia telah melepas masa lajangnya (walaupun dikit sih karena iri dia menikah duluan ;p), namun karena akan kehilangan waktu berbagi pengalaman dengannya. Yup, tidak ada hal khusus yang kami bicarakan sebagaimana yang pernah kami lakukan dulu, kecuali saat kami bergegas berangkat dan pulang dari sholat Isya’ di Masjid Manarul Islam.

Lapar? Sepertinya iyah ^_^. So? Obatnya lapar ya makan Mas Bro ;p. Ayam Bakar Lientang, di Sawojajar. Ayuuk. Alhamdulillah ya, cukup mengisi kekosongan perut malam itu, juga berkesempatan langka bertemu dengan para jomblowan senior, Pak Guru Wasis dan Bamz.

Bersama Wasis dan Bambang

Makan Malam di Ayam Bakar Lientang

Teng-tong, apa yang kami bincangkan? Hihihi, sepertinya mereka malu membincangkan tentang rencana pernikahan mereka di hadapan istriku. Jadi, yaa, lebih banyak cerita tentang hal lain. Maklum, dua teman saya ini paling vokal menyuarakan tentang pernikahan.

Lanjut perjalanan menuju Jalan MT Haryono, di daerah Dinoyo, untuk bertemu Lisa, sahabat istriku sewaktu jaman kuliah dulu. Wah, aku tidak begitu paham apa yang mereka bincangkan, karena mereka memakai Bahasa Makassar, dan aku pura-pura mengerti ;p.

Nenek, I’m coming :), Gondanglegi, 20 Agustus 2013.

Kok pintar kamu, Wis!

Nenek dan Pak Dhe mengucapkan kata-kata di atas (setelah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia), bahwa saya pintar. Maksudnya apa? Ahahaha, ternyata maksud mereka, saya dibilang pintar milih istri. Ya alhamdulillah, ini sesuatu ^_^. Alhamdulillah juga sudah memenuhi permintaan nenek untuk agar aku mempertemukan istriku dengan beliau untuk bersilaturrahim, sehingga beliau lega adanya.

Akhirnya saatnya kami mengembalikan motor pinjaman yang kami pakai untuk berkeliling Malang dan Batu. Pak Bamz menyetujui kalau tempat pengembaliannya adalah di sekolah. Waah, sekolah? Ini berarti kami akan ke SMKN 8 Malang, tempat aku mengajar dulu.

Bersama Mom Zahroh dan Bu Lizza, 21 Agustus 2013

Bersama Mom Zahroh dan Bu Lizza, 21 Agustus 2013

Beliau Mom Zahroh, merupakan guru SS (super senior) di SMKN 8 Malang dan mengajar Bahasa Inggris. Setelah mengetauhi bahwa istriku adalah alumni di salah satu lembaga pendidikan keuangan syariah di Malaysia, beliau malah asyik mengajak ngobrol istri dengan berbahasa Inggris, kemudian meminta kami untuk menuju ke ruang guru untuk diperkenalkan. Nih padahal tujuan semula hanya untuk mengembalikan motor dan hanya berhenti sampai tempat parkir saja, namun akhirnya silaturrahim juga dengan teman-teman guru di sana.

Kursi Terdepan Perjalanan Pulang bersama Akas Green

Kursi Terdepan Perjalanan Pulang bersama Akas Green

Alhamdulillah, setelah kami packing ke hotel, yuhuu, menuju ke Terminal Arjosari untuk melanjutkan perjalanan ke Jember. Dan berakhirlah jalan-jalan kami ke Malang untuk sesi ini ^_^. Berharap Insya Alloh bisa menjumpai (atau bahkan menetap di sana?) kota itu lagi di lain waktu, aamiin.

 Thanks to:
Alloh swt, Rasululloh saw

Tribute to:
Wasis Isuramu Kyoto
Abdullah Ibn Bamz
Lisa
Az Zahra Andriana
Adinda Nabihah
PO Akas Green
PO Akas Asri

Posted in Cerita dan Pengalaman | Tagged: , , , , | Leave a Comment »

Prosesi Pernikahan (kami) ala Bugis

Posted by Darwis Suryantoro on August 28, 2013


Assalaamu’alaikum,

Di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, 18 Agustus 2013

Di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, 18 Agustus 2013

Saatnya berbagi cerita nih. Seperti yang disebutkan sebelumnya, saya telah menerangkan beberapa hal tentang prosesi melamar (khitbah) perempuan dari suku Bugis. Kini alhamdulillah, setelah jeda 2 bulan, akhirnya kami dapat melangsungkan prosesi pernikahan. Perlu di ketahui, orang-orang Bugis tidak akan mengambil waktu yang sangat lama antara jeda lamaran dan nikah, biasanya sih satu bulan saja. Namun, kami memutuskan jeda dua bulan.

Kata siapa prosesi pernikahan adat Bugis itu complicated? Emang iya kok, hehehe. Bila dibandingkan dengan Jawa, memang sedikit lebih rumit proses pernikahan di daerah yang berpenghuni suku Bugis. Untuk acara akad kami yang dilaksanakan pada 15 Agustus 2013, saya harus datang sehari sebelumnya dan baru bisa keluar wilayah di hari ke-3 setelah pernikahan.

