Darwis untuk Indonesia

"Raihlah ilmu, dan untuk meraih ilmu belajarlah untuk tenang dan sabar." (Ummar bin Khattab, R.A)

Cita-citaku, Ingin menjadi Sopir

Posted by Darwis Suryantoro on February 22, 2013


Lho? Assalaamu’alaikum dulu yaa….

Ngelihat judulnya saja, agag aneh yah? Masa’ Mas Darwis yang sekolah sampai ke perguruan tinggi pengen jadi sopir? Beneran nih? Eaaa, bener ^_^. Tapiii, baca dulu yah, biar ngeh maksudnya sopir yang bgemana ;p.

Dulu, sewaktu aku masih kecil, kecil banged nih, seberapa yah? Humm, masa-masa balita deh pokoknya. Aku, sering ngikut ke kelas pas bapak mengajar. Beliau mengajar di salah satu sekolah dasar di Jember, Jawa Timur. Waktu itu, bapak masih muda, gayanya kayak Rambo, badannya berotot banged, gag kayak aku yang chubby (perutnya).

Nah, biasanya bapak datang pagi-pagi, dah siap di dalam kelas sebelum pelajaran pagi dimulai. Btw, bapak ituuu, dulunya pengen jadi Insinyur Mesin, tapiii gag kesampaian, kasian yah… Kaciaan dech Luuu… (Ooops, muuph ea Pak ^_^). Celakanya, aku ngikutin beliau sampe ke kelas. Lha, ngapain? Jadi kernet :( .

Kernet itu kan, berdiri di samping pintu bis gitu, ya kan? Nah, aku melakukan hal yang sama, tapiiii beda, coz bukan berdiri di pintu bis, tapi berdirinya di pintu kelas. Huwaaa, kebayang bagaimana nakalnya aku waktu itu.

Malang, Malang… Malang… Langsung… Ayo cepaaat!

Biasanya sih trayeknya kalo gag ke Malang ya ke Banyuwangi, coz rumah kakek-nenekku ada di sana. Naahh, aku ngomong kaya’ kernet gitu sampe murid-muridnya bapak masuk kelas semua. Kalo dah pada masuk, yah aku bilang “Yhooooo”, artinya “berangkat”. Nah, kalo udah bilang begitu, biasanya aku diem (udah gag nakal lagiii). Tapi ituuh, hampir berjalan tiap hari. Karena ulahku ini, murid-murid bapak yang diajar beliau waktu itu, masih ingat aku, walaupun aku gag ingat mereka (asyik yah punya fans ^_^).

Waktuuu terus berjalan, nahh semakin dewasa (ciyehh dewasa katanya….), aku semakin sedikit agag kreatif (Lho, apa itu sedikit agag kreatif? Bahasa lain dari frase ituuh adalah “lumayan”. Gag nyambung yaa? ;p). Tempat tidurku waktu itu, bukan sepering bett, tapiii penampangnya dari divan. Divan ituuu bahasa enggres dari dipan. Amben… ambeen… Masa’ gag ngerti? Nah, di antara kasur & dipan kan ada celah tuh. Aku masukin yang namanya sisir a.k.a suri di antara keduanya. Lho buat apa? Buat porseneleng ^_^. Lha, trus setirnya pake apa? Biasanya siii, aku pake buku, atau baki tempat yang buat bawa minuman itu lohh…

Ton…. Toooon… Ton.. Ton…

Itu suaraku menirukan suara klakson bis ;p. Ambisi bangeddd…. Ortu itu sampe khawatir, jangan sampai anaknya bener-bener jadi sopir. Haduwh, cp d. Ini nulisnya juga capek :( . Ntar, aku ambil air putih dulu…..

Kelakuan macam begini aku lakukan hingga beranjak ke sekolah dasar. hal-hal yang paling indah adalah ketika aku duduk di sepanjang kelas 4 sampai kelas 6 SD. Ketika dalam pelajaran kesenian dan guru memerintahkan untuk menggambar bebas, maka apa yang aku lakukan adalah menggambar….. BIS, ahahaha….. Di antara beberapa perusahaan otobus yang aku gambar adalah PO Akas, Mila Sejahtera, Lorena-Karina, Tjipto, Harapan Jaya, dan Kramat Djati. Heheh, entah di mana gambar-gambar bus itu sekarang.

Bus Gunung Harta, Denpasar-Malang

Bus Gunung Harta, Denpasar-Malang

Humm, inilah…. Futu pas di Bali tahun 2011, pake Bus Gunung Harta ^_^.

