Darwis untuk Indonesia

"Raihlah ilmu, dan untuk meraih ilmu belajarlah untuk tenang dan sabar." (Ummar bin Khattab, R.A)

Posts Tagged ‘gastroesofagus’

Putus Hubungan dengan Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) – Bagian 2

Posted by Darwis Suryantoro on December 31, 2013


Mas Bro dan Mbak Sist, Para Agan dan Aganwati,

Alhamdulillah, ketika menulis blog ini saya dalam keadaan sehat wal’afiat. Jika Agan dan Aganwati baru menemui tulisan ini, sebaiknya Agan dan Aganwati membaca runtutan cerita sebelumnya supaya tidak salah paham, bisa dicek di MARI.

Agan, ketika ane kembali dari Makassar karena berobat, ane masih dalam keadaan suka lemas dan berkeringat, mudah sekali capek. Ane masih belum menyimpulkan apakah ini adalah efek dari penyakit GERD. Bahkan mengangkat barang ringan saja sudah ngos-ngosan. Ini Gan yang ane rasakan ketika mengalami penyakit ini (ini tidak terjadi sepanjang waktu Gan, tapi di waktu-waktu tertentu):

  1. Denyut di dada ane kadang berhenti sejenak Gan, setelah itu kembali sesuai ritmenya, beberapa kali terserang heart burn, seperti terbakar pada dada hingga menusuk ke belakang (punggung).
  2. Di awal kejadian, suara parau, nafas berbunyi, tenggorokan berat dan serak, kerongkongan iritasi.
  3. Setelah beberapa kali minum obat kimia, bagian tengah pinggang terasa sakit, sampai-sampai kesakitan ketika proses gerak dari duduk ke berdiri dan dari tidur ke duduk maupun berdiri.
  4. Betis bagian bawah terasa nyeri.
  5. Kaki dan tangan kram.
  6. Rasa ingin mengeluarkan lendir atau dahak, ketika lendir sudah keluar, nafas terasa lega.
  7. Kalau kumat, kepala juga bereaksi, terasa keliyengan, berat, dan menimbulkan efek panik.
  8. Ingin muntah tetapi tidak muntah.
  9. Tidak bisa mengangkat beban terlalu berat, mudah capek dan berkeringat, bahkan ketika makan pun berkeringat, khususnya bagiankepala dan tangan.
  10. Tidak bisa makan terlalu banyak, hanya 2 sendok saja sudah terasa penuh di perut. Ketika makan melebihi porsi itu, nafas terasa sesak. Efek ini Gan yang bikin berat badan ane menurun drastis. Kurang dari 3 minggu, berat badan ane turun 6 kg.
  11. Bentuk feses tidak normal, kadang-kadang cair (a.k.a mencret), bahkan pernah muncul seperti gumpalan berwarna mirip darah dalam feses.
  12. Gairah seks menurun.

Oke Gan, itu 12 poin penampakan tanda-tanda ane ketika mengalami penyakit itu. Lanjut mau baca Gan? Ane benar-benar ingin berbagi dengan para Agan dan Aganwati bagaimana kita survive dan kemudian sembuh dari penyakit ini. Insya Alloh bisa sembuh Gan. Alloh menganugerahkan penyakit pasti ada obatnya. Tapi dalam cerita ane ini, solusi obat tidak hanya secara fisik, tapi obat psikologis, yang tidak nampak secara kasat mata.

KEBIASAAN BURUK
Gan, kali ini Agan sama ane harus menyadari ini. Mungkin kita pernah mengalami hal yang sama terkait kebiasaan buruk ini. Ane akan jabarkan kebiasaan buruk fisik dan psikis yang mulai saat ini, mari kita hindari, atau paling tidak perlu kita kurangi intensitasnya.