Ok, saya akan cerita nih pengalamannya. Saya ini kan orang Jawa, jadi masih sedikit buta dengan budaya suku lain. jadi, sebelum acara akad, saya memutuskan untuk pulang kampung dahulu sekalian menikmati Idul Fitri bersama keluarga di rumah. Terbanglah saya bersama Sriwijaya Air dari Jayapura ke Surabaya pada 3 Agustus untuk mengambil cuti. SJ 581 berangkat dari Jayapura ke Makassar, estafet SJ 567 dari Makassar menuju Surabaya. Kemudian lanjut dari bandara Juanda menuju terminal Purabaya untuk estafet ke Jember, rumah kedua orang tua saya. Alhamdulillah bisa bersilaturrahim bersama keluarga di kampung halaman.

Seserahan. Humm, ini jadi hal yang berhari-hari melayang-layang dalam pikiran saya. Beberapa pertanyaan seperti: berapa jumlah seserahan; bentuknya apa saja; diberi wadah yang seperti gimana; dan masih banyak lagi. Alhamdulillah akhirnya nemu jalan keluar. Pihak calon mempelai wanita akan membantu proses packing ketika saya sudah sampai di Pangkep. Pihak akhwat memberi keringanan untuk tidak membawa kue dari rumah pihak laki-laki, karena pasti akan kerepotan.

Deng-dong, semakin dag, dig, dug. Tanggal 13 Agustus, saya bersama keluarga, berangkat dari Jember ke Surabaya. Menggunakan Bus PATAS berlabel Akas Asri, berangkat dari terminal Jember sekitar pukul 7.30 WIB, kebetulan kondiktur bus adalah tetangga dekat kami, jadi kami dijemput di depan gang rumah menuju terminal sebelum ambil pool di terminal Tawangwalun Jember. Alhamdulillah, perjalanan selamat sampai tujuan dalam waktu krang dari 5 jam, kemudian kami singgah di rumah kakak sepupu di kompleks industri Sidoarjo.

Untuk berangkat ke Makassar, kami memutuskan untuk membagi menjadi dua kelompok penerbangan (hehehe, seperti naik haji saja, aamiin), yaitu kloter tanggal 13 malam, saya bersama adik bungsu saya, Dendi. Kemudian kloter kedua, 14 Agustus pagi, adalah bapak, ibu, dan adik perempuan saya. Pertanyaannya adalah, kenapa kami harus membagi penerbangan menjadi 2 kloter? Ada 1 alasan utama yang merupakan ikhtiar kami untuk menghindari pembatalan pemberangkatan pesawat secara bersamaan. Jadi skenario terburuknya adalah jika maskapai membatalkan penerbangan saya pada 13 Agustus, maka ada cadangan penerbangan di hari esoknya dengan menggunakan KTP bapak saya ^_^, astaghfirullahal adziim.

Saya dan adik bungsu saya, akhirnya terbang bersama Garuda Indonesia dengan pesawat Bombardier CRJ 1000 dengan nomor penerbangan GA 667 dari Surabaya ke Makassar pada selasa malam, 13 Agustus 2013, disusul bapak, ibu, dan adik perempuan saya pada keesokan harinya dengan maskapai yang sama, jenis pesawat 737-800NG nomor penerbangan GA 631. Alhamdulillah kami selamat sampai tujuan.

Ok, lanjut yah. Rabu pagi, 14 Agustus 2013, saya dan Dendi, dijemput paman di sebuah hotel di Jalan Sungai Saddang yang kemudian melanjutkan perjalanan ke Bandara Sultan Hassanuddin untuk menjemput bapak, ibu, dan adik perempuan saya, Anisa. Setelah menjemput, kami istirahat sejenak di rumah saudara istrinya paman, dan dilanjut dengan membeli buah-buahan dan kue untuk seserahan. Kemudian, sorenya, kami lanjutkan perjalanan menuju Pangkep, dan bermukim sementara di sebelah rumah calon mempelai wanita untuk mempersiapkan segala sesuatunya di sana.

Sore hari, temen-temen akhwat dari calon istri saya, Hermita Arif dan Suriani Cuyya, alhamdulillah datang ke penginapan kami untuk membantu proses packing seserahan dan beberapa hal lain yang terkait dengan prosesi pernikahan. Wah, saya benar-benar bersyukur, ada banyak kemudahan dalam proses kami. Ba’da maghrib, saya didatangi seseorang untuk dimandikan. Katanya sih untuk proses pembersihan diri. setelah itu, semua pakaian yang digunakan dalam proses pemandian tadi, diserahkan kepada yang memandikan.

Mapacci. Hummm, ini satu rangkaian yang tidak boleh dilewatkan bagi kedua calon mempelai. namun biasanya jika calon mempelai laki-laki berasal dari luar suku dan berasal dari tempat yang jauh, ia tidak diikutkan dalam acara ini. Saya sendiri bagaimana? Saya diikutkan mapacci. Biasanya, mapacci ini dilakukan sendiri-sendiri, terpisah di kediaman calon mempelai laki-laki dan perempuan. Namun, ini kondisi khusus untuk kami, karena saya berasal dari jauh, maka saya dan calon istri melakukan prosesi mapacci di rumah yang sama. Mapacci sendiri, dalam bahasa yang disederhanakan, diartikan sebagai tradisi melepas lajang. Untuk keterangan rangkaian acaranya, bisa dilihat di sini. Kami melaksanakan prosesi ini mulai dari ba’da Isya’ hingga sekitar jam 22.00 WITA. Alhamdulillaah, setelah itu istirahat.

