Darwis untuk Indonesia

"Raihlah ilmu, dan untuk meraih ilmu belajarlah untuk tenang dan sabar." (Ummar bin Khattab, R.A)

Posts Tagged ‘gerd’

Putus Hubungan dengan Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) – Bagian 3 Habis

Posted by Darwis Suryantoro on January 8, 2014


Halo,

Alhamdulillaah, ketemu lagi dalam acara bedah cara berjibaku menghadapi penyakit GERD. Bagian ke-3 ini saya tulis atas permintaan teman-teman di grup FB GIHM Indonesia. Postingan kali ini akan lebih banyak membahas bagaimana penderita GERD mengkonsumsi makanan dan model pengobatan seperti apa yang dilakukan. Ini pure berdasarkan pengalaman pribadi saya. Semoga tulisan ini dapat membantu dan menjadi referensi teman-teman penderita GERD yang belum sembuh. Temukan runtutan cerita saya di bagian ke-1, dan bagian ke-2 jika Anda baru membaca tulisan ini.

Okkay, saya merasa rapuh ketika terlalu banyak memakan obat. Obat pun jadi disalahkan ketika diagnosis di rumah sakit lain dinyatakan berbeda. Menurut saya ini bukan kesalahan dokter. Ini hanya karena “mungkin” dokter belum berpengalaman mengidentifikasi penyakit ini. Juga “mungkin” karena fasilitas lab yang digunakan masih belum memadai. Karena salah satu komponen dokter untuk mendiagnosis penyakit adalah hasil lab, maka ia akan mengacu pada hasil lab tersebut. Jika peralatan lab yang digunakan dengan standar minimal, maka hasilnya pun akan menunjukkan standar minimal. Mengapa saya katakan begini? Terus terang, kurang dari seminggu saya difoto dua kali di rumah sakit yang berbeda. Hasil gambar ronsen tersebut berbeda. Diagnosis infeksi paru pada rumah sakit A dibantah oleh dokter rumah sakit B, walaupun mereka bergelar sama, spesialis penyakit dalam.

Sudah 5 dokter umum dan 3 dokter spesialis menangani saya dalam 3 minggu pertama penyakit yang pernah saya derita ini. Namun, justru dengan mengunjungi kedelapan dokter tersebut, saya pelan-pelan paham, memahami sepenuhnya, berdasarkan informasi yang saya terima dari mereka, walaupun mereka tidak menyimpulkan bahwa penyakit saya bernama GERD. Informasi ini kemudian saya hubungkan di kejadian (kurang lebih) 6 tahun lalu, ada seorang dokter umum yang mendiagnosis nama penyakit saya adalah Gastroesofagus. Ketika waktu itu dokter mendiagnosis penyakit tersebut, saya masih merasakan gejala yang sangat ringan, yaitu ingin muntah tapi tidak muntah pada hampir setiap bangun tidur dan sehabis makan. Setelah itu saya lupa dengan istilah tersebut selama beberapa tahun, hingga di bulan Oktober 2013 ingatan saya seperti terpancing lagi akibat informasi-informasi pendukung yang disampaikan dokter dan informasi berharga dari internet dengan mencocokkan gejala-gejala primer yang saya alami.

SAYA MENGHENTIKAN OBAT-OBATAN RESEP DOKTER

Pernyataan saya ini bukan untuk memprovokasi Anda agar melakukan hal yang sama seperti saya. Terus terang, lebih dari 10 macam obat yang telah saya konsumsi dalam 2 minggu terakhir awal-awal penyakit saya muncul. Saya percaya dengan dokter, tapi saya lebih percaya dengan ikhtiar saya dan juga keyakinan saya kepada Alloh swt. Ini bukan untuk menyombongkan diri, tetapi justru dengan rendah hati saya sampaikan, ini adalah cara bagaimana saya benar-benar berserah atas penyakit yang pernah saya derita.

Bapak dan ibu dokter, Mas dan Mbak dokter, saya mohon maaf, saya berhenti mengkonsumsi obat-obatan yang Anda resepkan kepada saya.

Awalnya saya tidak mengerti, mengapa saya langsung bereaksi setelah meminum obat tersebut, sesak, nafas berat. Tapi saya yakin, identifikasi saya benar. Obat-obatan tersebut malah memperburuk keadaan lambung saya. Terutama di saat awal-awal saya berobat, atas dasar keminiman pengalaman dokter mendiagnosis penyakit (ingat, saya tidak menggunakan kata-kata “kesalahan dokter”).

Hanya 3 jenis obat terakhir yang saya terima dari dokter THT yang tidak mempengaruhi lambung saya secara signifikan. Itupun tidak saya habiskan semuanya.