Kebiasaan buruk berbentuk fisik:

  1. Sehabis makan langsung tidur. Ahaha, ane benar-benar nyadar Gan. Dulu, ane punya kebiasaan setelah makan langsung tiduran, terutama setelah makan malam. Dan celakanya, ane baru nyadar setelah baca-baca referensi dampak tidur setelah makan. Dalam posisi tidur, akan sangat memungkinkan makanan yang telah diproses di lambung bersama asam, akan membuka katup antara saluran kerongkongan dan lambung. Ketika katup terbuka, asam bisa naik hingga ke kerongkongan. Jika sudah keseringan asam naik ke kerongkongan, ini akan membuat kerongkongan menjadi teriritasi dan menyebabkan radang, dan ini menjadi salah satu faktor pendukung terjadinya GERD. Ane pernah baca Gan, sifat asam di dalam lambung itu ngeri, bahkan sifat kimiawinya bisa melunakkan pecahan kaca atau silet sekalipun. Makanya, pertunjukan-pertunjukan orang yang makan kaca atau silet ini ndak mati karena keajaiban fungsi asam lambung (tapi jangan dipraktekin di rumah ya, Gan ;p). Subhanalloh.
  2. Makan terlalu banyak. Ane sebelumnya emang doyan makan Gan. Porsi makan ane jadi berubah ketika pindah ke Papua. Di Jayapura sendiri, kebanyakan warung akan menyediakan porsi nasi segaban Gan, porsinya tukang. Jadi kalau biasanya ane makan di Jawa cuman sepiring sekali makan, di Jayapura bisa setara 2 piring Gan sekali makan. Dari kondisi yang biasa menjadi tidak biasa, tentunya tubuh butuh penyesuaian. Kerja lambung semakin berat dan semakin banyak memproduksi asam untuk memproses makanan tersebut.
  3. Minum air es atau minuman dingin lainnya setelah makan berat. Gan, sebaiknya benar-benar hindari nih kebiasaan. Dulu ane sering banget pas makan di warung, minumnya harus es. Ternyata Gan, minuman dingin akan menurunkan suhu lambung. Ketika lambung suhunya di bawah normal, ia tidak akan bisa bekerja normal lagi, bahkan bisa berhenti bekerja untuk beberapa waktu hingga suhu lambung normal kembali.
  4. Makan makanan yang terlalu pedas. Ketika lambung sudah memproduksi asam dalam proses pencernaan, namun ditambah dengan makanan yang terlalu pedas, maka akan terjadi double produksi asam di dalam lambung, mengingat makanan pedas akan menghasilkan asam. Lagi-lagi ini menjadi efek domino. Dulu ane suka request sendiri Gan jumlah cabe untuk sambal. Pernah ane pesen sambal dengan 30 cabe. Makanan pedas berlevel pun pernah ane sikat Gan, macam keripik level yang pernah marak di Indonesia, juga mie atau nasi goreng level.
  5. Tidak pernah olahraga. Ehehe, ini Gan. Olahraga itu untuk melancarkan peredaran darah. Ketika darah lancar, organ-organ tubuh akan tersuplai darah segar dengan baik, dan tentunya akan menyegarkan kinerja organ-organ tersebut.

Ok Gan, tambahkan di komentar jika Agan dan Aganwati ingin berbagi apa saja faktor fisik yang menyebabkan penyakit ini.

Oke, sekarang, bagaimana dengan faktor non fisik?

Kebiasaan Buruk Berbentuk Non Fisik

Ane cuman kasih 1 poin Gan, adalah STRESS PIKIRAN DAN HATI penyebabnya. Ane orangnya suka memikirkan keadaan orang lain, apalagi ketika ane mengucapkan kata-kata yang membuat sakit hati orang lain. Walapupun sudah minta maaf, kadang ane masih sering kepikiran. Bahkan ane juga suka mikirin keadaan negara :(, aduh, negara saja ogah mikirin ane jadi ngapain ane mikirin negara??? Ane juga zero tolerance Gan terhadap kesalahan. Efek berlebihan dalam perfeksionisme ini yang membuat ane tidak bisa tidur karena lagi-lagi kepikiran dan kepikiran. Sejauh ini sih masih di level stress pikiran Gan, kalau hati Insya Alloh ane masih bisa kontrol, soalnya ane gak suka dengki sama orang, ane gak suka bikin masalah sama orang. Kecuali marah Gan. Jujur ane tidak suka marah-marah Gan, tapi kalau marah, ane suka pendam dalam hati, tidak diluapkan dalam bentuk kata-kata kotor atau luapan nada tinggi dalam berbicara. Ini kali ya yang bikin stress ;p.