Tapi, apa yang semua aku ceritakan di sana bukan berarti cita-citaku pengen menjadi sopir bis sungguhan, tapi aku ingin menjadi sopir bagi:

  • Diriku sendiri
  • Keluarga kelak
  • Perusahaan/ oragnisasi

Sopir yang berarti pemimpin, menjadi seorang pemimpin yang bermanfaat, berguna, adil, bersahaja, berkharisma, dan bijaksana. Eciyeee… ;p Cemungudth eaa…. ^_^.

Posted in Memory & Experience | Tagged: , | Leave a Comment »

Mengaktifkan Automatic Mail Forwarding di Lotus Notes

Posted by Darwis Suryantoro on January 2, 2013


Salah satu manfaat Lotus Notes adalah kemudahan dalam melakukan transaksi email. Di dalamnya juga terdapat banyak fitur pendukung seperti manajemen kalender, manajemen daftar alamat, mangakses aplikasi database pada Lotus Domino, bahkan terdapat aplikasi Sametime yang digunakan untuk berchatting, dan lebih dari itu.

Nah, pada pembahasan saat ini: Bagaimana cara mengaktifkan Automatic Mail Forwarding di Lotus Notes. Sesuai judul, Automatic Mail Forwarding adalah proses meneruskan email yang masuk ke dalam inbox Lotus Notes ke alamat email lain, sehingga diharapkan dengan konfigurasi ini, pengguna mempunyai email backup ekstra, selain di Lotus Notes itu sendiri.

Berikut adalah langkah-langkahnya:

  1. Bukalah aplikasi Lotus Notes, dan masuk ke tab INBOX (yang tertulis nama Anda di atasnya).
  2. Temukan kata More yang berada di jejeran ikon inbox tersebut dan pilih Mail Rules.

    More

    Menu Mail Forwarding

  3. Pada jendela Mail Rules, temukan dan klik New Rule, kemudian Anda akan menemukan kotak di bawah ini:

    New Rule

    New Rule

  4. Pada Specify Condition, pilih Create Condition. Ganti sender menjadi ALL Documents, kemudian klik tombol Add. Kondisi ini akan melibatkan semua dokumen yang masuk ke email kita yang kemudian akan diforward atau diteruskan ke alamat email lain.

    Menentukan All Documents

    Menentukan Kondisi Awal

  5. Pada Specify Action, ganti move to folder menjadi send copy to. Tulislah alamat email Anda (tidak sama dengan alamat email yang digunakan saat membuka Lotus Notes saat ini) yang digunakan untuk menampung email yang diteruskan dari alamat email Lotus Notes yang Anda gunakan saat ini. Tuliskan pada teks boks “to”, Kemudian klik Add Action sekali saja.

    menentukan alamat email tujuan

    Specify Action

  6. Klik OK setelah menambahkan alamat email tersebut.

    akhir proses setting email forward

    Proses akhir Mail Forwarding

Setelah itu lakukan pengujian, semoga berhasil :) .

Ditulis oleh Darwis Suryantoro. Versi Lotus Notes yang diujikan adalah versi 8.5.3

Posted in Computer [general] | Tagged: , , , , , , , , | 2 Comments »

Pesan Ayah: Ringankanlah Kesalahan Orang Lain

Posted by Darwis Suryantoro on January 1, 2013


wiseman

Papa with Me

Satu yang tak pernah kulupa dari banyak kalimat ayah yang menginspirasi adalah: “Ringankanlah kesalahan orang lain.”  Yup, adalah bagaimana cara kita bersikap ketika orang lain sedang menyakiti kita, atau berbuat kesalahan kepada kita, atau bahkan menghambat saat kita tengah berusaha berbuat kebaikan untuk sesama.

Ayah tak sekedar mengucapkan kata-kata tersebut untuk anak-anaknya, namun beliau sendiri benar-benar mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Ia selalu menjadi solusi dalam menyelesaikan masalah bersama. Sontak saja, pengalamannya yang lebih dari 30 tahun mendidik para pelajar, membuatku menjadi mengerti, betapa pentingnya arti kesabaran dan bijaksana.

Ayah, ini benar-benar menjadi pelajaran berharga bagiku. Bahwa memberi maaf adalah sebuah kemuliaan. Bahwa menghargai adalah sebuah toleran. Bahwa berbuat baik adalah sebuah keindahan. Dan pribadimu yang tanpa pamrih, mengajarkanku bahwa keihklasan akan berbuah keberhasilan.