AKIBAT STRES

Wowow, saya tidak berlebihan. Tapi menurut saya, ini semacam faktor primer pemicu penyakit GERD. FYI, saya pernah bekerja dengan aktivitas tidur hanya sekitar 4 jam, dan aktivitas di luar 4 jam tersebut lebih banyak menguras energi, berpikir namun tidak banyak bergerak. Dalam 1 hari saya pernah bekerja di 2 tempat. Di satu tempat pun saya pernah menjalani 2 shift kerja. Saya tidak tahu jenis manusia apa saya ini. Mungkin fisik dan psikis saya stress, tapi saya tidak merasakan hal itu. Banyak sekali pekerja yang melebihi batas toleransi tubuh bekerja, namun mereka tidak menyadari bahwa mereka sedang dihantam dengan stress. Ya, whatever pendapat kalian, hindari dan kontrol ini.

Sayang sekali, saya hanya mempunyai 2 resep mengatasi stress ini,

  1. Perbaiki hubungan dengan Sang Pencipta Alam Semesta.
  2. Perbaiki hubungan dengan alam semesta.

PERBAIKI HUBUNGAN DENGAN SANG PENCIPTA ALAM SEMSETA

Halo, saya ingin menjabarkan ini dalam sudut pandang agama saya, Islam. Jika Anda non-muslim, silakan jabarkan menurut sudut pandang Anda.
Okkay, dalam beberapa kali ketika saya mengalami serangan penyakit ini, saya langsung ingat mati. Kawan, kita tidak akan berlama-lama singgah di bumi ini kan? Kalau begitu, mari kita berserah. Dalam beberapa kesempatan pun saya kemudian mengambil wudlu, kemudian membaca Al Qur’an. Subhanalloh, ada ketenangan dalam hati saya yang seketika itu meredakan rasa kumat penyakit tersebut, nafas menjadi reda, tubuh serasa dingin dan terisi energi lagi.

Berdoa, pasrah, dan ikhlas. Ini dahsyat, kawan. Benar-benar luar biasa. Kadang kala kita berdoa hanya sekedar berdoa, dengan mengucapkan secara lisan, dan berlalu begitu saja. Namun, pernahkah kita berdoa hingga kita merasa merinding, gemetar, atau seperti terbang terpisah antara badan dan rohani kita? Ini yang saya maksud, saat benar-benar kita merasa di titik nol dalam berpasrah dan mengaku kita sangat lemah di hadapan-Nya, ada sebuah energi (yang tentunya ini datangnya dari Alloh) yang datang ke dalam jiwa dan raga kita, seolah mengusir partikel-partikel negatif yang menempel pada tubuh. Bahkan air mata pun tidak bisa kita bendung karena dahsyatnya proses berserah ini. Silakan, Anda mencobanya.

PERBAIKI HUBUNGAN DENGAN ALAM SEMESTA

Semua jenis penyakit pasti ada penyebabnya. Anda setuju? Kalau tidak setuju, jangan lanjutkan bacaan ini ;p. Ahahaha, dari tadi serius amat bahasa tulisannya. Oke, ane ganti Gan, pake Bahasa Kaskus saja yaa, yang penting kita gak saling lempar-lemparan bata ;p. Capek nih nulis pake bahasa resmi.

Pertama. Ok Gan, sekarang ane mau nanya, Ente pernah gak nyakitin orang lain, Gan? Atau Ente pernah nyisa’in dendam kesumat sama orang lain? Ini masuk faktor xxx sih, yang gak terlihat, tapi yakin Gan, ini bisa berdampak sama kehidupan kita. Kalo udah kejadiannya kayak begini, perbaiki dulu Gan sama yang empunya problem sama Ente. Sampai bener-bener selesai. Jangan sampai ada orang lain yang gak ridlo sama perlakuan kita, trus ndoain kita yang engga-engga. Prinsipnya, orang yang terdzolimi, do’anya nembus ‘Arsy. Jadi perbaiki hubungan kita dengan sesama. Humm, kalau yang pertama ini, Insya Alloh ane fine-fine saja, ndak ada masalah berarti sama orang lain.

Kedua, ini Gan yang penting, faktor xxx lagi. Jangan makan dari hasil harta haram. Nah, ini, ane terus berpikir Gan, karena salah satu faktor xxx yang menyebabkan kita sakit adalah akibat memakan dari hasil harta haram. Ane terus mikir, apa iya ane pake acara korupsi-korupsi segala? Daan… Astaghfirulloh… dari pencarian ane selama ini, ane baru nyadar Gan, dulu hampir tiap hari ane selalu bawa botol minuman dari rumah ke tempat kerja. Nah, ketika mau pulang, ane selalu isi tuh botol sama air putih di kantor untuk ane bawa pulang. Ini simpel Gan, tapi jelas konteks keperluannya sudah beda. Ketika ane di kantor dan minum air putih yang disediakan di kantor, itu wajar dan sah, karena air putih emang disediain kantor untuk dikonsumsi di jam kerja. Nah ini yang ndak wajar, karena kita bawa air putih itu ke rumah, karena sudah bukan waktu dan wilayah kita bekerja lagi. Setelah ane nyadar tentang ini, ane gak pake acara bawa-bawa air putih lagi dari kantor. So, what do you think? Please be consider about it! Ini ane sangat bersyukur, Gan. Karena ane langsung diuji dan disadarkan sama hal yang sekecil ini. Udah distop duluan sama Alloh, biar ndak menjalar ke hal-hal yang lebih besar.