Jadi Gan, ini kesimpulannya untuk menghindari kebiasaan-kebiasaan buruk tersebut, sekaligus untuk mengurangi dampak penyakit ini:

  • Bikin rileks Gan pikiran dan hatinya. Jangan suka emosi, jangan pula memendam emosi. Cara terbaik mengontrol emosi adalah dengan mengalihkan ke kegiatan atau aktivitas lain yang menenangkan. Ingatlah dalam situasi apa ente bisa tenang, Gan. Kalau ane dalam keadaan emosi sangat puncak arah jam 12, biasanya ane akan berwudlu, istighfar, sholat, dan baca Al Qur’an. Kadar emosi bisa larut Gan, asal Agan benar-benar ikhlas dan berserah diri kepada-Nya. Ketika ane panik karena kambuh sesak dan parnonya, ane biasanya langsung putus kontak sama kegiatan dunia Gan. Ane langsung mengontak Alloh, ngadu Gan, mohon petunjuk dan banyak-banyak istighfar, sampein Gan kalau kita ini ndak ada apa-apanya di hadapan-Nya. Kita manusia yang lemah, hanya Dia yang mampu menyembuhkan penyakit kita. Sampaikan dengan jujur Gan, dengan ikhlas.
  • Olahraga Gan, tidak perlu olahraga berat. Ane biasanya kegel, gerakan warming up, dan push up ringan.
  • Jangan makan makanan yang terlalu pedas, apalagi dalam masa penyembuhan, sebaiknya hindari atau putus hubungan sementara dengan makanan pedas. Ane butuh sekitar 2,5 bulan Gan untuk mengontrol makanan-makanan pedas ini. Saat ini ane sudah pada level coba-coba sambel Gan, dan alhamdulillah sudah tidak sesak nafas lagi. Nanti Insya Alloh ane kasih tahu bagaimana proses ane menghadapi ini.
  • Hindari (kalau ane lebih suka pake kata STOP) makan makanan berpengawet. Ane benar-benar puasa mie instan Gan selama proses penyembuhan. Padahal dulunya, hampir tiap sarapan nih Gan, ane pake menu wajib mie instan. Kalau bukan mie instan bukan ane banget. Lagi-lagi ini efek domino. Pas istri udah serumah bareng ane, ane benar-benar dikontrol dan disupervisi Gan. Dia mengancam akan menyunat ane kalau ane makan mie dalam masa penyembuhan. Oh, sadis… :(, tapi ane sangat sayang sama dia. Oh, lebay… ^_^. Sudah tahu kan Gan bagaimana lambung memproses mie instan? Kalau belum tahu, tanya Gan ke Mbah Bro Google.
  • Jangan minum air yang terlalu dingin setelah makan berat. Jika dalam masa penyembuhan, ente perlu ceraikan dulu Gan sama minum-minuman dingin. Nanti kalau sudah sembuh, boleh lah rujuk lagi, tapi jangan terlalu sering, dan jangan minum ketika perut sedang atau baru diisi. Beri jeda 2 atau 3 jam. Saat ini, ane sudah bisa minum es, tapi tidak sering. Ane saat ini dah bisa menikmati es kacang hijau beras merah sama es pisang ijo, dan alhamdulillah ndak pake sesak nafas lagi.
  • Jangan makan terlalu banyak. Ini yang ane lakukan ketika berjibaku menghadapi penyakit ini. Ane pernah tidak bisa makan lebih dari 2 sendok makan. Dalam proses mengunyah pun terasa sesak dan nafas berat, sesekali harus mengambil nafas panjang. Ini Gan yang membuat berat badan ane turun drastis. Tapi alhamdulillaah, sekarang sudah bisa makan normal, tapi tetap menjaga agar tidak berlebihan.
  • Jangan tidur sehabis makan. Janji ya Gan, kalau Agan dan Aganwati ingin sembuh, jangan langsung tiduran sehabis makan. Alasannya sudah ane jabarkan di atas. Ane sekarang merubah kebiasaan untuk tidak tidur sehabis makan, jeda yang biasa ane pakai adalah 1 atau 2 jam setelah makan baru bisa rebahan. 2 jam lah bagi Agan dan Aganwati yang masih dalam penyembuhan. Dan jika tidur, usahakan posisi kepala dan leher lebih tinggi daripada perut.