Betapapun setiap sakit yang kurasakan dari orang-orang sekitar, pribadiku belum mampu mengalahkan ketangguhan, kesabaran, dan keikhlasan jiwamu. Tentu ini bukan karena aku tak mengerti apa yang kau maksud, Ayah. Namun ini adalah sebuah pengakuanku bahwa engkau telah lebih banyak terlibat dalam menghadapi kerasnya hidup, bahwa engkau lebih banyak menghadapi cacian, hujatan, dan kerasnya orang-orang yang ingin menjatuhkan tahta kebaikan lakumu.

Ayah, bahkan engkau masih sempat tersenyum ketika fitnah datang kepadamu. Bahkan engkau masih SEMPAT tersenyum ketika fitnah datang kepadamu. Bahkan engkau masih sempat TERSENYUM ketika fitnah datang kepadamu, Bahkan engkau masih sempat tersenyum KETIKA FITNAH DATANG KEPADAMU.

Rasululloh dengan teladannya juga mengajarkan bagaimana sikap kita terhadap orang yang berbuat tidak berkenan kepada kita. Sebagaimana pengalaman Anas bin Malik ketika bersama Rasululloh, ia berkata:

Aku pernah berjalan bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang ketika itu beliau mengenakan selendang yang tebal dan kasar buatan Najran. Kemudian seorang Arab Badui datang lalu menarik beliau dengan tarikan yang sangat keras hingga aku melihat permukaan pundak Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berbekas akibat kerasnya tarikan selendang itu. Lalu orang itu berkata, “Berikanlah aku harta Allah yang ada padamu.” Kemudian beliau memandang kepada orang Arab Badui itu seraya tertawa, lalu beliau memberikan sesuatu kepadanya. (HR. Al-Bukhari No. 5809 dan Muslim No. 1057).

Posted in Memory & Experience, Reflection | Leave a Comment »

KIDUNG CINTA

Posted by Darwis Suryantoro on December 31, 2012


Ketika cinta semakin terbangun dengan alami,
Ijinkan kami bersama labuhkan hati.
Dalam penantian beratus malam berjuta mili.
UntukMu, untuk aku, untuk dia, untuk kami,
Nan cahaya keindahan rahmat kasih ridlo Illahi,
Gulirkan semua dan berpadu bersama jalan ini.

Cinantya, elok, santun, berilmu, berbudi.
Inilah jalanku, jalanmu, jalan kita, semoga bersemi.
Nestapa dan sepi tak akan lama mem”prikitiew” (Lho, kok Suleh?)
Tabahkan jiwa raga dalam kesabaran, Yas Robbi,
Agar penantian ini berbuah kebersamaan hingga akherat nanti…

————————————————————————
KIDUNG CINTA – Darwis Suryantoro – Jayapura – 30122012
————————————————————————

Posted in Poems | Tagged: , , | Leave a Comment »

Taqobalalloohu Minna Wa Minkum

Posted by Darwis Suryantoro on August 21, 2012


Suasana Idul Fitri tahun ini adalah untuk pertama kalinya bagiku tidak bersama dengan keluarga. Namun aku bersyukur, Alloh masih memberiku kesempatan untuk beribadah, sebagai bekal hidupku di kehidupan setelah di dunia kelak. Taqobalalloohu minna wa minkum: Semoga Alloh menerima (amalan) dari kami dan dari kalian.

Tahun ini aku menikmati indahnya hari kemenangan di sebuah kota di wilayah Tengah Timur Indonesia (bukan Timur Tengah, red), tepatnya di Makassar, kota yang mempunyai penetrasi ekonomi yang cukup tinggi di Indonesia (untuk data pertumbuhan ekonomi, silakan googling). Bahkan, Makassar sudah disebut sebagai Kota Metropolitan.

Seperti biasa, selama aku mengunjungi 3 kota metropolitan di Indonesia (yaitu: Surabaya, Jakarta, dan Makassar), ternyata mempunyai kemiripan yang sama persis, adalah ketiganya sama-sama kota bercuaca panas. Yup, puanas beuud. Situasi seperti ini tentu saja mempengaruhi kondisi fisik dan psikis penduduknya. Kecenderungan bagi penduduk yang tinggal di wilayah bercuaca panas adalah sensitivitas terhadap emosi dan kepribadian masyarakatnya. Jika dibandingkan dengan Surabaya, masyarakat di Jakarta dan Makassar lebih banyak membunyikan klakson di malam hari. Entah ini karena faktor budaya atau emosi.