Ketiga, salurkan hobi positif. Ini masuk kategori hubungan dengan alam semesta, Gan. Jika rekreasi alam membuat Agan dan Aganwati segar kembali, lakukan. Jika shopping juga membuat tubuh dan pikiran jadi refresh, ya laksanakan (tapi ini akan berputar lagi kayaknya, mikir tentang pengeluaran, dan stress lagi ;p ).

CERAIKAN DULU MAKANAN DI BAWAH INI!!!

Saran saya, dalam proses penyembuhan, hindari atau bahkan ceraikan sementara makanan dan minuman ini, Gan:

  • kopi
  • ubi-ubian
  • gorengan
  • mie instan
  • kacang tanah (dan beberapa jenis kacang-kacangan)
  • kubis
  • kol
  • coklat
  • santan
  • makanan terlalu banyak minyak dan lemak
  • alkohol
  • rokok (terutama bagi yang kerongkongan atau tenggorokannya meradang akibat asam)
  • cabe dan makanan pedas lainnya
  • jeruk
  • makanan yang mengandung  pengawet
  • keju
  • Es, dan makanan atau minuman apapun yang mengandung kedinginan, termasuk es krim

Kalau mau coba ya silakan saja, Gan, tapi ane gak mau nanggung resikonya ya. Pola yang ane lakukan adalah mencobanya sedikit-sedikit jika kondisi tubuh dirasa normal. Contoh, ane dah mulai berani makan mie di 2 bulan terakhir proses penyembuhan. Awalnya agak sesak-sesak dikit, kemudian berhenti dan dicoba lagi beberapa lama kemudian, dan alhamdulillah sekarang sudah merasa normal, tidak berefek. Ingat Gan, ane 2 bulan, bisa jadi berbeda dengan Agan karena respon dan kondisi tubuh kita beda.

Rokok ini Gan, juga nyumbang keparahan, asap yang kita hirup akan memperburuk situasi jika kondisi tenggorokan kita sudah teriritasi akibat asam dari lambung tersebut.

Nah, Gan kalau udah dipastikan Agan sehat dan merasakan semubuh dari penyakit ini, silakan untuk rujuk kembali Gan sama makanan dan minuman yang sudah diceraikan tadi ;p. Tapi Gan, ingat, jangan berlebihan!

INI GAN YANG ALAMI

Halo, masih baca tulisan ini kah? Oke Gan, sekarang kita sudah pada inti pengobatan. Ane sebut alami, karena bahan-bahan pengobatan ini lebih banyak diambil dari alam, dan tidak terlalu banyak terjamah (atau bahkan tidak sama sekali) dengan campuran kimiawi obat-obatan medis.