Oke Gan, sementara ini dulu ya bagian 2 postingan ini. Ane masih ada kerjaan. Insya Alloh lanjut ke Bagian 3 yang membahas tentang pengobatan dan pola makan.

Bersambung…..

Advertisements

Posted in Cerita dan Pengalaman, Ide dan Opini | Tagged: , , , , , , | 45 Comments »

Putus Hubungan dengan Gastroesophageal Reflux Disease (GERD)

Posted by Darwis Suryantoro on December 30, 2013


Dear Readers,

Dilihat dari judulnya, ngeri engga sih? Ehehe, ini bukan membesar-besarkan, tapi emang di Indonesia, penderita penyakit ini sudah terhitung banyak.

Sedikit lupa, beberapa tahun yang lalu, sekitaran tahun 2007, ketika masih kuliah di Jogja, saya pernah ke rumah sakit Dr. Sardjito Yogyakarta, gara-gara kepala keliyengan, pengen muntah tapi tidak muntah. Saya pikir darah tinggi, tapi ternyata bukan. Ketika sudah sampai di rumah sakit, saya tidak tahu harus ngapain, ehehe. Bersama teman saya, hanya keliling-keliling rumah sakit. Tiba-tiba badan terasa normal kembali, seperti ada ketenangan setelah berkunjung ke sana. Namun, kami memtuskan untuk ke rumah sakit yang lebih kecil, yaitu RS Condongcatur di Sleman.

Di perjalanan terasa keliyengan lagi, ban motor bocor juga, aduh, alhamdulillah. Sesampainya di rumah sakit, saya periksa darah, ternyata normal. Setelah konsultasi ke dokter, dia mendiagnosis kalau saya mengalami penyakit Gastroesophagus. Kata dia, penyakit ini banyak diderita orang-orang di Amerika. Walah, berarti ndak perlu ke Amerika untuk dapet penyakit ini :(. Saya minta dicatatkan nama penyakitnya oleh dokter, ternyata referensinya masih sedikit yang membahas tentang penyakit itu dalam Bahasa Indonesia. Saya cuek, mengikuti pengobatan ala kadarnya. Sampai di sini, saya belum benar-benar tahu apa yang terjadi pada tubuh saya.

Ok, beberapa tahun kemudian. Kisaran awal tahun 2011, saya mengalami sesak nafas ketika akan berangkat bekerja. Yup pagi-pagi. Saya pikir saya kena asthma, jadi saya beli obat asma. Eh, sampai di kantor masih tetap saja, trus saya ke UKS, dan saya dikasih alat Ventolin, alat penghirup yang mengandung salbutamol itu. Aduh, kok keliatan parah gini.

Setelah itu saya ke klinik kampus di sebelah SMK. Katanya sih saya sakit maag. Lha, ini yang mulai curiga, kenapa saya sesak nafas tapi kok didiagnosis maag. Penasaran semakin menggila :(. Okkay. Kita akhiri kisah sampai di sini. Saya tidak menyadari kali ini jika penyakit ini berawal dari lambung. Cuek. Ternyata obat Mas Dokter belum berefek joss terhadap tubuh saya. Waktu itu saya beli habbatus sauda, dan alhamdulillah end. Maksudnya penyakitnya yang end ;p.

2013. Ini tahun yang sedikit menyeramkan saya menjalani sakit yang tidak terdiagnosis sakit oleh dokter, bahkan dokter spesialis dalam sekaligus. Sekitar bulan September, tanggal 20 hari Jum’at malam (kalau saya tidak lupa), saya merasakan tenggorokan saya berbunyi ketika bernapas, sangat berat dan susah, terlihat seperti orang yang sedang nazak (nafas-nafas terakhir kematian), aduh, parno sekali. Saat itu saya benar-benar berpikir akan dipanggil Alloh swt, kembali kepada-Nya. Dari kamar tidur saya berusaha keluar meminta pertolongan, sembari saya meminum air yang berada di meja dekat kasur. Allohu Akbar. Saya tidak jadi mati ^_^.