15 Agustus 2013. 8 Syawal 1434 H, bertepatan dengan hari kamis, adalah hari yang cukup mendebarkan bagi saya, karena ini menjadi hari yang paling bersejarah dalam hidup, yaitu akad nikah, ijab qobul. pada hari tersebut, orang tua calon mempelai melakukan serah terima jabatan (baca: sertijab) untuk memberikan tanggung jawabnya terhadap anaknya ke saya. WOW… ^_^. Sesuatu…

Sekitar pukul 10.15 saya bersama pasukan pembawa seserahan menuju rumah calon mempelai wanita. Di sana sudah banyak tamu yang siap menyaksikan prosesi akad nikah kami, disertai penghulu dan para saksi.

Saudara Darwis, saya nikahkan saudara dengan Iswanti binti Sahrul dengan mahar satu stel emas, tunai.

Sah…. Lho…. ^_^, dijawab dulu:

Saya terima nikahnya Iswanti Syahrul bintu Sahrul Karim dengan mahar satu stel emas, tunai.

Alhamdulillah, sah. Kemudian diiringi doa seperti yang dituntunkan Rasulullah saw.

Pada saat akad nikah, mempelai wanita tidak berada bersama mempelai laki-laki yang sering kita jumpai di Jawa. Mempelai wanita ditempatkan di tempat terpisah, yaitu di kamar pengantin. Setelah ijab qabul selesai, saya dituntun menuju ke kamar mempelai wanita. Kami berdua akan dipertemukan (mappasiluka/mappasikarawa). Namun, sebelum masuk kamar, saya dihadang oleh dua penjaga di depan pintu. Mereka melarang saya masuk ke kamar tersebut. Hummm, untung saya dibantu oleh mertua paman yang bisa berbahasa Bugis untuk nego agar bisa masuk. Alhamdulillaah, hehehe, masuklah saya ke kamar pengantin. Setelah itu kami tukar cincin, istri mencium tangan saya, dan saya (hehehe) mencium kening istri (udah jadi suami yang sah lho yaaa), kemudian foto bersama.

Marellau Dampeng. Kami kemudian keluar dari kamar pengantin, kemudian melakukan prosesi memohon maaf, kepada bapak ibu dan mertua. Setelah itu kami didudukkan di pelaminan untuk mendapatkan ucapan selamat dari undangan yang hadir waktu itu. Hingga sholat dhuhur berlalu, lalu kami beristirahat.

Mapparola. Kami melewatkan prosesi ini. Mapparola yaitu kegiatan menjamu keluarga pengantin wanita di kediaman pengantin pria. Namun, karena saya dari Jawa dan tidak memungkinkan dilakukan pada waktu itu, maka kami skip acara tersebut.

Malam harinya, resepsi pernikahan dilaksanakan. Sama seperti pernikahan umumnya di Indonesia, setelah akad nikah selesai, maka acara berikutnya adalah resepsi, dimulai ba’da Isya hingga sekitar pukul 22.30 WITA. Cukup melelahkan bagi kami, dengan rangkaian acara yang bertubi-tubi. Tapi rasa syukur ini tak terkira, karena peristiwa pernikahan ini adalah anugerah Alloh yang luar biasa, yang menjadi pembuka sejarah kehidupan kami, untuk mengarungi hidup bersama.

Esoknya, 16 Agustus 2013 bertepatan 9 Syawal hari Jumat, kami masih menerima tamu seharian. Rasa kantuk dan lelah kami masih belum tertahankan, sesekali kami ke kamar tidur hanya untuk menghapus kelelahan, mencuri-curi (humm, lebih tepatnya mencari-cari) waktu untuk tidur, hanya sekedar 10 atau 20 menit. Pada hari ini, bapak, ibu, dan kedua adik saya bertolak ke Makassar untuk jalan-jalan dan belanja.

17 Agustus 2013, adalah prosesi terakhir kami, yaitu ziarah kubur. Alhamdulillah selesai sudah ^_^, setelah itu baru kami bisa keluar rumah. Tha.. thaaa… Nge-date pertama bareng istri, maem bakso Malang. Lha, hehehe, ternyata bakso ini ada di kampung istriku. Nyam… nyam… Esoknya, mulailah jalan-jalan perdana kami, ke Malang.

Dengan mengucap istighfar, astaghfirullah hal ‘adziem, kami memohon maaf kepada Alloh atas segala kesalahan dan kekhilafan kami. Wassalaamu’alaikum.

Thanks to:
Alloh swt
Rasululloh saw
Kedua orang tua kami dan keluarga besar

Tribute to:
Penghulu dan para saksi
Mita dan Cuyya, yang sudah banyak membantu dalam proses pernikahan kami
Comblang senior: Bang Joshua, Mbak Ratna, Mbak Wana, Mbak Yuni (joss deh)
Fotografer dan video editor: Bang Alau (thanks buat gratisannya)
Para undangan yang telah hadir dan berdoa untuk kami
Sriwijaya Air SJ 581 DJJ (08:00) – UPG (10:30) 3 Aug 2013
Sriwijaya Air SJ 567 UPG (16:30) – SUB (17:00) 3 Aug 2013
Garuda Indonesia GA 667 SUB (18:40) – UPG (21:10) 13 Aug 2013
Garuda Indonesia GA 631 SUB (05:25) – UPG (07:55) 14 Aug 2013
Sriwijaya Air SJ 565 UPG (09:10) – SUB (09:40) 18 Aug 2013
Sriwijaya Air SJ 563 UPG (14:30) – SUB (15:00) 18 Aug 2013
Sriwijaya Air SJ 562 SUB (23:10) – UPG (01:40) 23 Aug 2013


			

Posted in Cerita dan Pengalaman | Tagged: , , , | 3 Comments »

Rasa Syukur ini, Tak Terhingga

Posted by Darwis Suryantoro on August 5, 2013


Alhamdulillah,

Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan, akhirnya kini, rasa syukurku kupanjatkan kepada Alloh swt, sebentar lagi, Insya Alloh aku akan menjadi suami yang sah dari seorang akhwat yang aku sendiri tak menyangka ia bersedia berta’aruf denganku hingga proses khitbah terlalui dan Insya Alloh akan terhubung ke gerbang pernikahan.