Namun overall, Makassar adalah kota yang bagus, parameternya adalah pertumbuhan ekonomi yang begitu pesat dan orang-orangnya banyak yang berkarakter (jadi ingat model pendidikan berkarakter sewaktu aku mengajar di salah satu sekolah kejuruan di Malang dulu).

Tinggal di Makassar membuatku jadi lebih sabar, setidaknya (Insya Alloh) menambah kredit pahala selama Bulan Ramadhan 1433 Hijriah ini. Betapa tidak, aku harus bersabar tidak bisa berkumpul dengan keluarga selama Hari Lebaran, bersabar dengan cuaca yang lebih panas dari tempat tinggalku sebelumnya, bersabar dengan banyak godaan makanan khas (yang enak-enak, wkwkwk) selama proses dietku, hmm apalagi yaa? Bersabar dalam merajut asa dan menjalin mimpi. Hmm, satu lagi, bersabar menunggu sesuatu yang belum tercapai ^_^. (Alhamdulillah eaa, sesuatu… wkwkwk).

Tanggal 1 Syawal, aku melaksanakan Sholat Ied di Lapangan daerah Karebosi. Ternyata masyarakat di sini kompak banget, karena kegiatan sholat dilakukan terpusat. Hmm, karena (mungkin )dihadiri oleh puluhan ribu masyarakat, jalan protokol kota ditutup. Alhamdulillah, tertib sekali. Sekembalinya dari sholat, aku menunggu saudara yang akan menjemputku di hotel. Yup, saudaraku yang dari Banyuwangi itu ternyata menikahi perempuan keturunan Bugis, diajaklah aku ke rumah mertuanya di daerah Todo Puli Lima. Apa yang aku dapat? Makanan lagi (ahahaha, tahu ajah perut lagi keroncongan). Hmm, ada makanan mirip lontong, tapi rasanya beda, lebih gurih daripada lontong yang ada di Jawa. Namanya aku lupa, pokoknya ada suku kata “ras ras” gitu. Tapi bener deh, enak banget ini, kalo range nilai 5-10, aku kasih 8,5 (maknyoss).

Ngomong-ngomong tentang makanan, ada yang namanya Konro nih. Ada Konro Bakar dan ada yang pake kuah. Konro kalau di Jawa sama dengan daging iga. Aku nyoba Konro Bakar Karebosi, rasanya cikiciew, ueenak beuud. Coba dech liat foto aku di bawah!

Nyam-nyam with Konro Karebosi Makassar

Ada lagi tuh makanan yang namanya rada aneh, yaitu Palu Basah. Pertama mendengarnya, aku langsung ngeri, coz dalam pikiranku kok ada palu yang dimasak ya? Ternyata eh ternyata, di Makassar, “palu” itu artinya masakan lhoo, OMG. Dari presentasi, masakan itu mirip rawon, tapi dari segi rasa, engga sama seperti rawon. Hmm, tapi enak juga sih (apa sih yang engga enak di lidah Darwis? Semuanya enak, hahaha dasar, lho? Jangan salahkan lidah gue yaa).

Dari ketiga macam masakan soto yang pernah aku makan seumur hidupku sampai saat ini (Soto Madura, Soto Banjar, Coto Makassar), yang paling nendang di perut yaitu Soto Banjar. Coto Makassar kuanya lebih mirip rawon, kalau range nilai berdasarkan kemampuan rasa di lidahku adalah 8 (skala 1-10).

Apa lagi yaa? Oh iya, kalau minuman, ada yang namanya Pisang Ijo, ini juga lumayan buat mata yang rada bermasalah, secara pisang kan mengandung vitamin A. (Anak TK juga udah tahu Mas kalau pisang mengandung vitamin A. Cpd).

Satu lagi nih masakan Makassar punya, Kepala Ikan Kakap, muangstab Gan! Ini masakan Pertamax gue disamping Konro Bakar. Masya Alloh dech, perut ane sampai dibikin nge-fly, kebanyakan sambelnya hahaha.

Kata orang-orang sini, Nasi Goreng Merah juga khas Makassar. Muerah beud, Bro! Mungkin ini kali ya, orang-orang sini mempunyai daya juang yang tinggi. Pantesan pas gue makan, gue merasa jadi berani, semangat, and berenergi, Bro! (Iyaa, soalnya Elo kan belum makan sehariaaan, main embat ajah tuh perut). Hahaha, iyah, iyah ^_^v.