  • Berkumur air garam. Alhamdulillah, ane sudah berkali-kali melakukan ini dan hasilnya kerongkongan ane membaik dan ganjalan semakin berkurang, bahkan sekarang sudah tidak sama sekali. Berkumur dengan air garam juga akan membasmi bakteri di sekitar mulut dan kerongkongan. Untuk info manfaat air garam ini bisa dilihat di mari, Gan.
  • Apel, buah yang segar dan menyehatkan. Ane tidak berlebihan, Gan. Dulu waktu masa penyembuhan, ane bisa makan 2 sampai 3 buah apel setiap harinya. Ane makan sebelum atau sesudah makan. Tapi kalau pagi, biasanya ane makan sebelum makan. Konon Gan, walaupun rasanya ada asamnya ketika berada di mulut, apel justru akan membuat lapisan basa di lambung sehingga diharapkan fungsi tersebut dapat menyeimbangkan keadaan asam-basa dalam perut. Ane makan pagi, siang, dan malam Gan sebelum tidur. Alhamdulillah, sangat bermanfaat dan bereaksi baik. Oh iya Gan, ane sampe mau lupa, ehehehe. Cuka apel, Gan. Tapi kalau untuk cuka apel ini, ane jarang minum, paling pas kalau stok apelnya habis. 1 sendok teh bisa diminum dengan 1/2 gelas air, tambahkan madu secukupnya.
  • Susu murni. Maksud ane, bukan susu formula, Gan. Ane biasanya minum susu beruang (Bear Brand, bukan susu dari beruang lho, ya) setelah makan. Menurut beberapa artikel yang ane baca, susu bisa berfungsi untuk menetralkan asam yang ada di dalam lambung dan melancarkan proses pencernaan. Alhamdulillah, di awal-awal sakit dulu ane sering mengkonsumsi susu kaleng ini setelah makan, dan reaksi sesak yang dulunya terjadi setelah makan, menjadi berkurang sampai tidak sama sekali.
  • Sari temulawak. Gan, pernah lihat wawancara Jokowi? Jokowi ini penggemar minuman sari temulawak, lho. Apa hubungannya sama ini, Gan? Ehehehe, tidak secara langsung Gan. Ane pernah dengar ceramah dokter Gan. Ketika kita stress, liver (hati) akan bereaksi dengan mengeluarkan zat penyebab asam lambung. Nah, temulawak ini berfungsi untuk kesehatan hati dan berperan juga menetralkan asam lambungnya. Waktu masa penyembuhan, ane minum temulawak paling tidak dua kali sehari. Karena ane gak suka ribet, ane beli yang instan, Gan. Dari beberapa merk, ane lebih cocok sama produk keluaran Konimex, Herbadrink Sari Temulawak.
  • Minum air putih yang cukup. Gan, pernah naik pesawat trus kena serangan panik? Apa yang Agan lakukan? Kalau ane, langsung kontak pramugari Gan, minta air putih hangat. Air putih hangat ini Gan, alhamdulillah bisa meredakan tenggorokan yang lagi mengganjal, dan kata dokter yang pernah nyeramahin ane, air putih hangat punya efek merengganggakan otot-otot yang kaku di sekitaran jalur air tersebut, menimbulkan efek nyaman (CMIIW Gan). Minum air putih yang cukup Gan setiap hari. Ndakpapa sih sering ke toilet buang air kecil, tapi air putih yang kita minum dapat mengurangi tingkat keasaman di perut, terutama ketika bangun tidur. Nah sebaliknya Gan, jangan terlalu banyak minum air putih menjelang tidur, apalagi abis minum langsung tidur, ini bisa bikin asam ikut naik bersama air putih yang berlebih ke kerongkongan. Ane sudah merasakan manfaat air putih ini Gan, bisa dicek di mari untuk keterangan lebih lanjut.
  • Habbatussauda a.k.a Jintan Hitam. Ane benar-benar merasakan manfaat habbatus sauda ini Gan. Dalam masa penyembuhan, ane minum 3 kali sehari, masing-masing 2 butir. Ane biasa minum habbatus sauda dalam bentuk kapsul  sehabis sarapan, makan siang, dan menjelang tidur. Dan Alhamdulillah Gan, ini sangat efektif dalam pengobatan. Oh iya Gan, ini cocok-cocokan kali ya, setelah ane banding-bandingin jenis habbatus sauda dan merknya, ane cocok sama yang bentuk serbuk kapsul, merk Kurma Ajwa. Agan bisa nyari produk ini di apotek tertentu, toko herbal, toko herbal thibbun nabawi, atau toko-toko online Gan. Untuk info, bisa dilihat di Mbah Bro Google di mari.

Itu saja? Iyah, simpel kan? Oke Gan, silakan dicoba jika berkenan. Perhatikan porsi susu Gan jika Agan terkena masalah di ginjal, karena pada dasarnya kalsium dalam susu yang terlalu banyak akan berpengaruh juga pada kinerja ginjal yang tidak normal.

BAGAIMANA DENGAN POLA MAKAN?

Oke Gan, mari kita bahas. Dulu, ketika ane merasakan serangan GERD yang bisa dikategorikan pada kategori puncak, beberapa hari setelah itu dan setelah mendapatkan edukasi dari internet dan informasi pendukung dari para dokter, ane benar-benar menjaga pola makan.

Masa sulit (tahap I). Agan pernah makan lantas merasakan nafas yang berat dan perut terasa penuh? Aha, kalau begitu, benar-benar perhatikan pantangannya Gan. Jangan dipaksakan makan terlalu banyak jika itu terjadi. Dulu ane makan 3 sendok saja sudah tidak sanggup lagi melanjutkan. Ane berhenti dan mengganti nutrisi lain seperti segelas (tepatnya sekaleng) susu (waktu itu Bear Brand). Maaf Gan, ane menyebut merk di sini bukan untuk iklan, tapi benar-benar untuk sharing pengalaman. Dalam kondisi tersebut, ane beberapa kali sarapan dengan 2 butir telur ditambah 1 kaleng susu. Siangnya makan bubur plus 1 kaleng susu (atau dibalik menu sarapan dan makan siangnya). Bahkan porsi makan sore/malam juga bubur. Pada kondisi ini, berat badan ane turun sampai 6 kg. Alhamdulillah, diet yang lumayan murah ;p. Ini berjalan di kisaran bulan kedua sakit berjalan (karena sebelumnya masih belum tahu banyak tentang karakter penyakit ini). Temulawak dan habbatus sauda masih ane konsumsi.