All, reader setia blog ini, aku ingin memperkenalkan kepada kalian, dia calon bidadariku yang semoga terjaga kesholehannya selamanya, Wanti, sebuah nama panggilan sehari-hari yang wajahnya memancarkan sinar ketakwaan, yang meneduhkan jiwa bagi pemanggilnya. Semoga Alloh menjadikan aku sebagai imamnya, dan sebagai perantaraNya untuk menggapai impian dan doanya selama ini, menjadi ayah yang baik, teladan untuk anak-anak hasil pernikahan kami, dan pemimpin yang baik bagi mereka dan ibunya :).

Rasa syukur ini, tak terhingga kupanjatkan kepadaNya, Alloh swt, Dia yang telah menganugerahkan kepadaku segala rizki dan menetapkan aku sebagai seorang muslim dengan nikmat iman dan islam, serta ilmu yang kudapatkan, hingga dari setiap kesalahan yang aku lakukan, Dia selalu meluruskan, melalui banyak cara, termasuk ujian dan cobaan.

Semakin aku yakin bahwa rizki, jodoh, dan kematian adalah kehendak mutlak dariNya. Namun, untuk urusan rizki dan jodoh, aku semakin meyakini ‘ainul yakin, bahwa diperlukan ikhtiar yang sungguh-sungguh untuk menggapainya.

Allohu Akbar!

Posted in Cerita dan Pengalaman | Leave a Comment »

9 Juni 2013, Detik-Detik Mendebarkan

Posted by Darwis Suryantoro on June 11, 2013


Hasbunallooh wani’mal wakiil. Ni’mal maula ma ni’man nashiir.

Inilah salah satu tahapan dalam hidupku yang belum pernah kulalui sebelumnya. Mendebarkan, sekaligus melegakan. Iyah, salah satu langkah yang ditempuh sebelum menuju pernikahan, adalah khitbah.

Sabtu, 8 Juni 2013, dag, dig, dug dalam hatiku, pagi itu aku lepas landas meninggalkan Jayapura menuju Makassar dengan menumpang pesawat Sriwijaya Air nomor penerbangan SJ 585 jadwal terbang pukul 09:30 WIT. Dari rumah menuju bandara aku dijemput oleh Pak Bade, sopir kantor yang menawarkan diri untuk mengantarkan aku ke bandara. Alhamdulillah, aku tidak perlu repot-repot memesan settle bus bandara atau taksi.

Cuaca pagi itu cukup cerah, sedikit berawan, menyelimuti langit Bandara Sentani Jayapura. Subhanalloh, pesawat lepas landas dengan mulus. Sriwijaya salah satu maskapai yang kupilih karena cukup berkesan dengan kelembutan take-off dan landingnya. Di samping itu, pelayanan dari awak kabin yang ramah-ramah, cukup melegakan keteganganku pada momen hari itu.

Yup, sampai di Makassar, alhamdulillah sesuai jadwal, 13:00 WITA, Bandara Internasional Sultan Hasanuddin. Seselaesainya dari sholat Dhuhur dan Ashar pada hari itu yang kujamak, aku beristirahat sejenak di ruang pengambilan bagasi. Tak kusangka, hari itu turun dari lantai 3, ketua KPK Abraham Samad juga meninggalkan bandara terbesar di Sulawesi tersebut. Aku hanya melepaskan senyuman kepada beliau, tanpa menemuinya.

Selang sekitar 1 jam kemudian, aku ditemui oleh seseorang yang merupakan kakak dari akhwat yang sedang aku berta’aruf dengannya. Walaupun sebelumnya aku pernah melakukan komunikasi melalui telepon, tapi aku tak ragu untuk menyapanya di gerbang kedatangan bandara saat dia mencariku. “Mas Syahrir?” Kusapa dia dengan hangat. Lalu kami mengobrol sana-sini, cukup akrab untuk hitungan pertama kali ketemu :).  Dia yang akan memandu perjalanan kami menuju Bontoa, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan.

Lho, dari tadi belum cerita ya apa maksud tulisan ini? Hehehe, btw aku akan melamar ^_^. Ini peristiwa melamar untuk pertama kalinya dalam hidupku, bukan untuk melamar pekerjaan, tapi melamar anak perempuan seseorang, ya, khitbah dalam bahasa yang Islami. Aku tidak sendirian, aku didampingi kedua orangtuaku dan mertua dari pamanku yang kebetulan tinggal di Makassar. Alhamdulillah, selama perjalananku terasa ringan, bantuan sana-sini datang, dari proses pengantaran hingga penginapan, semua terencana dengan baik tanpa hambatan. Inilah mungkin yang disebut “jodoh takkan lari ke mana ^_^.”

Minggu, 9 Juni 2013, sekitaran pukul 08:20 WITA, kami bertolak dari Makassar menuju Bontoa. Di sana keluarga akhwat sudah menunggu dengan mengundang beberapa saudara dan tetangga di sekitar. Yap, mereka akan kedatangan keluarga kami dari Jawa. Terus terang ini untuk pertama kalinya aku mengkhitbah seorang akhwat dengan latar budaya yang sangat berbeda, Jawa dan Bugis.