Oke dech, sementara ini dulu laporan dari Makassar. Semoga bermanfaat. (Lho, Mas…. Ini judulnya sama isinya kok engga nyambung yaa???). Oh iyah, muuph, muuph, soalnya aku belum makan siang nih, jadi kepikiran makanan ajah dari tadi. Baiklah… Saya, Darwis. Saya, Suryantoro: Bersama membangun bangsa! Selamat Idul Fitri 1433 Hijriah, Taqobalalloohu minna wa minkum, mohon maaf lahir batin. MERDEKA!

Posted in Memory & Experience | Tagged: , | 7 Comments »

Basic Concepts of Computer Network

Posted by Darwis Suryantoro on July 4, 2012


Okkay Students, Let’s start our study now. In this section, we will discuss about Computer Networking. This is a “very fundamental” study before we learn more about Network Security.

First of all, you have to know about the definition of Computer Network. What is Computer Network? Computer Network is a collection (and “connection”) between two or more computer systems through communication media that allows them to make a data communication and resource sharing. Data or piece of information, hardware (e.g. printer, CD-ROM, harddisk), and other communication devices can be categorized as resource sharing.

The network can be connected by various communication media, such as: cable, radio, and satellite. The advantages of computer network:

  • SPEED. Network Computer will increase a pace of work in the organizations or companies. It easily users for data transfer between computers and other devices.
  • COST. We can reduce cost of hardware because it should be shared with another computers.
  • SECURITY. Computer Network gives access rights to users that using the systems. They will not access some information or data from another department in the organization or company they work for.
  • CENTRALIZED SOFTWARE MANAGEMENT.  It means, all programs (which be used in the network) must be centralized. This method can can reduce work time and power for installation into each computer.
  • RESOURCE SHARING. It could solve limitation not only hardware (e.g. printer, phone, CD-ROM, harddisk) but also data.
  • FLEXIBLE ACCESS. We can access Internet Banking using internet service all over the world.

Based on the architecture, network can be divided into three kinds, those are:

  • Host Terminal
  • Client Server
  • Peer to Peer

Every Computer Network is developed into different shape and measures. It depends on condition and needs. Nowadays, design of network computers are growing day by day. We may call this situation as network terminology. At first, LAN and WAN were originally designed for Networks. But now, they are growing rapidly.

Currently, there are so many area network, such as:

  • Personal Area Network (PAN)
  • Local Area Network (LAN)
  • Metropolitan Area Network (MAN)
  • Wide Area Network (WAN)
  • Storage Area Network (SAN)
  • System Area Network
  • Small Area Network
  • Desk Area Network
  • Controller Area Network
  • Cluster Area Network (CAN)
  • and others

Local Area Network (LAN) is a number of computers or communication devices in a small area (e.g. office) using certain communication media (e.g. cable, wireless, etc).

LAN

Local Area Network

LAN is designed for needs and condition like/ for:

  • It operates in the small geographic (or restricted) area.
  • To give an access to the user via communication media with higher bandwidth consumption than WAN.
  • To provide full-time connectivity for local services.
  • To do the best connection between devices in local area.
  • To provide a private network control under local Network Administrator.

Metropolitan Area Network (MAN) is a network which has wider operation area than LAN but smaller than WAN. The scope of MAN can be in the whole city, intercity, or inter-provincial.

MAN

Metropolitan Area Network

 

Wide Area Network (WAN) is a communication between LANs. Each LAN is separated with a geographic distance. For example, a relationship between central office and branch offices in country area or even overseas.

WAN technologies:

  • Modem
  • ISDN (Integrated Digital Subscriber Line)
  • DSL (Digital Subscriber Line)
  • Frame Relay
  • ATM (Asynchronous Transfer Mode)
  • SONET (Synchronous Optical Network)
Wide Area Network

Wide Area Network

WAN is designed for the condition like:

  • Wide geographic operation area
  • Access permission via serial interface with medium speed
  • Providing part/ full-time connectivity
  • Connecting devices which separated by a long distance

Posted in Computer Networking | Tagged: , | Leave a Comment »

Kala Halilintar Bersabung

Posted by Darwis Suryantoro on February 8, 2012


Senja itu,
Dalam gelapnya langit, pekatnya awan
Aku ingin menjerit, membendung hujan
Bukan karena takut terbirit, tak juga tenggelam
Aku ingin melejit, menghadang badai menerjang

Senja itu,
Dalam gemuruh mendung, halilintar bersabung
Sontak aku termenung, terpaku, berkabung
Menatap langit tak berujung, tangis tak terbendung
Aku ingin tersenyum, walau badai menghunus jantung

Dalam cinta tak berbatas,
Dalam kasih tak berbingkai,
Dalam rajutan asa,
Dalam jalinan mimpi,

Terpatri dalam hati,
Sosok elok berbudi,
Cinantya, anggun berseri
*Ahabbakalladzi Ahbabtani Lahu…

Posted in Poems | 1 Comment »

Menyerah Nih?