Masa sulit setengah lewat (tahap II). Setelah masa-masa sulit itu terlewati, ane mulai mencoba makan nasi lagi, tapi nasi yang lumat (dibanyakin airnya pas menanak nasi tersebut), jadi lebih halus untuk dicerna lambung. Itupun porsinya belum bisa sepiring penuh. Paling tidak 4-7 sendok sudah lumayan. Lauknya minimalis Gan, tahu, tempe, telor, dan kadang-kadang dikombinasikan dengan ikan. Susu masih saya konsumsi, pagi dan malam. Makanan bersantan masih ane hindari Gan pada masa ini, termasuk nasi goreng dan mie. Temulawak dan habbatus sauda masih ane konsumsi.

Masa sulit terlewati (tahap III). Pada masa ini, ane sudah berusaha kelbali ke jalan yang normal, Gan. Minum susunya juga sekali-kali, dan temulawak juga sekali dua kali sehari (yang dulunya sampai 3 kali sehari rutin). Ane juga sudah mencoba makan mie (nah ini masih terasa dikit sesaknya setelah makan mie), kemudian jeda seminggu atau 2 minggu kemudian coba mie lagi, tapi tidak banyak.

Masa bebas (tahap IV). Tahap ini ane mulai benar-benar berani Gan, setelah sekitar 3 bulan berteman dengan makanan ala rumah sakit ;p.  Inilah saatnya ane mulai makan makanan dengan kombinasi sambal, makan santan, minum es, makan gorengan, coklat, dan alhamdulillah, saya berani katakan dalam tahap ini 95% sembuh Gan. Yang 5%nya apa? Yang 5% itu beberapa kali ane merasakan tidak nyaman ketika tidur malam tanpa posisi bantal yang tinggi. Namun setelah jalan beberapa jam tidur, tanpa bantal pun bisa nyaman. Tapi so far, alhamdulillaah, ane sehat dan berhasil melawan penyakit ini.

Baik Gan, kelihatannya terlihat simpel? Iya, memang, ane benar-benar serius mencari informasi tentang penyakit ini dan serius menjalani perawatannya. Kalau agan ingin bertanya dan menambahkan pengalaman dan pertanyaan, silakan tuliskan pada komentar.

Sekian dulu ya, Gan. Ini part III habis, sesi terakhir ^_^. Semoga Agan dan Aganwati sekalian mendapatkan kemudahan dalam proses kesembuhannya.

Best regards,

InsyaAlloh Darwis Sukses.

Posted in Cerita dan Pengalaman, Ide dan Opini | Tagged: , , , , , , , | 178 Comments »

Putus Hubungan dengan Gastroesophageal Reflux Disease (GERD)

Posted by Darwis Suryantoro on December 30, 2013


Dear Readers,

Dilihat dari judulnya, ngeri engga sih? Ehehe, ini bukan membesar-besarkan, tapi emang di Indonesia, penderita penyakit ini sudah terhitung banyak.

Sedikit lupa, beberapa tahun yang lalu, sekitaran tahun 2007, ketika masih kuliah di Jogja, saya pernah ke rumah sakit Dr. Sardjito Yogyakarta, gara-gara kepala keliyengan, pengen muntah tapi tidak muntah. Saya pikir darah tinggi, tapi ternyata bukan. Ketika sudah sampai di rumah sakit, saya tidak tahu harus ngapain, ehehe. Bersama teman saya, hanya keliling-keliling rumah sakit. Tiba-tiba badan terasa normal kembali, seperti ada ketenangan setelah berkunjung ke sana. Namun, kami memtuskan untuk ke rumah sakit yang lebih kecil, yaitu RS Condongcatur di Sleman.

Di perjalanan terasa keliyengan lagi, ban motor bocor juga, aduh, alhamdulillah. Sesampainya di rumah sakit, saya periksa darah, ternyata normal. Setelah konsultasi ke dokter, dia mendiagnosis kalau saya mengalami penyakit Gastroesophagus. Kata dia, penyakit ini banyak diderita orang-orang di Amerika. Walah, berarti ndak perlu ke Amerika untuk dapet penyakit ini :(. Saya minta dicatatkan nama penyakitnya oleh dokter, ternyata referensinya masih sedikit yang membahas tentang penyakit itu dalam Bahasa Indonesia. Saya cuek, mengikuti pengobatan ala kadarnya. Sampai di sini, saya belum benar-benar tahu apa yang terjadi pada tubuh saya.