Sekitar pukul 10:10 WITA, alhamdulillah sudah sampai, setelah mendaki gunung lewati lembah, ehehehe, bercanda. Untuk pertama kalinya pula aku, bapak, dan ibu menemui perkampungan Bugis. Ya, ciri-ciri rumah mereka adalah terbuat dari kayu, ini yang masih dipertahankan dari jaman nenek moyang mereka, karena rumah adat ini mempunyai nilai filosofis dan historis yang tinggi. Ehehe, tapi untuk keterangan lebih lanjut mengenai filosofi rumah panggung ini, silakan merujuk ke SINI.

Kami disambut sangat ramah oleh keluarga akhwat tersebut, dan tadaaaa, akhirnya proses meminang dimulai. Dari pihak kami, mertua paman membuka pembicaraan dengan kata-kata sambutan dan maksud kedatangan. Kemudian dilanjutkan dengan perwakilan dari keluarga akhwat memberikan sambutan. Selanjutnya? Yap, seperti yang biasa dilakukan oleh penduduk adat setempat, kami melakukan penyerahan panai, pembicaraan penentuan mahar, administrasi pernikahan (penyerahan kelengkapan dokumen pernikahan), dan, ini yang paling rileks, makan-makan ^_^. Aduh… dasar emang perut sudah kelaparan ;p. Alhamdulillah semua berjalan lancar.

Setelah makan siang, kami disuguhkan dengan hidangan kue-kue khas Bugis, banyak macamnya, tapi berhubung kami sedang bertamu, ya aku sedikit-sedikit jaim lah ^_^. Btw, makanan khas di sana adalah olahan bandeng lho. Ada juga Sop Saudara. Humm, alhamdulillaah.

Selama prosesi hingga acara makan-makan berakhir, si akhwat belum diperbolehkan menampakkan diri. Astaghfirulloh, sebagai seorang lelaki biasa dan bernaluri, terus terang aku tak mampu menahan rasa penasaran ingin bernadzor. Akhirnya, pihak keluarga akhwat memberikan ijin kepadaku untuk bernadzor. Masya Alloh, sesuatu ^_^. Speechless, dag, dig, dug.

Akhirnya, setelah rangkaian acara berlangsung lengkap, kami pamit untuk pulang. Aku menemani bapak ibuku ke bandara. Kami berfoto di sekitaran bandara, momen yang langka :).

Kenapa harus Bugis? Jawaban pertama adalah wallohu a’lam. Jawaban kedua cukup sederhana, dia tertawan oleh hatiku, aku juga tertawan oleh hatinya. Melalui apa? Alloh pasti turut campur dalam perjumpaan dan perkenalan kami. Lantas? Keinginan kami untuk menjaga rasa dan hati melalui jalan yang dibenarkan, yaitu pernikahan. Untuk apa? Tentu, menyempurnakan ibadah dan melangsungkan keturunan, serta menjaga diri dari perbuatan zina dan mendekati zina.

Hei, jawabannya belum pada esensi pertanyaan, kenapa harus Bugis? Kenapa tidak dengan sesama Jawa? Humm, kalau Alloh menghendaki kami bersatu dalam ikatan pernikahan, mau apa? Alloh memandang derajat kita bukan dari kadar kita dari suku mana, tapi seberapa kadar iman dan takwa kita kepadaNya.

Subhanalloh, Maha Suci Alloh yang menetapkan segala sesuatu sesuai kehendakNya. Semoga ini akan menjadi momen terbaik kami dan mengantarkan pada momen-momen terbaik dan paling baik selanjutnya. Insya Alloh. Semoga Alloh selalu menjaga dan meridloi hubungan kami dan keturunan kami dalam ikatan mulia hingga akherat kelak, aamiin.

Posted in Cerita dan Pengalaman | Tagged: , | Leave a Comment »

Cita-citaku, Ingin menjadi Sopir

Posted by Darwis Suryantoro on February 22, 2013


Lho? Assalaamu’alaikum dulu yaa….

Ngelihat judulnya saja, agag aneh yah? Masa’ Mas Darwis yang sekolah sampai ke perguruan tinggi pengen jadi sopir? Beneran nih? Eaaa, bener ^_^. Tapiii, baca dulu yah, biar ngeh maksudnya sopir yang bgemana ;p.

Dulu, sewaktu aku masih kecil, kecil banged nih, seberapa yah? Humm, masa-masa balita deh pokoknya. Aku, sering ngikut ke kelas pas bapak mengajar. Beliau mengajar di salah satu sekolah dasar di Jember, Jawa Timur. Waktu itu, bapak masih muda, gayanya kayak Rambo, badannya berotot banged, gag kayak aku yang chubby (perutnya).

Nah, biasanya bapak datang pagi-pagi, dah siap di dalam kelas sebelum pelajaran pagi dimulai. Btw, bapak ituuu, dulunya pengen jadi Insinyur Mesin, tapiii gag kesampaian, kasian yah… Kaciaan dech Luuu… (Ooops, muuph ea Pak ^_^). Celakanya, aku ngikutin beliau sampe ke kelas. Lha, ngapain? Jadi kernet :(.

Kernet itu kan, berdiri di samping pintu bis gitu, ya kan? Nah, aku melakukan hal yang sama, tapiiii beda, coz bukan berdiri di pintu bis, tapi berdirinya di pintu kelas. Huwaaa, kebayang bagaimana nakalnya aku waktu itu.

Malang, Malang… Malang… Langsung… Ayo cepaaat!