Posted by Darwis Suryantoro on December 14, 2011


Bagaimana kesetiaan mampu merajut asa, sementara perihnya menandak-nandak hati, dan geloranya menusuk-nusuk jiwa? Tidak ada kekuatan lagi untuk mempercayai, tidak ada kesempatan lagi untuk berbenah, tidak ada cinta, hilang sekejap kerlipan mata. Dilupakan, tenggelam dalam palung terdalam, menembus batas terdalamnya nadi, terkumpulnya trombosit, tertampungnya merah dalam jantung yang selalu mengejar-ngejar, berjibaku dalam lingkaran kesetiaan yang tercampakkan, kesetiaan yang tak mampu memecah karang di lautan, kesetiaan yang dipatahkan, dihancurkan bersama ketulusan hati.

Saat kondisi tersulit menghadap. “Menyerah nih?” Lantas aku menjawab, “engga, aku engga menyerah kok.” Bagaimana aku harus berjuang, sementara ragaku memburu bayang-bayang, dan pikiranku mengembara tiada arah. Lantas apa maksud pertanyaan itu? Aku masih bertanya-tanya, entah sampai kapan, sampai ajal menjelang.

Masih adakah cinta yang disebutkan Cinta, bila kasih sayang kehilangan makna? Ternyata mengagungkan cinta, harus ditebus dengan duka-lara… Tetapi akan tetap kuhayati, hikmah sakit hati ini.  (Ebiet G. Ade – [tidak untuk dinyanyikan]).

Posted in Memory & Experience, Reflection | Leave a Comment »

Alhamdulillah, Inilah Hikmah Dikecewakan

Posted by Darwis Suryantoro on December 5, 2011


Ya Allah Yaa Rabb, berikanlah jalan kemuliaan dan kebaikan, serta petunjukMu yang paling lurus bagi muslim/ muslimah siapapun yang pernah menyakitiku.

Allah, aku bersyukur atas semua nikmat dan karuniaMu. Kuharap Engkau memaafkan semua kekhilafanku ini. Hari ini aku bersyukur kepadamu atas semua isyarat yang telah Kau tunjukkan kepadaku. Sebelum aku jauh melangkah, Engkau telah memberikan peringatan yang sangat berarti buatku.

Hari ini pula ingin kusampaikan kepada dunia bahwa bersabar adalah kunci menuju kebahagiaan selanjutnya, bahwa ikhlas adalah kunci menuju ketentraman hati berikutnya, bahwa jujur adalah kunci keanggunan diri dan kesuksesan dunia akherat.

Tidak setiap orang memberikan kesempatan kepada kita untuk menunjukkan semua kebaikan kita terhadap orang yang dituju. Celakanya adalah, ketika kita berbuat kesalahan satu saja yang kiranya manusia mampu memaafkan, malah dianggap hilang semua kebaikan kita di masa lalu. Iya, benar, pernahkah kita dilupakan orang begitu saja ketika kita berjuang dan berkorban untuk kebaikannya? Pernahkah kita dikorbankan untuk menjadi yang terlupakan ketika orang lain memintanya untuk melupakan semua kebaikan kita?

Aku ingin beritakan kepada dunia bahwa komitmen adalah janji yang kuat, dan itu berarti hutang ketika kita tidak berniat dan bersungguh-sungguh memperjuangkannya, apalagi melupakannya. Inilah dua peristiwa besar berkaitan dengan komitmen yang terpatahkan, lebih tepatnya dipatahkan. Dipatahkan karena ia melupakan semuanya, meniatkan untuk melupakan semuanya, meniatkan diri untuk melupakan semuanya, meniatkan diri untuk melupakan semuanya… Fa haarun ‘alaikum bagi siapapun yang telah memperlakukan aku seperti ini. Dan aku benar-benar memohon kepada Allah untuk menyadarkannya, melalui peringatan-peringatan yang sekiranya kelak mampu ia pahami, apa itu arti komitmen, sehingga peristiwa yang ia alami, membuatnya lebih menjaga dan mengerti, bahwa setiap orang butuh untuk dihargai, dan ia dapat memanusiakan manusia. Semoga ia menjadi lebih baik atas semua peringatan dan pelajaran yang Insya Allah akan dialami olehnya.