Ok, beberapa tahun kemudian. Kisaran awal tahun 2011, saya mengalami sesak nafas ketika akan berangkat bekerja. Yup pagi-pagi. Saya pikir saya kena asthma, jadi saya beli obat asma. Eh, sampai di kantor masih tetap saja, trus saya ke UKS, dan saya dikasih alat Ventolin, alat penghirup yang mengandung salbutamol itu. Aduh, kok keliatan parah gini.

Setelah itu saya ke klinik kampus di sebelah SMK. Katanya sih saya sakit maag. Lha, ini yang mulai curiga, kenapa saya sesak nafas tapi kok didiagnosis maag. Penasaran semakin menggila :(. Okkay. Kita akhiri kisah sampai di sini. Saya tidak menyadari kali ini jika penyakit ini berawal dari lambung. Cuek. Ternyata obat Mas Dokter belum berefek joss terhadap tubuh saya. Waktu itu saya beli habbatus sauda, dan alhamdulillah end. Maksudnya penyakitnya yang end ;p.

2013. Ini tahun yang sedikit menyeramkan saya menjalani sakit yang tidak terdiagnosis sakit oleh dokter, bahkan dokter spesialis dalam sekaligus. Sekitar bulan September, tanggal 20 hari Jum’at malam (kalau saya tidak lupa), saya merasakan tenggorokan saya berbunyi ketika bernapas, sangat berat dan susah, terlihat seperti orang yang sedang nazak (nafas-nafas terakhir kematian), aduh, parno sekali. Saat itu saya benar-benar berpikir akan dipanggil Alloh swt, kembali kepada-Nya. Dari kamar tidur saya berusaha keluar meminta pertolongan, sembari saya meminum air yang berada di meja dekat kasur. Allohu Akbar. Saya tidak jadi mati ^_^.

Teman tetangga kamar kos pun terkejut (kayaknya sih terkejut ;p mendengar reaksi teriakan saya). Ia mengira saya sedang mengigau, wow. Kemudian saya ceritakan kronologisnya dan dia percaya bahwa saya berteriak-teriak tersebut karena kesusahan bernapas.

Tiba-tiba suara saya menjadi parau, serak, dan sakit. Saat itu juga saya diantar teman ke rumah sakit terdekat, yaitu Rumah Sakit Dok II Jayapura, sekitar jam 11 malam. Apa yang dilakukan dokter adalah memeriksa dada saya dengan stetoskop dan menyentuh nadi di pangkal telapak tangan saya, kemudian dokter tersebut langsung mendiagnosis saya kena sakit asma. Oh tidak….. Syok sekali mendengarnya. Sakti sekali dokternya tanpa mendeteksi sakit dengan perlatan medis yang memadai langsung mendiagnosis saya terkena asma, hanya dengan berbekal informasi bahwa saya pernah merasakan sesak napas sewaktu kecil, itupun tidak lama dan tidak muncul lagi hingga sekarang. Apa iya sakit asma yang sudah sembuh bisa kambuh lagi setelah lebih dari 20 tahun kemudian? Oh, saya harus mencari second opinion, ya ke dokter lain, atau ke rumah sakit lain.

Senin dini hari, 23 September 2013, dalam kondisi panik dan tidak bisa tidur, saya tidak bisa bernapas lega, parno. Kepala berat, hidung seperti mampet, dan saya berusaha mengeluarkan sesuatu yang mengganjal di tenggorokan saya. Iya, dahak, lebih mirip dengan lendir sebenarnya. Ketika saya berhasil mengeluarkan lendir tersebut, saya merasa sedikit ringan, namun itu tidak untuk waktu yang lama. Kemuadian saya meminta bantuan anak pemilik kos yang kebetulan saat itu berada di rumah. Yup, dini hari sekitar jam 2, saya kembali ke rumah sakit. Kali ini menuju ke rumah sakit Marthen Indey, di Jayapura. Saya dirujuk ke dokter umum, karena saat itu yang hanya ada adalah dokter umum jaga UGD. Saya bilang gejala yang saya alami. Kemudian salah satu perawat memeriksa tekanan darah saya dan ternyata dalam kategori tinggi, 149-80. Wow, saya panik, tapi lebih tenang dan reda ketika berada di rumah sakit. Saat itu saya diberi resep yang saya lupa macam obatnya apa saja, yang jelas bukan untuk penyakit yang baru kemudian saya ketahui.