Biasanya sih trayeknya kalo gag ke Malang ya ke Banyuwangi, coz rumah kakek-nenekku ada di sana. Naahh, aku ngomong kaya’ kernet gitu sampe murid-muridnya bapak masuk kelas semua. Kalo dah pada masuk, yah aku bilang “Yhooooo”, artinya “berangkat”. Nah, kalo udah bilang begitu, biasanya aku diem (udah gag nakal lagiii). Tapi ituuh, hampir berjalan tiap hari. Karena ulahku ini, murid-murid bapak yang diajar beliau waktu itu, masih ingat aku, walaupun aku gag ingat mereka (asyik yah punya fans ^_^).

Waktuuu terus berjalan, nahh semakin dewasa (ciyehh dewasa katanya….), aku semakin sedikit agag kreatif (Lho, apa itu sedikit agag kreatif? Bahasa lain dari frase ituuh adalah “lumayan”. Gag nyambung yaa? ;p). Tempat tidurku waktu itu, bukan sepering bett, tapiii penampangnya dari divan. Divan ituuu bahasa enggres dari dipan. Amben… ambeen… Masa’ gag ngerti? Nah, di antara kasur & dipan kan ada celah tuh. Aku masukin yang namanya sisir a.k.a suri di antara keduanya. Lho buat apa? Buat porseneleng ^_^. Lha, trus setirnya pake apa? Biasanya siii, aku pake buku, atau baki tempat yang buat bawa minuman itu lohh…

Ton…. Toooon… Ton.. Ton…

Itu suaraku menirukan suara klakson bis ;p. Ambisi bangeddd…. Ortu itu sampe khawatir, jangan sampai anaknya bener-bener jadi sopir. Haduwh, cp d. Ini nulisnya juga capek :(. Ntar, aku ambil air putih dulu…..

Kelakuan macam begini aku lakukan hingga beranjak ke sekolah dasar. hal-hal yang paling indah adalah ketika aku duduk di sepanjang kelas 4 sampai kelas 6 SD. Ketika dalam pelajaran kesenian dan guru memerintahkan untuk menggambar bebas, maka apa yang aku lakukan adalah menggambar….. BIS, ahahaha….. Di antara beberapa perusahaan otobus yang aku gambar adalah PO Akas, Mila Sejahtera, Lorena-Karina, Tjipto, Harapan Jaya, dan Kramat Djati. Heheh, entah di mana gambar-gambar bus itu sekarang.

Bus Gunung Harta, Denpasar-Malang

Bus Gunung Harta, Denpasar-Malang

Humm, inilah…. Futu pas di Bali tahun 2011, pake Bus Gunung Harta ^_^.

Tapi, apa yang semua aku ceritakan di sana bukan berarti cita-citaku pengen menjadi sopir bis sungguhan, tapi aku ingin menjadi sopir bagi:

  • Diriku sendiri
  • Keluarga kelak
  • Perusahaan/ oragnisasi

Sopir yang berarti pemimpin, menjadi seorang pemimpin yang bermanfaat, berguna, adil, bersahaja, berkharisma, dan bijaksana. Eciyeee… ;p Cemungudth eaa…. ^_^.

Posted in Cerita dan Pengalaman | Tagged: , | 4 Comments »

Mengaktifkan Automatic Mail Forwarding di Lotus Notes

Posted by Darwis Suryantoro on January 2, 2013


Salah satu manfaat Lotus Notes adalah kemudahan dalam melakukan transaksi email. Di dalamnya juga terdapat banyak fitur pendukung seperti manajemen kalender, manajemen daftar alamat, mangakses aplikasi database pada Lotus Domino, bahkan terdapat aplikasi Sametime yang digunakan untuk berchatting, dan lebih dari itu.

Nah, pada pembahasan saat ini: Bagaimana cara mengaktifkan Automatic Mail Forwarding di Lotus Notes. Sesuai judul, Automatic Mail Forwarding adalah proses meneruskan email yang masuk ke dalam inbox Lotus Notes ke alamat email lain, sehingga diharapkan dengan konfigurasi ini, pengguna mempunyai email backup ekstra, selain di Lotus Notes itu sendiri.

Berikut adalah langkah-langkahnya:

  1. Bukalah aplikasi Lotus Notes, dan masuk ke tab INBOX (yang tertulis nama Anda di atasnya).
  2. Temukan kata More yang berada di jejeran ikon inbox tersebut dan pilih Mail Rules.

    More

    Menu Mail Forwarding

  3. Pada jendela Mail Rules, temukan dan klik New Rule, kemudian Anda akan menemukan kotak di bawah ini:

    New Rule

    New Rule

  4. Pada Specify Condition, pilih Create Condition. Ganti sender menjadi ALL Documents, kemudian klik tombol Add. Kondisi ini akan melibatkan semua dokumen yang masuk ke email kita yang kemudian akan diforward atau diteruskan ke alamat email lain.

    Menentukan All Documents

    Menentukan Kondisi Awal

  5. Pada Specify Action, ganti move to folder menjadi send copy to. Tulislah alamat email Anda (tidak sama dengan alamat email yang digunakan saat membuka Lotus Notes saat ini) yang digunakan untuk menampung email yang diteruskan dari alamat email Lotus Notes yang Anda gunakan saat ini. Tuliskan pada teks boks “to”, Kemudian klik Add Action sekali saja.

    menentukan alamat email tujuan

    Specify Action

  6. Klik OK setelah menambahkan alamat email tersebut.

    akhir proses setting email forward

    Proses akhir Mail Forwarding

Setelah itu lakukan pengujian, semoga berhasil :).