Sungguh aku tidak memiliki rasa dendam yang berkepanjangan. Aku hanya memohon kepadaNya, kepada Rabbku yang memiliki segala kuasa, agar sekiranya ia mengerti, ia memahami, dan mampu mengambil resiko dan hikmah, atas apa yang pernah ia janjikan kepadaku sebagai niat yang baik, namun ia patahkan, lagi-lagi dengan pernyataan yang hanya menyandarkan kepada kepentingannya sendiri, melupakan semuanya.

Allah, aku jadi mengerti,

bahwa tidak setiap pengorbanan yang aku lakukan harus terbalaskan oleh orang yang aku berkorban kepadanya, bahwa tidak setiap perjuangan yang aku lakukan harus mendapat penghargaan oleh orang yang aku berjuang untuk kebaikan dan kebahagiaannya.

Allah, jadikan kepada siapapun yang pernah mengecewakanku, menjadi lebih baik atas semua peringatan dan pelajaran yang Kau berikan kelak (sungguh aku tak mengetahui apa yang akan terjadi di masa mendatang karena ini adalah ketentuanmu Ya Rabb). Namun berserahku kuwujudkan dengan doa-doaku kepadaMu Yaa Rahiim, sebagai seorang hamba yang lemah dan merasa terdzalimi atas semua perlakuan seseorang yang pernah melukai dan mengecewakanku.

Ya Allah, ternyata mencari ilmu ikhlas itu sangatlah berat. Kuasakan kepadaku Ya Allah, sampaikan ilmu itu menembus palung hatiku dan inti pikiranku, sehingga berserahku terhadap semua masalahku adalah total kepadaMu… Allah, aku ingin semua yang terbaik dariMu, bimbinglah aku menuju jalanMu yang paling lurus Yaa Rabb, Ihdinas shiraatal mustaqiim, wa irhamna yaa arhamar raahimiin. Allahumma amin…

Posted in Memory & Experience, Reflection | Tagged: | Leave a Comment »

Tangisan Ukhuwah

Posted by Darwis Suryantoro on November 19, 2011


Tulisan ini ditujukan untuk siapapun yang ingin dimengerti tapi tak pernah punya rasa untuk mengerti, untuk siapapun yang ingin dikasihi tapi tak pernah punya rasa untuk mengasihi, untuk siapapun yang menginginkan dikasihani tapi tak punya rasa mengasihani, untuk siapapun yang mendamba-dambakan pentingnya ukhuwah dan silaturrahim namun ia sendiri tak menjunjungnya dengan baik, untuk SIAPAPUN YANG INGIN MELUPAKAN SEMUA KEBAIKAN SESEORANG DALAM IKATAN UKHUWAH ISLAMIYAH, untuk siapapun yang pernah berkata: “Apa sih maunya orang itu? aku udah niat untuk melupakan semua.” (Inikah yang disebut dengan kelembutan hati? Ya Allah, sungguh kasar perkataan ini).

———————————————————————————————————————————–

Seperih rasa sakit.. Sungguh, jauh berbeda dari hari sebelumnya. Rasanya, air mata tak ingin berdiam diri, melepas diri, menangis. Dan aku tahu, saat itu, ada perih yang terasa menyayat hati. Dan aku paham, ukhuwah itu tidaklah sunyi dari uji.

“karena saat ikatan melemah, saat keakraban merapuh

Saat salam terasa menyakitkan, saat kebersamaan serasa siksaan

Saat pemberian bagai bara api, saat kebaikan justru melukai

Aku tahu, yang rombeng bukan ukhuwah kita

Hanya iman-iman kita yang sedang sakit, atau mengerdil

Mungkin dua-duanya, mungkin kau saja

Tentu lebih sering, imankulah yang compang-camping ,,, “

(Salim A Fillah )

Yah, benar..

Imanku sedang sakit, amalanku menurun dari semangat

Yah benar..

Akulah yang sebenarnya tersalah, akulah  yang pantasnya terdakwa.