Kemudian saya pulang dan merasa lebih lega. Aneh, kok tiba-tiba reda serangannya, seperti serangan jantung saja, padahal obat belum diminum. Paginya, sekitar jam 8an, saya ijin kembali ke rumah sakit untuk memeriksakan keadaan lebih lanjut. Langsung saya ke poli penyakit dalam (daftar dulu ke bagian administrasi ;p), masih di rumah sakit yang sama, RS Marthen Indey, Jayapura. Ketika menemui dokter spesialis, saya menyampaikan keluhan yang lagi-lagi saya perlu menjelaskan dengan detail. Saya diminta foto (dada), urin, dot, dan darah.

Pada hari pertama, hasil foto sudah dapat diketahui, kemudian saya tunjukkan ke dokter, dan, teng teeng… Kata beliau saya mengalami infeksi paru :(. Syok lagi, tambah stress. Apa salah saya coba? Merokok tidak, minum miras juga tidak, selama di kos saya merasa menghirup udara normal? So, whats wrong with my lung? Seketika itu saya diberi resep obat antibiotik, obat darah tinggi (karena sebelumnya saya menginformasikan formasi nilai tekanan darah saya ;p), dan obat racikan dari dokter (saya tidak tahu), sepertinya untuk meredakan tenggorokan (lendir dan batuk). Obat-obatan ini masih belum bisa meredakan atau meringankan penyakit saya.

Hari rabu, 25 September 2013. Eaaa, ke rumah sakit lagi untuk mengambil hasil tes urin, dot, dan darah. Hari itu juga saya menjalani USG. Apa kata dokter? Hati saya bermasalah, banyak lemak di lapisannya. Dueng… Namun hasil tes dot menunjukkan kalau saya negatif terkena TBC. Ginjal juga diperiksa. Alhasil, saya dikasih tambahan obat, berupa peluruh batu ginjal, antibiotik, obat asam urat. Aduh, pusing deh. masih muda gini kok didiagnosis yang macem-macem.

Jumat, 27 September 2013. Mengalami sesak lagi dan tenggorokan mengganjal ketika khotbah Jumat akan dimulai. Saya mengurungkan niat mengikuti sholat Jumat dan kembali ke kantor. Saya ganti dengan sholat dluhur kemudian ijin pulang beristirahat. Eh, sesampai di rumah, kumat lagi, astaghfirulloh. Saya kontak orang kantor untuk minta tolong mengantarkan saya lagi ke rumah sakit. Kali ini ke UGD lagi, saya diuap. Aduh, baru pertama kali nih sepanjang hidup saya diuap. Eh, setelah itu tenang lagi, tangan saya merasakan kram. Saya bilang ke dokter penjaga UGD, bahwa saya telah memeriksakan diri ke poli dalam, namun saya masih merasakan gejala yang sama. Sang dokter mengatakan itu tidak apa-apa, efek dari obat. Wow? Efek dari obat? Bisa end kalau terus-terusan begini. Masalahnya, saya merasa sudah terlalu banyak meminum jenis obat. Saya masih belum sadar dengan penyakit GERD saya.

Sore itu juga saya memesan tiket ke Makassar, untuk memeriksakan diri ke rumah sakit yang mempunyai fasilitas medis yang lebih memadai daripada di sini. Saya mengontak istri (kebetulan istri saya sedang di Makassar) untuk menyiapkan akomodasi saya. Saya selalu berdoa agar perjalanan saya hari Sabtu, 28 September diberi keselamatan oleh Alloh.

Saya bertekad untuk menghentikan obat-obatan kimia dari dokter tersebut, karena setelah saya minum obat, saya merasa sesak kembali. Saya mulai meyakinkan diri bahwa paru, ginjal, dan hati saya tidak ada masalah. Selama perjalanan dalam pesawat, saya berkali-kali merequest air hangat ke pramugari. Untungnya pramugarinya care dan mengerti kalau saya sedang sakit. Sempat berpikir berkali-kalai, bagaimana jika saya mati di dalam pesawat, aduh good bye istriku :(. Masalahnya, tenggorokan saya mulai mengganjal lagi ketika di dalam pesawat, kedinginan pula, dan agak susah bernapas. Saya mengalihkan perhatian dengan menonton film pendek humor yang terdapat di display entertainment pada setiap seat di pesawat Garuda Indonesia. Ketika ada hal lucu, saya mulai merasa ringan lagi. Namun, sesekali kumat sesaknya. Dari sini saya mulai berpikir lagi, saya merasa jika kondisi pikiran panik, maka akan meningkatkan efek penyakit ini. Ya, saya mencoba menenangkan diri.

Alhamdulillah, sekitar jam 5 sore, dengan GA 655 saya mendarat di Bandara Sultan Hassanuddin Maros, kemudian saya melanjutkan ke Makassar untuk menemui istri di kantor, sembari beristirahat. Dalam perjalanan dari kantor istri ke penginapan hanya sekitar 200 meter. Namun, kali ini saya merasa sangat kelelahan. Hanya jalan 200 meter saja, keringat saya bagaikan air hujan, nafas ngos-ngosan. Belum pernah saya merasakan secapek ini, diiringi kepala yang berat keliyengan. Subhanalloh, benar-benar menguji kesabaran saya. Dan dahsyatnya, ini benar-benar mengingatkan saya akan kematian, alhamdulillah. Karena kelelahan itu saya harus beristirahat di penginapan hingga akhirnya hari minggu, 29 September 2013 saya memberanikan diri ke rumah sakit diantar istri.