Ditulis oleh Darwis Suryantoro. Versi Lotus Notes yang diujikan adalah versi 8.5.3

Posted in Komputer Umum (ICT) | Tagged: , , , , , , , , | 4 Comments »

Pesan Ayah: Ringankanlah Kesalahan Orang Lain

Posted by Darwis Suryantoro on January 1, 2013


wiseman

Papa with Me

Satu yang tak pernah kulupa dari banyak kalimat ayah yang menginspirasi adalah: “Ringankanlah kesalahan orang lain.”  Yup, adalah bagaimana cara kita bersikap ketika orang lain sedang menyakiti kita, atau berbuat kesalahan kepada kita, atau bahkan menghambat saat kita tengah berusaha berbuat kebaikan untuk sesama.

Ayah tak sekedar mengucapkan kata-kata tersebut untuk anak-anaknya, namun beliau sendiri benar-benar mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Ia selalu menjadi solusi dalam menyelesaikan masalah bersama. Sontak saja, pengalamannya yang lebih dari 30 tahun mendidik para pelajar, membuatku menjadi mengerti, betapa pentingnya arti kesabaran dan bijaksana.

Ayah, ini benar-benar menjadi pelajaran berharga bagiku. Bahwa memberi maaf adalah sebuah kemuliaan. Bahwa menghargai adalah sebuah toleran. Bahwa berbuat baik adalah sebuah keindahan. Dan pribadimu yang tanpa pamrih, mengajarkanku bahwa keihklasan akan berbuah keberhasilan.

Betapapun setiap sakit yang kurasakan dari orang-orang sekitar, pribadiku belum mampu mengalahkan ketangguhan, kesabaran, dan keikhlasan jiwamu. Tentu ini bukan karena aku tak mengerti apa yang kau maksud, Ayah. Namun ini adalah sebuah pengakuanku bahwa engkau telah lebih banyak terlibat dalam menghadapi kerasnya hidup, bahwa engkau lebih banyak menghadapi cacian, hujatan, dan kerasnya orang-orang yang ingin menjatuhkan tahta kebaikan lakumu.

Ayah, bahkan engkau masih sempat tersenyum ketika fitnah datang kepadamu. Bahkan engkau masih SEMPAT tersenyum ketika fitnah datang kepadamu. Bahkan engkau masih sempat TERSENYUM ketika fitnah datang kepadamu, Bahkan engkau masih sempat tersenyum KETIKA FITNAH DATANG KEPADAMU.

Rasululloh dengan teladannya juga mengajarkan bagaimana sikap kita terhadap orang yang berbuat tidak berkenan kepada kita. Sebagaimana pengalaman Anas bin Malik ketika bersama Rasululloh, ia berkata:

Aku pernah berjalan bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang ketika itu beliau mengenakan selendang yang tebal dan kasar buatan Najran. Kemudian seorang Arab Badui datang lalu menarik beliau dengan tarikan yang sangat keras hingga aku melihat permukaan pundak Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berbekas akibat kerasnya tarikan selendang itu. Lalu orang itu berkata, “Berikanlah aku harta Allah yang ada padamu.” Kemudian beliau memandang kepada orang Arab Badui itu seraya tertawa, lalu beliau memberikan sesuatu kepadanya. (HR. Al-Bukhari No. 5809 dan Muslim No. 1057).

Posted in Cerita dan Pengalaman, Refleksi dan Religi | Leave a Comment »

KIDUNG CINTA

Posted by Darwis Suryantoro on December 31, 2012


Ketika cinta semakin terbangun dengan alami
Ijinkan kami bersama labuhkan hati
Dalam penantian beratus malam berjuta mili
UntukMu, untuk aku, untuk dia, untuk kami
Nan cahaya keindahan rahmat kasih ridlo Illahi
Gulirkan semua dan berpadu bersama jalan ini

Cinantya, elok, santun, berilmu, berbudi
Inilah jalanku, jalanmu, jalan kita, semoga bersemi
Nestapa dan sepi tak akan lama mem”prikitiew” diri (Lho, kok Suleh?)
Tabahkan jiwa raga dalam kesabaran, Ya Robbi
Agar penantian ini berbuah kebersamaan hingga akherat nanti

————————————————————————
KIDUNG CINTA – Darwis Suryantoro – Jayapura – 30122012
————————————————————————

Posted in Sajak dan Puisi | Tagged: , , | Leave a Comment »

Taqobalalloohu Minna Wa Minkum

Posted by Darwis Suryantoro on August 21, 2012


Suasana Idul Fitri tahun ini adalah untuk pertama kalinya bagiku tidak bersama dengan keluarga. Namun aku bersyukur, Alloh masih memberiku kesempatan untuk beribadah, sebagai bekal hidupku di kehidupan setelah di dunia kelak. Taqobalalloohu minna wa minkum: Semoga Alloh menerima (amalan) dari kami dan dari kalian.

Tahun ini aku menikmati indahnya hari kemenangan di sebuah kota di wilayah Tengah Timur Indonesia (bukan Timur Tengah, red), tepatnya di Makassar, kota yang mempunyai penetrasi ekonomi yang cukup tinggi di Indonesia (untuk data pertumbuhan ekonomi, silakan googling). Bahkan, Makassar sudah disebut sebagai Kota Metropolitan.