Teman tetangga kamar kos pun terkejut (kayaknya sih terkejut ;p mendengar reaksi teriakan saya). Ia mengira saya sedang mengigau, wow. Kemudian saya ceritakan kronologisnya dan dia percaya bahwa saya berteriak-teriak tersebut karena kesusahan bernapas.

Tiba-tiba suara saya menjadi parau, serak, dan sakit. Saat itu juga saya diantar teman ke rumah sakit terdekat, yaitu Rumah Sakit Dok II Jayapura, sekitar jam 11 malam. Apa yang dilakukan dokter adalah memeriksa dada saya dengan stetoskop dan menyentuh nadi di pangkal telapak tangan saya, kemudian dokter tersebut langsung mendiagnosis saya kena sakit asma. Oh tidak….. Syok sekali mendengarnya. Sakti sekali dokternya tanpa mendeteksi sakit dengan perlatan medis yang memadai langsung mendiagnosis saya terkena asma, hanya dengan berbekal informasi bahwa saya pernah merasakan sesak napas sewaktu kecil, itupun tidak lama dan tidak muncul lagi hingga sekarang. Apa iya sakit asma yang sudah sembuh bisa kambuh lagi setelah lebih dari 20 tahun kemudian? Oh, saya harus mencari second opinion, ya ke dokter lain, atau ke rumah sakit lain.

Senin dini hari, 23 September 2013, dalam kondisi panik dan tidak bisa tidur, saya tidak bisa bernapas lega, parno. Kepala berat, hidung seperti mampet, dan saya berusaha mengeluarkan sesuatu yang mengganjal di tenggorokan saya. Iya, dahak, lebih mirip dengan lendir sebenarnya. Ketika saya berhasil mengeluarkan lendir tersebut, saya merasa sedikit ringan, namun itu tidak untuk waktu yang lama. Kemuadian saya meminta bantuan anak pemilik kos yang kebetulan saat itu berada di rumah. Yup, dini hari sekitar jam 2, saya kembali ke rumah sakit. Kali ini menuju ke rumah sakit Marthen Indey, di Jayapura. Saya dirujuk ke dokter umum, karena saat itu yang hanya ada adalah dokter umum jaga UGD. Saya bilang gejala yang saya alami. Kemudian salah satu perawat memeriksa tekanan darah saya dan ternyata dalam kategori tinggi, 149-80. Wow, saya panik, tapi lebih tenang dan reda ketika berada di rumah sakit. Saat itu saya diberi resep yang saya lupa macam obatnya apa saja, yang jelas bukan untuk penyakit yang baru kemudian saya ketahui.

Kemudian saya pulang dan merasa lebih lega. Aneh, kok tiba-tiba reda serangannya, seperti serangan jantung saja, padahal obat belum diminum. Paginya, sekitar jam 8an, saya ijin kembali ke rumah sakit untuk memeriksakan keadaan lebih lanjut. Langsung saya ke poli penyakit dalam (daftar dulu ke bagian administrasi ;p), masih di rumah sakit yang sama, RS Marthen Indey, Jayapura. Ketika menemui dokter spesialis, saya menyampaikan keluhan yang lagi-lagi saya perlu menjelaskan dengan detail. Saya diminta foto (dada), urin, dot, dan darah.

Pada hari pertama, hasil foto sudah dapat diketahui, kemudian saya tunjukkan ke dokter, dan, teng teeng… Kata beliau saya mengalami infeksi paru :(. Syok lagi, tambah stress. Apa salah saya coba? Merokok tidak, minum miras juga tidak, selama di kos saya merasa menghirup udara normal? So, whats wrong with my lung? Seketika itu saya diberi resep obat antibiotik, obat darah tinggi (karena sebelumnya saya menginformasikan formasi nilai tekanan darah saya ;p), dan obat racikan dari dokter (saya tidak tahu), sepertinya untuk meredakan tenggorokan (lendir dan batuk). Obat-obatan ini masih belum bisa meredakan atau meringankan penyakit saya.