Siloam Hospital, 29 September 2013, sekitar jam 10 pagi. Karena hari minggu, praktik dokter spesialis libur (dokter spesialis adalah dokter yang spesial butuh libur di hari minggu dan hanya dapat dijumpai di jam-jam tertentu 🙂 ). Saya menemui dokter umum dan beliau menyarankan saya untuk medical check up. Saya kemudian meminta surat referensi, beliau hanya meresepkan saya vitamin dan obat sesak (yang hanya dikonsumsi ketika sesak).

Masih sering berkeringat banyak, senin, 30 September 2013. Saya dan istri mencoba bergerak lagi, gerakan 30 september, bukan untuk membantai orang lain, tapi untuk melawan penyakit ini. Sesekali saya masih sesak, kepala keliyengan dan terasa berat, tenggorokan mengganjal, dan kadang-kadang dada seperti nyut-nyutan. Saya harus kuat. Karena saya yakin paru-paru saya tidak bermasalah, maka saya tidak mengkonsumsi obat sesaknya. Saya haya minum vitaminnya saja. Selama satu hari ini, saya menjalani MCU, meliputi pemeriksaan darah, urin, detak jantung, faal paru, dan foto lagi.

Rabu, 2 Oktober 2013. Saya mengambil hasil MCU sekaligus dirujuk ke dokter spesialis penyakit dalam. Apa kata dokter? Ini sungguh berbeda 180°. JANTUNG SAYA NORMAL, PARU-PARU SAYA NORMAL, GINJAL SAYA NORMAL, KEADAAN LIVER SAYA JUGA MASIH DALAM BATAS TOLERANSI (Berlemak karena gemuk). What??? Dokter tersebut hanya bilang kalau saya sedang stress karena kelelahan atau kebanyakan berpikir berat. Woww… Amazing :D. Sebenarnya ini jawaban yang saya inginkan dari dokter, bahwa organ-organ vital dalam tubuh saya tidak bermasalah. Namun, apa iya hanya karena stress? Akhirnya masalah penyakit saya mengerucut di bagian tenggorokan (dan kerongkongan). Kemudian saya dirujuk ke dokter spesialis THT. Setelah diperiksa dengan ENT Procedure, diketahui bahwa daerah seputaran kerongkongan saya meradang, seperti terlihat luka di dalamnya. Dari dokter THT saya kemudian diberi resep 2 obat, yaitu antibiotik dan obat pengencer dahak. 1 lagi atas resep dokter MCU melalui dokter THT adalah curcum, adalah vitamin hati.

Sabtu, 5 Oktober 2013. Hari itu saya tidak mengikuti upacara hari TNI. Saya kembali ke Rumah Sakit Siloam Makassar untuk memeriksakan perkembangan saya. Saya langsung menemui dokter spesialis THT karena sebelumnya sudah janjian. Saya bilang kalau keadaan saya sudah membaik, namun sesekali masih merasakan sesak, namun ringan. Kemudian saya diberi resep yang sama untuk pengobatan beberapa hari. Atas saran dokter juga, saya melakukan pemeriksaan esophagus, sebuah cairan mirip susu diminum dan kemudian difoto. Dari hasil lab kemudian, saya bisa melihat alur minuman tersebut dari kerongkongan sampai ke lambung. Karena waktu terbatas dan saya harus kembali ke Jayapura pada hari minggunya, maka hasil lab diambil ketika istri saya melakukan kunjungan kerja lagi ke Makassar.

Hellooo, mari kita sekarang bicara hitung-hitungan. Bersyukurlah kalian akan nikmat sehat yang Alloh berikan kepadamu, karena sehat itu mahal dan sangat mahal harganya. Baiklah, berapa uang yang harus dirogoh selama kurang lebih 2 MINGGU tersebut?

  • Biaya jasa medis, laboratorium, dan obat-obatan sebesar Rp 6.643.808,-
  • Biaya pesawat Jayapura-Makassar PP sebesar Rp 3.766.400,-
  • Penginapan Rp 1.050.000,-

Jika dijumlahkan, akan menemui angka Rp 11.460.208,- Subhanalloh… Ini belum termasuk biaya transport lokal lho yaa….

Bersambung… BAGIAN 2

Posted in Cerita dan Pengalaman, Ide dan Opini | Tagged: , , , , | 6 Comments »