Begitulah ukhuwah, atmosfer yang terkadang berganti. Menyengat, menyayat hati hingga sesekali menghalau air mata yang menandakan kesedihan.

Mungkin, aku yang tak paham bahwa sahabatku juga tak  lepas dari ujiNya. Hingga terkadang sedih menyergapnya, masih saja kutambah dengan ketidakpahamanku. Dan sungguh, aku juga tak lepas dari ujiNya. Hingga terkadang sedih sedang berhadir bertemu dengan ketidaktahuanmu. Dan akhirnya, harus kita tahu, ukhuwah itu sedang diuji. Saat ketidakpahamanku  dan ketidaktahuanmu menyatu tanpa melebur. Kita mungkin tahu, tapi tidak mau tahu.

Apakah cinta dalam ukhuwah itu ada hanya ketika hati  tentram?

Apakah cinta dalam ukhuwah itu hadir hanya saat hati bahagia?

Lalu, kemana ia saat hati gerah memanas?

Lalu, kemana ia saat hati tangis memerih?

Mungkin, ia lagi bersembunyi, menghilang.

Mungkin akan kembali, mungkin tidak.

Begitulah ukhuwah, ia tak sepi dari uji.

Begitulah sakitnya rasa cinta dalam ukhuwah, kala ia tak lagi sama dengan sebelumnya, hati terasa memerih, memerah tangis. Kala kata-kata mulai tidak seperti biasanya, segeralah hati merundung sedih. Kalau lah tidak ada rasa cinta, sungguh itu takkan terjadi, namun apakah harus bahagia atau bersedih?

“Abu Bakr bersimpuh lalu menggenggam tangan sang Nabi. Ditatapnya mata suci itu dalam-dalam. ‘antara aku dan putra Al-Khattab,’ lirihnya, ‘ada kesalahpahaman. Lalu dia marah dan menutup pintu rumah. Aku merasa menyesal. Maka ku ketuk pintunya, kuucapkan salam berulangkali untuk memohon maafnya. Tapi, dia tidak membukanya, tak menjawabku, dan tak juga memaafkanku.’

Tepat ketika Abu Bakr berkisah, ‘Umar ibn Khattab datang dengan resah. ‘sungguh aku di utus pada kalian,‘ sang nabi bersabda menghardik, lalu kalian berkata, ‘engkau dusta!’

Wajah beliau tampak memerah, campuran antara murka dan rasa malunya yang lebih dalam dibanding gadis dalam pingitan.

‘hanya Abu bakr seorang,‘ sambung beliau, ‘yang langsung mengiyakan,‘ engkau benar ! ’lalu dia membelaku dengan seluruh jiwa dan hartanya. Masihkah kalian tidak takut pada Allah untuk menyakiti sahabatku?’

‘Umar berlinang, beristighfar dan berjalan bersimpuh mendekat. Tetapi tangis Abu Bakr lebih keras, derai air matanya bagai kaca jendela lepas. ‘tidak ya Rasulullah. Tidak. Ini bukan salahnya,‘ serunya terpatah-patah isak. ‘Demi Allah akulah yang memang yang keterlaluan.‘ lalu dia pun memeluk ‘Umar, menenangkan bahu yang terguncang. Mereka menyatukan rasa dalam dekapan ukhuwah, menyembuhkan luka.“

Dan lihatlah, insan-insan terbaik ini pun tak lepas dari uji dalam ukhuwah mereka. Dan begitu pun kita, dan disini aku berada di posisi ‘Umar yang (mungkin) menyakiti hambaNya, dan disini aku berada di posisi Abu  Bakr yang (mungkin) memang keterlaluan.

“Masihkah aku tidak takut menyakiti hamba Allah yang dicintaiNya, yang berkorban di jalanNya?“

Sungguh, sebenarnya aku takut. Semoga aku berada diantara kemaafan sahabat-sahabatku atas ukhuwah yang belum kutunaikan haknya. Dan ketahuilah, kita hidup dalam kemaafanNya.

Ya Rabb..

Izinkan aku mencintai sahabat-sahabatku baik di kala ia ridho atasku dan baik di kala ia enggan atasku..

Izinkan aku mengasihi sahabat-sahabatku baik di kala ia bahagia denganku dan baik di kala ia benci denganku..

Izinkan kami mencintai karenaMu, hingga ujian dalam ukhuwah ini bisa kami lewati dengan kefahaman kami dan keridhoanMu.

fimadani dot com

Posted in Memory & Experience | 1 Comment »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.