Hari rabu, 25 September 2013. Eaaa, ke rumah sakit lagi untuk mengambil hasil tes urin, dot, dan darah. Hari itu juga saya menjalani USG. Apa kata dokter? Hati saya bermasalah, banyak lemak di lapisannya. Dueng… Namun hasil tes dot menunjukkan kalau saya negatif terkena TBC. Ginjal juga diperiksa. Alhasil, saya dikasih tambahan obat, berupa peluruh batu ginjal, antibiotik, obat asam urat. Aduh, pusing deh. masih muda gini kok didiagnosis yang macem-macem.

Jumat, 27 September 2013. Mengalami sesak lagi dan tenggorokan mengganjal ketika khotbah Jumat akan dimulai. Saya mengurungkan niat mengikuti sholat Jumat dan kembali ke kantor. Saya ganti dengan sholat dluhur kemudian ijin pulang beristirahat. Eh, sesampai di rumah, kumat lagi, astaghfirulloh. Saya kontak orang kantor untuk minta tolong mengantarkan saya lagi ke rumah sakit. Kali ini ke UGD lagi, saya diuap. Aduh, baru pertama kali nih sepanjang hidup saya diuap. Eh, setelah itu tenang lagi, tangan saya merasakan kram. Saya bilang ke dokter penjaga UGD, bahwa saya telah memeriksakan diri ke poli dalam, namun saya masih merasakan gejala yang sama. Sang dokter mengatakan itu tidak apa-apa, efek dari obat. Wow? Efek dari obat? Bisa end kalau terus-terusan begini. Masalahnya, saya merasa sudah terlalu banyak meminum jenis obat. Saya masih belum sadar dengan penyakit GERD saya.

Sore itu juga saya memesan tiket ke Makassar, untuk memeriksakan diri ke rumah sakit yang mempunyai fasilitas medis yang lebih memadai daripada di sini. Saya mengontak istri (kebetulan istri saya sedang di Makassar) untuk menyiapkan akomodasi saya. Saya selalu berdoa agar perjalanan saya hari Sabtu, 28 September diberi keselamatan oleh Alloh.

Saya bertekad untuk menghentikan obat-obatan kimia dari dokter tersebut, karena setelah saya minum obat, saya merasa sesak kembali. Saya mulai meyakinkan diri bahwa paru, ginjal, dan hati saya tidak ada masalah. Selama perjalanan dalam pesawat, saya berkali-kali merequest air hangat ke pramugari. Untungnya pramugarinya care dan mengerti kalau saya sedang sakit. Sempat berpikir berkali-kalai, bagaimana jika saya mati di dalam pesawat, aduh good bye istriku :(. Masalahnya, tenggorokan saya mulai mengganjal lagi ketika di dalam pesawat, kedinginan pula, dan agak susah bernapas. Saya mengalihkan perhatian dengan menonton film pendek humor yang terdapat di display entertainment pada setiap seat di pesawat Garuda Indonesia. Ketika ada hal lucu, saya mulai merasa ringan lagi. Namun, sesekali kumat sesaknya. Dari sini saya mulai berpikir lagi, saya merasa jika kondisi pikiran panik, maka akan meningkatkan efek penyakit ini. Ya, saya mencoba menenangkan diri.

Alhamdulillah, sekitar jam 5 sore, dengan GA 655 saya mendarat di Bandara Sultan Hassanuddin Maros, kemudian saya melanjutkan ke Makassar untuk menemui istri di kantor, sembari beristirahat. Dalam perjalanan dari kantor istri ke penginapan hanya sekitar 200 meter. Namun, kali ini saya merasa sangat kelelahan. Hanya jalan 200 meter saja, keringat saya bagaikan air hujan, nafas ngos-ngosan. Belum pernah saya merasakan secapek ini, diiringi kepala yang berat keliyengan. Subhanalloh, benar-benar menguji kesabaran saya. Dan dahsyatnya, ini benar-benar mengingatkan saya akan kematian, alhamdulillah. Karena kelelahan itu saya harus beristirahat di penginapan hingga akhirnya hari minggu, 29 September 2013 saya memberanikan diri ke rumah sakit diantar istri.