Seperti biasa, selama aku mengunjungi 3 kota metropolitan di Indonesia (yaitu: Surabaya, Jakarta, dan Makassar), ternyata mempunyai kemiripan yang sama persis, adalah ketiganya sama-sama kota bercuaca panas. Yup, puanas beuud. Situasi seperti ini tentu saja mempengaruhi kondisi fisik dan psikis penduduknya. Kecenderungan bagi penduduk yang tinggal di wilayah bercuaca panas adalah sensitivitas terhadap emosi dan kepribadian masyarakatnya. Jika dibandingkan dengan Surabaya, masyarakat di Jakarta dan Makassar lebih banyak membunyikan klakson di malam hari. Entah ini karena faktor budaya atau emosi.

Namun overall, Makassar adalah kota yang bagus, parameternya adalah pertumbuhan ekonomi yang begitu pesat dan orang-orangnya banyak yang berkarakter (jadi ingat model pendidikan berkarakter sewaktu aku mengajar di salah satu sekolah kejuruan di Malang dulu).

Tinggal di Makassar membuatku jadi lebih sabar, setidaknya (Insya Alloh) menambah kredit pahala selama Bulan Ramadhan 1433 Hijriah ini. Betapa tidak, aku harus bersabar tidak bisa berkumpul dengan keluarga selama Hari Lebaran, bersabar dengan cuaca yang lebih panas dari tempat tinggalku sebelumnya, bersabar dengan banyak godaan makanan khas (yang enak-enak, wkwkwk) selama proses dietku, hmm apalagi yaa? Bersabar dalam merajut asa dan menjalin mimpi. Hmm, satu lagi, bersabar menunggu sesuatu yang belum tercapai ^_^. (Alhamdulillah eaa, sesuatu… wkwkwk).

Tanggal 1 Syawal, aku melaksanakan Sholat Ied di Lapangan daerah Karebosi. Ternyata masyarakat di sini kompak banget, karena kegiatan sholat dilakukan terpusat. Hmm, karena (mungkin )dihadiri oleh puluhan ribu masyarakat, jalan protokol kota ditutup. Alhamdulillah, tertib sekali. Sekembalinya dari sholat, aku menunggu saudara yang akan menjemputku di hotel. Yup, saudaraku yang dari Banyuwangi itu ternyata menikahi perempuan keturunan Bugis, diajaklah aku ke rumah mertuanya di daerah Todo Puli Lima. Apa yang aku dapat? Makanan lagi (ahahaha, tahu ajah perut lagi keroncongan). Hmm, ada makanan mirip lontong, tapi rasanya beda, lebih gurih daripada lontong yang ada di Jawa. Namanya aku lupa, pokoknya ada suku kata “ras ras” gitu. Tapi bener deh, enak banget ini, kalo range nilai 5-10, aku kasih 8,5 (maknyoss).

Ngomong-ngomong tentang makanan, ada yang namanya Konro nih. Ada Konro Bakar dan ada yang pake kuah. Konro kalau di Jawa sama dengan daging iga. Aku nyoba Konro Bakar Karebosi, rasanya cikiciew, ueenak beuud. Coba dech liat foto aku di bawah!

Nyam-nyam with Konro Karebosi Makassar

Ada lagi tuh makanan yang namanya rada aneh, yaitu Palu Basah. Pertama mendengarnya, aku langsung ngeri, coz dalam pikiranku kok ada palu yang dimasak ya? Ternyata eh ternyata, di Makassar, “palu” itu artinya masakan lhoo, OMG. Dari presentasi, masakan itu mirip rawon, tapi dari segi rasa, engga sama seperti rawon. Hmm, tapi enak juga sih (apa sih yang engga enak di lidah Darwis? Semuanya enak, hahaha dasar, lho? Jangan salahkan lidah gue yaa).

Dari ketiga macam masakan soto yang pernah aku makan seumur hidupku sampai saat ini (Soto Madura, Soto Banjar, Coto Makassar), yang paling nendang di perut yaitu Soto Banjar. Coto Makassar kuanya lebih mirip rawon, kalau range nilai berdasarkan kemampuan rasa di lidahku adalah 8 (skala 1-10).

Apa lagi yaa? Oh iya, kalau minuman, ada yang namanya Pisang Ijo, ini juga lumayan buat mata yang rada bermasalah, secara pisang kan mengandung vitamin A. (Anak TK juga udah tahu Mas kalau pisang mengandung vitamin A. Cpd).

Satu lagi nih masakan Makassar punya, Kepala Ikan Kakap, muangstab Gan! Ini masakan Pertamax gue disamping Konro Bakar. Masya Alloh dech, perut ane sampai dibikin nge-fly, kebanyakan sambelnya hahaha.

Kata orang-orang sini, Nasi Goreng Merah juga khas Makassar. Muerah beud, Bro! Mungkin ini kali ya, orang-orang sini mempunyai daya juang yang tinggi. Pantesan pas gue makan, gue merasa jadi berani, semangat, and berenergi, Bro! (Iyaa, soalnya Elo kan belum makan sehariaaan, main embat ajah tuh perut). Hahaha, iyah, iyah ^_^v.

Oke dech, sementara ini dulu laporan dari Makassar. Semoga bermanfaat. (Lho, Mas…. Ini judulnya sama isinya kok engga nyambung yaa???). Oh iyah, muuph, muuph, soalnya aku belum makan siang nih, jadi kepikiran makanan ajah dari tadi. Baiklah… Saya, Darwis. Saya, Suryantoro: Bersama membangun bangsa! Selamat Idul Fitri 1433 Hijriah, Taqobalalloohu minna wa minkum, mohon maaf lahir batin. MERDEKA!

Posted in Cerita dan Pengalaman | Tagged: , | 7 Comments »