Siloam Hospital, 29 September 2013, sekitar jam 10 pagi. Karena hari minggu, praktik dokter spesialis libur (dokter spesialis adalah dokter yang spesial butuh libur di hari minggu dan hanya dapat dijumpai di jam-jam tertentu 🙂 ). Saya menemui dokter umum dan beliau menyarankan saya untuk medical check up. Saya kemudian meminta surat referensi, beliau hanya meresepkan saya vitamin dan obat sesak (yang hanya dikonsumsi ketika sesak).

Masih sering berkeringat banyak, senin, 30 September 2013. Saya dan istri mencoba bergerak lagi, gerakan 30 september, bukan untuk membantai orang lain, tapi untuk melawan penyakit ini. Sesekali saya masih sesak, kepala keliyengan dan terasa berat, tenggorokan mengganjal, dan kadang-kadang dada seperti nyut-nyutan. Saya harus kuat. Karena saya yakin paru-paru saya tidak bermasalah, maka saya tidak mengkonsumsi obat sesaknya. Saya haya minum vitaminnya saja. Selama satu hari ini, saya menjalani MCU, meliputi pemeriksaan darah, urin, detak jantung, faal paru, dan foto lagi.

Rabu, 2 Oktober 2013. Saya mengambil hasil MCU sekaligus dirujuk ke dokter spesialis penyakit dalam. Apa kata dokter? Ini sungguh berbeda 180°. JANTUNG SAYA NORMAL, PARU-PARU SAYA NORMAL, GINJAL SAYA NORMAL, KEADAAN LIVER SAYA JUGA MASIH DALAM BATAS TOLERANSI (Berlemak karena gemuk). What??? Dokter tersebut hanya bilang kalau saya sedang stress karena kelelahan atau kebanyakan berpikir berat. Woww… Amazing :D. Sebenarnya ini jawaban yang saya inginkan dari dokter, bahwa organ-organ vital dalam tubuh saya tidak bermasalah. Namun, apa iya hanya karena stress? Akhirnya masalah penyakit saya mengerucut di bagian tenggorokan (dan kerongkongan). Kemudian saya dirujuk ke dokter spesialis THT. Setelah diperiksa dengan ENT Procedure, diketahui bahwa daerah seputaran kerongkongan saya meradang, seperti terlihat luka di dalamnya. Dari dokter THT saya kemudian diberi resep 2 obat, yaitu antibiotik dan obat pengencer dahak. 1 lagi atas resep dokter MCU melalui dokter THT adalah curcum, adalah vitamin hati.

Sabtu, 5 Oktober 2013. Hari itu saya tidak mengikuti upacara hari TNI. Saya kembali ke Rumah Sakit Siloam Makassar untuk memeriksakan perkembangan saya. Saya langsung menemui dokter spesialis THT karena sebelumnya sudah janjian. Saya bilang kalau keadaan saya sudah membaik, namun sesekali masih merasakan sesak, namun ringan. Kemudian saya diberi resep yang sama untuk pengobatan beberapa hari. Atas saran dokter juga, saya melakukan pemeriksaan esophagus, sebuah cairan mirip susu diminum dan kemudian difoto. Dari hasil lab kemudian, saya bisa melihat alur minuman tersebut dari kerongkongan sampai ke lambung. Karena waktu terbatas dan saya harus kembali ke Jayapura pada hari minggunya, maka hasil lab diambil ketika istri saya melakukan kunjungan kerja lagi ke Makassar.

Hellooo, mari kita sekarang bicara hitung-hitungan. Bersyukurlah kalian akan nikmat sehat yang Alloh berikan kepadamu, karena sehat itu mahal dan sangat mahal harganya. Baiklah, berapa uang yang harus dirogoh selama kurang lebih 2 MINGGU tersebut?

  • Biaya jasa medis, laboratorium, dan obat-obatan sebesar Rp 6.643.808,-
  • Biaya pesawat Jayapura-Makassar PP sebesar Rp 3.766.400,-
  • Penginapan Rp 1.050.000,-

Jika dijumlahkan, akan menemui angka Rp 11.460.208,- Subhanalloh… Ini belum termasuk biaya transport lokal lho yaa….

Bersambung… BAGIAN 2

Posted in Cerita dan Pengalaman, Ide dan Opini | Tagged: , , , , | 6 Comments »